Retina adalah lapisan tipis yang terletak di bagian terdalam bola mata dan memiliki peranan sangat penting dalam proses penglihatan. Fungsinya adalah menerima cahaya dari luar, lalu mengubahnya menjadi sinyal saraf yang akan diteruskan ke otak. Melalui lapisan fotoreseptor, retina mengelola cahaya agar penglihatan kita menjadi jelas dan tajam, termasuk dalam hal warna serta intensitasnya. Ketika retina mengalami kerusakan, maka kemampuan melihat pun dapat terganggu secara signifikan.
Salah satu kondisi serius yang dapat terjadi pada retina adalah ablasio retina. Ini adalah gangguan ketika retina terlepas dari bagian belakang bola mata. Saat retina terlepas, pasokan oksigen dan nutrisi ke sel-sel saraf mata menjadi terganggu. Hal ini dapat berujung pada hilangnya penglihatan, baik sebagian maupun secara total, tergantung pada seberapa besar area retina yang terlepas.
Ablasio retina tergolong kondisi darurat medis. Jika mengalami perubahan penglihatan secara tiba-tiba, segera cari pertolongan medis. Penanganan yang lambat dapat meningkatkan risiko kehilangan penglihatan permanen. Gangguan ini dialami sekitar 0,3 persen populasi, dan lebih umum terjadi pada individu lansia berusia 60 hingga 70 tahun. Pria dilaporkan lebih sering mengalaminya dibandingkan wanita.
Yang membuat kondisi ini berbahaya adalah karena sering kali tidak menimbulkan rasa sakit, sehingga banyak penderita tidak menyadarinya sejak awal. Namun, ada beberapa gejala yang dapat menjadi peringatan, seperti pandangan menjadi buram, kehilangan sebagian bidang penglihatan, munculnya kilatan cahaya secara tiba-tiba, bagian penglihatan tampak seperti tertutup tirai, area gelap dalam pandangan, serta melihat banyak floaters atau bayangan seperti benang dan titik-titik hitam yang melayang-layang di depan mata.
Ablasio retina dapat terbagi menjadi tiga jenis. Pertama adalah ablasio retina regmatogen, yaitu kondisi yang disebabkan oleh robekan atau lubang pada retina. Melalui lubang ini, cairan vitreus dapat masuk ke belakang retina dan memisahkannya dari lapisan yang menyuplai nutrisi dan oksigen. Ini adalah tipe ablasio retina yang paling umum terjadi. Kedua adalah ablasio retina traksi, yang terjadi akibat jaringan pada permukaan retina berkontraksi dan menarik retina dari tempatnya. Kondisi ini sering dikaitkan dengan komplikasi diabetes. Ketiga adalah ablasio retina eksudatif, yang terjadi akibat penumpukan cairan di bawah retina yang menyebabkan pemisahan tanpa adanya robekan. Umumnya disebabkan oleh peradangan, infeksi, tumor, atau tekanan darah tinggi.
Beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami ablasio retina antara lain usia di atas 50 tahun, riwayat ablasio retina pada salah satu mata, memiliki keluarga dengan riwayat serupa, rabun jauh yang berat (lebih dari 6 dioptri), pernah menjalani operasi mata seperti operasi katarak, mengalami cedera mata berat, atau memiliki riwayat penyakit mata lainnya.
Pilihan pengobatan untuk ablasio retina sangat bergantung pada kondisi pasien. Jika ditemukan adanya robekan atau lubang namun retina belum sepenuhnya terlepas, dokter dapat melakukan tindakan laser fotokoagulasi. Laser akan membentuk jaringan parut di sekitar robekan agar retina tetap menempel pada tempatnya.
Jika retina sudah terlepas, maka diperlukan tindakan pembedahan. Beberapa metode operasi yang dapat dilakukan antara lain:
- Pneumatic retinopexy, yaitu penyuntikan gelembung gas ke dalam bola mata agar menekan retina ke posisi semula. Umumnya digunakan jika area retina yang terlepas relatif kecil.
- Vitrektomi, yaitu pengangkatan cairan vitreus dan jaringan yang menarik retina. Setelah itu, gelembung gas atau silikon disuntikkan untuk menahan retina. Bila digunakan silikon, maka pasien perlu menjalani prosedur tambahan untuk mengangkatnya setelah 3 hingga 6 bulan.
- Scleral buckling, yaitu pemasangan ikat silikon di bagian luar putih mata (sklera) agar dinding mata menekan retina ke tempatnya. Jika pelepasan retina cukup luas, silikon dapat diletakkan secara permanen melingkari mata tanpa mengganggu penglihatan.
Meski tidak semua kasus ablasio retina bisa dicegah, terdapat langkah-langkah penting yang dapat membantu menurunkan risikonya. Pertama, segera lakukan pemeriksaan ke dokter mata jika muncul floaters, kilatan cahaya, atau perubahan lapang pandang. Kedua, lakukan pemeriksaan mata secara rutin setidaknya sekali dalam setahun. Bagi penderita diabetes, pemeriksaan perlu dilakukan lebih sering. Ketiga, jaga kadar gula darah dan tekanan darah agar pembuluh darah retina tetap sehat. Keempat, gunakan pelindung mata ketika berolahraga atau melakukan aktivitas yang berisiko terhadap mata.
Menjaga kesehatan mata tidak boleh diabaikan. Gangguan penglihatan yang tampak sepele bisa saja menjadi gejala awal dari kondisi serius. Pemeriksaan rutin minimal sekali setahun sangat dianjurkan agar penglihatan tetap optimal sepanjang waktu.
Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:
(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)
Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia











