Dapatkan Informasi Mengenai kesehatan Mata dan Informasi Lainnya

Info Untuk Anda

Semoga Informasi ini bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh seputar edukasi tentang kesehatan mata kita.

Category filter:Allkesehatan mataPengumumanProduct KnowledgeUncategorizedVideo Edukasi
No more posts

5-Manfaat-Kacamata-Anti-Radiasi-untuk-Menjaga-Kesehatan-Mata.png
31/Mar/2026

Di era digital saat ini, penggunaan gadget seperti smartphone, laptop, dan televisi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, paparan layar yang berlebihan dapat memberikan dampak pada kesehatan mata, terutama akibat cahaya biru (blue light) dan radiasi sinar ultraviolet (UV).

Salah satu solusi yang banyak digunakan adalah kacamata anti radiasi. Lantas, apa saja manfaatnya bagi kesehatan mata?

Apa Itu Kacamata Anti Radiasi?

Kacamata anti radiasi adalah kacamata dengan lensa khusus yang dirancang untuk mengurangi paparan cahaya biru dari layar digital serta melindungi mata dari sinar UV.

Dengan perlindungan ini, mata menjadi lebih nyaman saat beraktivitas, baik di depan layar maupun di luar ruangan.

 

Manfaat Kacamata Anti Radiasi

  1. Mengurangi Kelelahan Mata

Salah satu manfaat utama kacamata anti radiasi adalah membantu mengurangi kelelahan mata digital (digital eye strain) akibat terlalu lama menatap layar.

Gejala seperti mata pegal, perih, dan tegang dapat berkurang dengan penggunaan kacamata ini.

  1. Melindungi Mata dari Sinar UV

Kacamata anti radiasi mampu menghalau sinar ultraviolet yang dapat merusak struktur mata, termasuk kornea dan lensa.

Perlindungan ini penting, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

  1. Mencegah Risiko Kerusakan Mata

Paparan radiasi dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan mata seperti katarak dan degenerasi makula. Kacamata anti radiasi membantu melindungi retina dari kerusakan tersebut.

  1. Meningkatkan Kualitas Tidur

Cahaya biru dari gadget dapat mengganggu produksi hormon melatonin yang mengatur tidur. Dengan mengurangi paparan cahaya biru, kacamata ini dapat membantu meningkatkan kualitas tidur.

  1. Meningkatkan Kenyamanan Visual

Kacamata anti radiasi juga dapat mengurangi silau dan meningkatkan kontras, sehingga tampilan layar lebih nyaman dilihat dan tidak membuat mata cepat lelah.

 

Apakah Kacamata Anti Radiasi Selalu Diperlukan?

Penggunaan kacamata anti radiasi sangat dianjurkan bagi:

  • Pekerja yang sering menggunakan komputer
  • Pelajar yang belajar dengan perangkat digital
  • Pengguna gadget dalam waktu lama

Namun, penting untuk diketahui bahwa keluhan mata lelah tidak hanya disebabkan oleh radiasi, tetapi juga karena durasi penggunaan layar yang terlalu lama.

Karena itu, penggunaan kacamata tetap perlu diimbangi dengan kebiasaan sehat, seperti mengatur waktu penggunaan gadget.

 

Tips Menjaga Kesehatan Mata

Selain menggunakan kacamata anti radiasi, beberapa langkah berikut juga penting dilakukan:

  • Terapkan aturan 20-20-20 (setiap 20 menit, lihat objek jauh selama 20 detik)
  • Batasi penggunaan gadget
  • Konsumsi makanan bergizi untuk kesehatan mata
  • Periksakan mata secara rutin

 

Kacamata anti radiasi memiliki berbagai manfaat, mulai dari mengurangi kelelahan mata, melindungi dari sinar UV, hingga meningkatkan kenyamanan saat menggunakan gadget.

Meski demikian, menjaga kesehatan mata tidak cukup hanya dengan menggunakan kacamata. Pola hidup sehat dan penggunaan gadget yang bijak tetap menjadi kunci utama untuk menjaga penglihatan tetap optimal.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


4-Tips-Mencegah-Trakhoma-yang-Perlu-Diketahui.png
30/Mar/2026

Trakhoma merupakan infeksi mata akibat bakteri Chlamydia trachomatis yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan jika tidak ditangani dengan baik. Penyakit ini mudah menular, terutama di lingkungan dengan kebersihan dan sanitasi yang kurang baik. Oleh karena itu, pencegahan menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan mata.

Berikut beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah trakhoma.

  1. Menjaga Kebersihan Wajah dan Tangan

Kebersihan diri merupakan kunci utama dalam mencegah penularan trakhoma. Membiasakan mencuci wajah dan tangan dengan air bersih dapat membantu menghilangkan bakteri yang menempel di area mata.

Hal ini sangat penting, terutama pada anak-anak yang lebih sering menyentuh wajah dan berisiko tinggi tertular infeksi.

  1. Tidak Berbagi Barang Pribadi

Trakhoma dapat menular melalui benda yang terkontaminasi, seperti handuk, sapu tangan, atau pakaian. Oleh karena itu, sebaiknya hindari berbagi barang pribadi dengan orang lain, terutama jika ada anggota keluarga yang mengalami infeksi mata.

Langkah sederhana ini dapat membantu memutus rantai penularan.

  1. Menjaga Kebersihan Lingkungan dan Sanitasi

Lingkungan yang kotor dan padat penduduk meningkatkan risiko penyebaran trakhoma. Kurangnya akses air bersih dan sanitasi yang buruk juga menjadi faktor utama penularan penyakit ini.

Upaya yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan
  • Mengelola sampah dengan baik
  • Memastikan ketersediaan air bersih

Lingkungan yang bersih membantu mengurangi risiko penyebaran bakteri.

  1. Mengendalikan Lalat dan Sumber Penularan

Lalat dapat menjadi perantara penyebaran bakteri penyebab trakhoma. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya lalat.

Beberapa cara yang bisa dilakukan:

  • Menutup makanan dengan baik
  • Membersihkan sampah secara rutin
  • Mengelola limbah rumah tangga dengan benar

 

Pentingnya Pencegahan Sejak Dini

Trakhoma biasanya dimulai dengan gejala ringan seperti mata gatal dan iritasi, tetapi infeksi berulang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata.

Karena itu, pencegahan sejak dini sangat penting untuk menghindari komplikasi serius, termasuk kebutaan.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Trakoma-Trachoma-Infeksi-Mata-Penyebab-Kebutaan-yang-Dapat-Dicegah.png
24/Mar/2026

Trakhoma merupakan infeksi mata yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis dan menjadi salah satu penyebab kebutaan yang dapat dicegah di dunia. Penyakit ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berkembang secara bertahap. Oleh karena itu, penting untuk memahami setiap tahapannya agar penanganan dapat dilakukan sejak dini.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), trakhoma berkembang melalui lima tahap, mulai dari infeksi ringan hingga kerusakan mata yang serius.

 

Tahap 1: Peradangan Folikular

Tahap awal trakhoma ditandai dengan munculnya folikel atau benjolan kecil di bagian dalam kelopak mata atas. Folikel ini berisi sel darah putih sebagai respons tubuh terhadap infeksi bakteri.

Pada tahap ini, gejala yang dirasakan biasanya ringan, seperti:

  • Mata gatal
  • Iritasi ringan
  • Mata terasa tidak nyaman

Karena gejalanya ringan, kondisi ini sering tidak disadari.

 

Tahap 2: Peradangan Intens

Jika tidak ditangani, infeksi akan berkembang menjadi peradangan yang lebih berat. Kelopak mata menjadi bengkak, menebal, dan lebih teriritasi.

Pada tahap ini, infeksi lebih aktif dan sangat menular. Gejala yang muncul bisa berupa:

  • Mata merah
  • Nyeri
  • Sensitif terhadap cahaya

 

Tahap 3: Terbentuknya Jaringan Parut

Infeksi berulang dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut di bagian dalam kelopak mata.

Jaringan parut ini dapat mengubah bentuk kelopak mata dan mulai menimbulkan gangguan pada permukaan mata.

 

Tahap 4: Bulu Mata Tumbuh ke Dalam (Trikiasis)

Pada tahap ini, perubahan bentuk kelopak mata menyebabkan bulu mata tumbuh ke arah dalam dan menggesek permukaan kornea.

Akibatnya, penderita akan merasakan:

  • Nyeri hebat
  • Mata berair
  • Iritasi terus-menerus

Gesekan bulu mata ini dapat merusak kornea jika tidak segera ditangani.

Tahap 5: Kornea Menjadi Keruh (Opasitas)

Tahap terakhir adalah kerusakan pada kornea akibat peradangan dan gesekan yang terus-menerus. Kornea menjadi keruh sehingga cahaya tidak dapat masuk dengan baik ke dalam mata.

Pada kondisi ini, penderita dapat mengalami:

  • Penurunan penglihatan
  • Gangguan penglihatan berat
  • Kebutaan permanen

 

Pentingnya Deteksi dan Penanganan Dini

Trakhoma adalah penyakit yang berkembang perlahan, tetapi dapat berakibat serius jika tidak ditangani. Penanganan pada tahap awal dapat mencegah komplikasi seperti jaringan parut hingga kebutaan.

WHO juga merekomendasikan strategi pencegahan melalui kebersihan wajah, penggunaan antibiotik, perbaikan sanitasi, serta tindakan operasi pada kasus lanjut.

 

Trakhoma berkembang melalui lima tahap, mulai dari peradangan ringan hingga kerusakan kornea yang dapat menyebabkan kebutaan. Mengenali tanda-tanda sejak dini sangat penting agar pengobatan dapat dilakukan sebelum kondisi menjadi lebih parah.

Menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan mata merupakan langkah penting untuk mencegah dampak serius dari penyakit ini.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Waspada-Trakhoma-Infeksi-Mata-yang-Bisa-Menyebabkan-Kebutaan.png
22/Mar/2026

Trakhoma merupakan salah satu penyakit mata yang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan. Penyakit ini sering kali berawal dari keluhan ringan, seperti mata gatal atau iritasi, tetapi dapat berkembang menjadi kondisi serius jika tidak segera ditangani.

Apa Itu Trakhoma?

Trakhoma adalah infeksi mata yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Infeksi ini menyerang bagian dalam kelopak mata dan dapat menimbulkan peradangan pada mata.

Penyakit ini termasuk menular dan menjadi salah satu penyebab kebutaan yang cukup tinggi di dunia, terutama di daerah dengan sanitasi yang kurang baik.

Bagaimana Trakhoma Menular?

Trakhoma dapat menyebar dengan mudah melalui:

  • Kontak langsung dengan mata, hidung, atau cairan tubuh penderita
  • Tangan yang terkontaminasi bakteri lalu menyentuh mata
  • Penggunaan barang bersama, seperti handuk atau sapu tangan
  • Perantara lalat yang membawa bakteri ke area mata

Kondisi lingkungan yang kurang bersih dan padat penduduk juga meningkatkan risiko penularan penyakit ini.

Gejala Trakhoma yang Perlu Diwaspadai

Gejala trakhoma biasanya berkembang secara bertahap. Pada tahap awal, keluhan yang muncul sering kali ringan, seperti:

  • Mata terasa gatal dan iritasi
  • Mata merah
  • Kelopak mata bengkak
  • Keluar cairan atau nanah dari mata

Jika tidak ditangani, gejala dapat berkembang menjadi:

  • Nyeri pada mata
  • Sensitif terhadap cahaya
  • Penglihatan kabur
  • Kerusakan pada kornea

Dalam kondisi yang lebih parah, infeksi berulang dapat menyebabkan kelopak mata terlipat ke dalam sehingga bulu mata menggores kornea dan berujung pada kebutaan permanen.

Siapa yang Berisiko Mengalami Trakhoma?

Trakhoma lebih sering terjadi pada:

  • Anak-anak, terutama usia 3–5 tahun
  • Orang yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk
  • Masyarakat di daerah padat penduduk
  • Individu dengan kebersihan diri yang kurang terjaga

Wanita juga cenderung lebih berisiko karena sering berinteraksi dengan anak-anak yang lebih rentan terinfeksi.

Mengapa Trakhoma Berbahaya?

Jika tidak diobati, trakhoma dapat menyebabkan:

  • Luka dan jaringan parut pada kelopak mata
  • Bulu mata tumbuh ke dalam (trichiasis)
  • Kerusakan kornea
  • Kebutaan permanen

Kebutaan akibat trakhoma tidak dapat disembuhkan, sehingga pencegahan dan penanganan dini sangat penting.

Cara Mencegah Trakhoma

Pencegahan trakhoma dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan, antara lain:

  • Mencuci tangan dan wajah secara rutin
  • Tidak berbagi handuk atau barang pribadi
  • Menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi
  • Mengendalikan populasi lalat
  • Menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke tenaga kesehatan jika mengalami:

  • Mata gatal dan iritasi yang tidak membaik
  • Keluar cairan atau nanah dari mata
  • Nyeri atau gangguan penglihatan

Penanganan sejak dini dapat mencegah komplikasi yang lebih serius.

 

Trakhoma adalah infeksi mata yang disebabkan oleh bakteri dan dapat menular dengan mudah, terutama di lingkungan yang kurang bersih. Meskipun awalnya tampak ringan, penyakit ini dapat berkembang menjadi kondisi serius hingga menyebabkan kebutaan permanen.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Dampak-Mengucek-Mata-Terlalu-Sering-Kebiasaan-Sepele-yang-Bisa-Berbahaya.png
18/Mar/2026

Mengucek mata adalah kebiasaan yang sering dilakukan saat mata terasa gatal, lelah, atau mengantuk. Meski dapat memberikan rasa lega sementara, kebiasaan ini ternyata bisa berdampak buruk jika dilakukan terlalu sering atau terlalu keras. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa saja risiko dari kebiasaan mengucek mata agar kesehatan mata tetap terjaga.

 

Mengapa Kita Sering Mengucek Mata?

Mengucek mata merupakan respons alami tubuh untuk mengatasi rasa tidak nyaman, seperti gatal, kering, atau adanya benda asing di mata. Selain itu, tekanan saat mengucek mata juga dapat merangsang saraf tertentu sehingga memberikan efek rileks sementara.

Namun, kebiasaan ini sebaiknya tidak dilakukan berulang kali karena dapat memicu berbagai gangguan kesehatan pada mata.

 

Dampak Buruk Mengucek Mata Terlalu Sering

Berikut beberapa dampak yang dapat terjadi akibat kebiasaan mengucek mata:

  1. Infeksi Mata

Tangan yang digunakan untuk mengucek mata sering kali mengandung kuman, bakteri, atau virus. Jika mata disentuh tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, kuman tersebut dapat masuk ke mata dan menyebabkan infeksi, seperti konjungtivitis (mata merah).

  1. Iritasi dan Mata Merah

Gesekan yang terlalu kuat dapat menyebabkan mata menjadi merah, perih, dan tidak nyaman. Iritasi ini dapat terjadi karena lapisan pelindung mata terganggu akibat tekanan berulang.

  1. Pembuluh Darah Pecah

Mengucek mata dengan kuat dapat meningkatkan tekanan pada bola mata, sehingga pembuluh darah kecil di mata bisa pecah. Akibatnya, bagian putih mata tampak kemerahan (mata berdarah).

  1. Kerusakan Kornea

Kornea adalah bagian mata yang sangat sensitif. Gesekan atau tekanan dari jari, terutama jika kuku panjang, dapat menggores atau merusak kornea. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini dapat mengganggu penglihatan.

  1. Memperparah Alergi dan Mata Kering

Jika mata gatal disebabkan oleh alergi, mengucek mata justru dapat memperburuk kondisi karena memicu pelepasan zat yang menyebabkan rasa gatal semakin meningkat. Selain itu, kebiasaan ini juga dapat memperparah mata kering.

  1. Meningkatkan Risiko Penyakit Mata

Mengucek mata terlalu sering dapat meningkatkan tekanan di dalam bola mata, yang berisiko memperburuk kondisi seperti glaukoma. Selain itu, kebiasaan ini juga dapat memicu gangguan kornea seperti keratokonus, yaitu perubahan bentuk kornea yang dapat mengganggu penglihatan.

  1. Lingkaran Hitam di Bawah Mata

Tekanan berulang pada area sekitar mata dapat merusak pembuluh darah kecil dan menyebabkan munculnya lingkaran hitam atau kantung mata.

 

Cara Menghindari Kebiasaan Mengucek Mata

Untuk menjaga kesehatan mata, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan sebagai alternatif selain mengucek mata:

  • Cuci tangan sebelum menyentuh area mata
  • Gunakan tetes mata jika mata terasa kering
  • Kompres mata dengan air dingin untuk mengurangi gatal
  • Istirahatkan mata dari layar gadget secara berkala
  • Hindari mengucek mata saat menggunakan lensa kontak

Jika keluhan mata tidak membaik, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Mengucek mata memang memberikan rasa nyaman sesaat, tetapi kebiasaan ini dapat menimbulkan berbagai dampak buruk jika dilakukan terlalu sering. Mulai dari infeksi, iritasi, hingga kerusakan kornea dan gangguan penglihatan dapat terjadi akibat kebiasaan ini.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Keratokonus-Penyebab-Gejala-dan-Cara-Penanganannya.png
17/Mar/2026

Keratokonus adalah salah satu gangguan mata yang dapat memengaruhi kualitas penglihatan seseorang. Kondisi ini terjadi ketika kornea, yaitu lapisan bening di bagian depan mata, menjadi semakin tipis dan menonjol keluar hingga berbentuk seperti kerucut. Perubahan bentuk tersebut menyebabkan cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus dengan baik sehingga penglihatan menjadi kabur atau terdistorsi.

Penyakit ini bersifat progresif, artinya dapat berkembang secara perlahan seiring waktu. Jika tidak ditangani dengan baik, keratokonus dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang semakin berat.

 

Apa Itu Keratokonus?

Kornea berfungsi memfokuskan cahaya yang masuk ke mata agar dapat diteruskan ke retina dan diproses menjadi gambar yang jelas. Pada kondisi normal, kornea memiliki bentuk kubah yang halus.

Pada keratokonus, kornea menipis dan berubah bentuk menjadi kerucut, sehingga cahaya yang masuk tidak dapat difokuskan dengan baik ke retina. Akibatnya, penderita dapat mengalami penglihatan kabur, distorsi bentuk objek, atau peningkatan mata minus dan silinder yang tidak teratur.

Kondisi ini biasanya mulai muncul pada masa remaja atau awal usia dewasa dan dapat memengaruhi satu atau kedua mata.

 

Penyebab Keratokonus

Penyebab pasti keratokonus belum sepenuhnya diketahui. Namun, beberapa faktor diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, antara lain:

  • Faktor genetik atau riwayat keluarga dengan keratokonus
  • Kebiasaan menggosok mata terlalu sering atau terlalu kuat
  • Alergi mata kronis
  • Penyakit tertentu yang memengaruhi jaringan tubuh

Kombinasi faktor tersebut dapat menyebabkan perubahan pada struktur kornea sehingga kornea menjadi lebih lemah dan mudah berubah bentuk.

 

Gejala Keratokonus

Gejala keratokonus biasanya berkembang secara bertahap. Beberapa keluhan yang sering dialami antara lain:

  • Penglihatan kabur atau tidak fokus
  • Mata menjadi lebih sensitif terhadap cahaya
  • Silau saat melihat cahaya terang
  • Penglihatan ganda atau bayangan pada satu mata
  • Sering mengganti ukuran kacamata karena penglihatan cepat berubah

Pada beberapa kasus, penderita juga dapat mengalami kesulitan melihat pada malam hari. Jika kondisi semakin berat, penglihatan dapat menurun secara signifikan.

 

Bagaimana Keratokonus Didiagnosis?

Diagnosis keratokonus dilakukan oleh dokter spesialis mata melalui beberapa pemeriksaan, seperti:

  • Pemeriksaan ketajaman penglihatan
  • Pemeriksaan kornea menggunakan alat khusus
  • Pemetaan permukaan kornea (corneal topography) untuk melihat bentuk kornea secara detail

Pemeriksaan tersebut membantu dokter menentukan tingkat keparahan keratokonus dan menentukan penanganan yang tepat.

 

Cara Mengatasi Keratokonus

Penanganan keratokonus tergantung pada tingkat keparahan penyakit. Beberapa metode penanganan yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Kacamata atau lensa kontak

Pada tahap awal, penglihatan dapat diperbaiki dengan kacamata atau lensa kontak.

  1. Lensa kontak khusus

Jika keratokonus semakin berkembang, dokter dapat menyarankan penggunaan lensa kontak kaku khusus yang membantu memperbaiki fokus cahaya pada mata.

  1. Corneal cross-linking

Prosedur ini bertujuan untuk memperkuat jaringan kornea sehingga mencegah perubahan bentuk kornea semakin parah.

  1. Implan atau transplantasi kornea

Pada kasus yang berat, dokter mungkin menyarankan prosedur operasi seperti transplantasi kornea untuk mengganti jaringan kornea yang rusak dengan jaringan donor yang sehat.

 

Cara Menjaga Kesehatan Mata

Meskipun tidak semua kasus keratokonus dapat dicegah, beberapa langkah berikut dapat membantu menjaga kesehatan mata:

  • Menghindari kebiasaan menggosok mata terlalu keras
  • Menggunakan kacamata pelindung dari paparan sinar matahari
  • Mengatasi alergi mata dengan pengobatan yang tepat
  • Melakukan pemeriksaan mata secara rutin

Deteksi dini sangat penting agar keratokonus dapat ditangani sejak awal dan mencegah gangguan penglihatan yang lebih berat.

 

Keratokonus adalah gangguan mata yang terjadi akibat penipisan dan perubahan bentuk kornea menjadi kerucut. Kondisi ini dapat menyebabkan penglihatan kabur dan distorsi jika tidak ditangani dengan baik.

Meskipun penyebab pastinya belum diketahui secara pasti, deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat membantu menjaga kualitas penglihatan. Jika mengalami perubahan penglihatan yang tidak biasa atau sering mengganti ukuran kacamata, sebaiknya segera memeriksakan mata ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Mengenal-Gangguan-Mata-yang-Bisa-Terjadi-Selama-Kehamilan.png
14/Mar/2026

Kehamilan menyebabkan berbagai perubahan pada tubuh wanita, mulai dari perubahan hormon hingga metabolisme. Perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi organ reproduksi, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mata dan penglihatan.

Sebagian besar perubahan pada mata selama kehamilan bersifat sementara dan biasanya akan kembali normal setelah persalinan. Namun, dalam beberapa kasus, gangguan penglihatan juga dapat menjadi tanda adanya penyakit atau komplikasi kehamilan yang memerlukan perhatian medis.

 

Perubahan Normal pada Mata saat Hamil

Selama kehamilan, perubahan hormon dapat memengaruhi berbagai bagian mata, seperti kornea, tekanan bola mata, hingga jaringan di sekitar mata. Kondisi ini dapat menyebabkan beberapa perubahan berikut.

  1. Rabun Jauh atau Perubahan Minus Mata

Pada sebagian ibu hamil, penglihatan terhadap benda jauh bisa menjadi kurang jelas. Hal ini terjadi karena perubahan bentuk dan ketebalan kornea yang dipengaruhi oleh perubahan hormon serta retensi cairan dalam tubuh.

Akibatnya, ukuran kacamata minus bisa terasa bertambah sementara. Meski demikian, kondisi ini biasanya akan membaik beberapa minggu setelah melahirkan.

  1. Kelopak Mata Menghitam dan Membengkak

Perubahan hormon selama kehamilan dapat menyebabkan peningkatan pigmentasi kulit, termasuk di sekitar mata. Selain itu, penumpukan cairan dalam tubuh juga bisa membuat kelopak mata tampak lebih menonjol atau bengkak, terutama menjelang persalinan.

  1. Mata Kering

Beberapa ibu hamil juga mengalami mata kering akibat perubahan hormon yang memengaruhi produksi air mata. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, mata terasa perih, atau penglihatan menjadi sedikit kabur.

Mata kering umumnya dapat diatasi dengan penggunaan obat tetes mata yang direkomendasikan oleh dokter.

 

Penyakit Mata yang Bisa Memburuk Saat Hamil

Selain perubahan normal, beberapa penyakit juga dapat memburuk selama kehamilan.

  1. Diabetes dan Retinopati Diabetik

Wanita yang memiliki diabetes berisiko mengalami kerusakan pada retina selama kehamilan, terutama jika kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik.

Oleh karena itu, penderita diabetes disarankan melakukan pemeriksaan mata sebelum merencanakan kehamilan dan secara rutin selama masa kehamilan.

  1. Toksoplasmosis

Infeksi toksoplasmosis yang pernah dialami sebelumnya dapat kembali aktif saat kehamilan karena daya tahan tubuh menurun.

Infeksi ini tidak hanya berbahaya bagi janin, tetapi juga dapat merusak jaringan mata sehingga menyebabkan penglihatan menjadi buram.

 

Komplikasi Kehamilan yang Berdampak pada Mata

Beberapa komplikasi kehamilan juga dapat memengaruhi kesehatan mata dan penglihatan.

  1. Preeklamsia dan Eklamsia

Preeklamsia merupakan kondisi tekanan darah tinggi yang terjadi selama kehamilan. Gangguan ini dapat memengaruhi aliran darah ke berbagai organ tubuh, termasuk mata.

Akibatnya, ibu hamil dapat mengalami penglihatan kabur, melihat kilatan cahaya, hingga kehilangan penglihatan sementara.

  1. Central Serous Chorioretinopathy (CSCR)

CSCR terjadi ketika cairan menumpuk di bawah retina sehingga mengganggu fungsi penglihatan. Kondisi ini dapat membuat objek terlihat lebih kecil atau lebih jauh dari ukuran sebenarnya.

Pada sebagian besar kasus, kondisi ini dapat membaik beberapa bulan setelah persalinan.

  1. Emboli Air Ketuban

Emboli air ketuban merupakan komplikasi langka yang dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, termasuk pembuluh darah di mata. Kondisi ini dapat menimbulkan gangguan penglihatan akibat aliran darah yang terganggu.

 

Kapan Ibu Hamil Perlu Memeriksakan Mata?

Sebagian besar perubahan pada mata selama kehamilan bersifat sementara. Namun, ibu hamil sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami gejala berikut:

  • Penglihatan kabur yang tiba-tiba
  • Melihat kilatan cahaya atau bintik-bintik
  • Kehilangan sebagian penglihatan
  • Nyeri pada mata

Pemeriksaan rutin selama kehamilan sangat penting untuk mendeteksi kemungkinan gangguan kesehatan sejak dini.

 

Kehamilan dapat memengaruhi kesehatan mata dan penglihatan akibat perubahan hormon, metabolisme, serta retensi cairan dalam tubuh. Beberapa perubahan seperti mata kering, penglihatan kabur, atau perubahan minus mata biasanya bersifat sementara dan akan membaik setelah melahirkan.

Namun, gangguan penglihatan juga dapat menjadi tanda adanya penyakit atau komplikasi kehamilan. Oleh karena itu, ibu hamil dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami keluhan pada mata atau penglihatan.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Mengenal-Central-Retinal-Artery-Occlusion-CRAO-Stroke-Mata-yang-Menyebabkan-Kehilangan-Penglihatan-Mendadak.png
13/Mar/2026

Gangguan penglihatan yang terjadi secara tiba-tiba sering menjadi tanda adanya masalah serius pada mata. Salah satu kondisi yang dapat menyebabkan hal tersebut adalah Central Retinal Artery Occlusion (CRAO) atau yang sering disebut sebagai stroke mata.

CRAO merupakan kondisi darurat pada mata yang terjadi ketika aliran darah pada arteri retina sentral tersumbat, sehingga retina tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup. Kondisi ini dapat menyebabkan kehilangan penglihatan secara mendadak dan sering kali permanen jika tidak segera ditangani.

 

Apa Itu CRAO?

Central Retinal Artery Occlusion (CRAO) adalah penyumbatan pada arteri retina sentral, yaitu pembuluh darah utama yang membawa darah ke retina. Retina berfungsi menangkap cahaya dan mengirimkan sinyal visual ke otak.

Jika aliran darah terhenti, jaringan retina mengalami iskemia atau kekurangan oksigen, sehingga sel-sel retina dapat rusak dalam waktu singkat. Akibatnya, pasien biasanya mengalami kehilangan penglihatan secara tiba-tiba pada satu mata tanpa rasa nyeri.

Karena mekanismenya mirip dengan stroke pada otak, CRAO sering disebut sebagai “ocular stroke” atau stroke pada mata.

 

Seberapa Sering CRAO Terjadi?

CRAO termasuk penyakit yang jarang terjadi, tetapi memiliki dampak yang sangat serius terhadap penglihatan.

Penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian CRAO sekitar 1–2 kasus per 100.000 orang setiap tahun, dan lebih sering terjadi pada orang usia lanjut.

Risiko meningkat seiring bertambahnya usia dan adanya penyakit yang memengaruhi pembuluh darah.

 

Penyebab CRAO

Penyebab paling umum dari CRAO adalah embolus atau bekuan darah yang menyumbat arteri retina. Bekuan tersebut biasanya berasal dari pembuluh darah besar seperti arteri karotis atau dari jantung.

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan atau memicu terjadinya sumbatan tersebut antara lain:

  • Aterosklerosis atau penumpukan plak pada pembuluh darah
  • Penyakit pada arteri karotis
  • Gangguan jantung seperti fibrilasi atrium atau kelainan katup jantung
  • Penyakit radang pembuluh darah seperti giant cell arteritis
  • Gangguan pembekuan darah

Ketika sumbatan terjadi, aliran darah menuju retina terhenti sehingga jaringan retina mengalami kerusakan.

Gejala CRAO

Gejala utama CRAO biasanya muncul secara mendadak dan tanpa rasa nyeri. Beberapa tanda yang sering dialami penderita antara lain:

  • Kehilangan penglihatan secara tiba-tiba pada satu mata
  • Penglihatan menjadi sangat kabur atau gelap
  • Penurunan tajam penglihatan dalam waktu singkat

Sebagian besar pasien mengalami gangguan penglihatan yang sangat berat. Bahkan sekitar 80 persen pasien memiliki ketajaman penglihatan sangat rendah saat pertama kali diperiksa.

 

Diagnosis CRAO

Diagnosis CRAO biasanya dilakukan melalui pemeriksaan mata oleh dokter spesialis mata.

Beberapa metode pemeriksaan yang sering digunakan antara lain:

  1. Funduskopi

Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kondisi retina secara langsung. Pada CRAO, dokter sering menemukan tanda khas berupa “cherry-red spot” pada retina.

  1. Fluorescein Angiography

Pemeriksaan ini digunakan untuk melihat aliran darah pada retina dan mendeteksi adanya gangguan aliran pada pembuluh darah retina.

  1. Optical Coherence Tomography (OCT)

OCT dapat membantu menilai kerusakan pada lapisan retina akibat kekurangan aliran darah.

Pemeriksaan tersebut penting untuk memastikan diagnosis dan menentukan penyebab yang mendasari CRAO.

 

Penanganan CRAO

CRAO merupakan keadaan darurat yang membutuhkan penanganan segera. Prinsip utama penanganan adalah mengembalikan aliran darah ke retina secepat mungkin.

Beberapa terapi yang pernah digunakan antara lain:

  • Terapi trombolitik untuk melarutkan bekuan darah
  • Pemberian oksigen hiperbarik
  • Penurunan tekanan bola mata
  • Pijat bola mata (ocular massage)

Namun hingga saat ini belum ada terapi yang terbukti sepenuhnya efektif, sehingga penanganan sering berfokus pada mencegah kerusakan lebih lanjut dan mengurangi risiko stroke atau penyakit pembuluh darah di masa depan.

 

Risiko Stroke pada Penderita CRAO

CRAO tidak hanya berdampak pada mata, tetapi juga berkaitan dengan penyakit pembuluh darah lainnya.

Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 30 persen pasien CRAO mengalami stroke iskemik pada otak dalam waktu satu minggu setelah gejala muncul.

Karena itu, pasien dengan CRAO biasanya memerlukan evaluasi lebih lanjut terhadap kesehatan pembuluh darah dan jantung.

 

Cara Mencegah CRAO

Karena CRAO berkaitan erat dengan penyakit pembuluh darah, pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah, antara lain:

  • Mengontrol tekanan darah
  • Mengelola kadar gula darah pada penderita diabetes
  • Menjaga kadar kolesterol tetap normal
  • Berhenti merokok
  • Rutin melakukan aktivitas fisik

Gaya hidup sehat dapat membantu mengurangi risiko penyakit pembuluh darah yang menjadi penyebab utama CRAO.

 

Central Retinal Artery Occlusion (CRAO) adalah kondisi serius yang sering disebut sebagai stroke mata. Penyakit ini menyebabkan kehilangan penglihatan secara mendadak akibat tersumbatnya arteri retina.

Karena dapat berhubungan dengan penyakit pembuluh darah dan meningkatkan risiko stroke, CRAO memerlukan penanganan medis segera. Jika mengalami gangguan penglihatan tiba-tiba pada satu mata, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Penglihatan-Tiba-tiba-Kabur-Bisa-Jadi-Central-Serous-Retinopathy.png
11/Mar/2026

Mata merupakan organ penting yang berfungsi menangkap cahaya dan mengubahnya menjadi informasi visual bagi otak. Namun, berbagai gangguan dapat terjadi pada retina, salah satunya adalah Central Serous Retinopathy (CSR).

Central Serous Retinopathy adalah kondisi ketika cairan menumpuk di bawah retina, terutama pada bagian tengah retina yang disebut makula. Penumpukan cairan ini dapat menyebabkan retina sedikit terangkat sehingga mengganggu penglihatan.

Meski sering bersifat sementara, kondisi ini tetap perlu mendapatkan perhatian karena dapat memengaruhi kualitas penglihatan jika tidak ditangani dengan tepat.

 

Apa Itu Central Serous Retinopathy?

Central Serous Retinopathy (CSR), atau juga dikenal sebagai central serous chorioretinopathy, merupakan penyakit mata yang terjadi ketika cairan bocor dari lapisan pembuluh darah di bawah retina (koroid) dan terkumpul di bawah makula.

Makula sendiri berperan penting dalam memberikan penglihatan tajam yang diperlukan untuk membaca, melihat detail, dan mengenali wajah. Ketika cairan menumpuk di area ini, penglihatan dapat menjadi kabur atau terdistorsi.

Kondisi ini paling sering terjadi pada pria usia 20–50 tahun, meskipun wanita juga dapat mengalaminya.

 

Gejala Central Serous Retinopathy

Gejala CSR biasanya muncul secara tiba-tiba dan dapat memengaruhi satu atau kedua mata. Beberapa tanda yang sering dialami penderita antara lain:

  • Penglihatan kabur pada bagian tengah
  • Munculnya titik gelap di pusat penglihatan
  • Garis lurus terlihat melengkung atau bergelombang
  • Benda tampak lebih kecil atau lebih jauh dari ukuran sebenarnya
  • Warna terlihat lebih kusam atau redup

Pada beberapa kasus, penderita bahkan tidak menyadari adanya gejala hingga kondisi tersebut ditemukan saat pemeriksaan mata rutin.

 

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab pasti Central Serous Retinopathy belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa faktor diduga meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini.

  1. Stres

Stres dapat meningkatkan hormon kortisol dalam tubuh. Hormon ini diduga memicu kebocoran cairan di bawah retina.

  1. Penggunaan obat kortikosteroid

Obat yang mengandung kortikosteroid, baik dalam bentuk tablet, inhaler, krim kulit, maupun semprotan hidung, diketahui dapat meningkatkan risiko CSR.

  1. Faktor hormon dan kondisi kesehatan tertentu

Beberapa kondisi lain yang dapat meningkatkan risiko CSR meliputi:

  • Tekanan darah tinggi
  • Kehamilan
  • Gangguan tidur seperti sleep apnea
  • Riwayat keluarga dengan kondisi serupa

 

Bagaimana Cara Penanganannya?

Pada banyak kasus, Central Serous Retinopathy dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan karena cairan akan diserap kembali oleh tubuh.

Namun, jika kondisi tidak membaik atau sering kambuh, dokter mungkin menyarankan beberapa tindakan, seperti:

  • Terapi laser untuk menutup titik kebocoran cairan
  • Photodynamic therapy (PDT) menggunakan obat khusus yang diaktifkan dengan laser
  • Penghentian atau pengurangan penggunaan obat kortikosteroid jika memungkinkan

Pemeriksaan rutin oleh dokter spesialis mata sangat penting untuk memantau kondisi retina dan mencegah komplikasi yang lebih serius.

 

Cara Mengurangi Risiko Central Serous Retinopathy

Beberapa langkah sederhana dapat membantu menurunkan risiko atau mencegah kekambuhan CSR, antara lain:

  • Mengelola stres dengan baik
  • Menjaga kualitas tidur
  • Menghindari penggunaan obat kortikosteroid tanpa pengawasan dokter
  • Melakukan pemeriksaan mata secara berkala

Dengan menjaga kesehatan mata dan gaya hidup yang sehat, risiko gangguan penglihatan dapat diminimalkan.

 

Central Serous Retinopathy merupakan gangguan retina yang terjadi akibat penumpukan cairan di bawah makula sehingga menyebabkan penglihatan kabur atau terdistorsi. Kondisi ini sering berkaitan dengan stres dan penggunaan obat kortikosteroid.

Meskipun sebagian besar kasus dapat sembuh sendiri, pemeriksaan dan pemantauan oleh dokter tetap diperlukan agar fungsi penglihatan tetap terjaga.

 


Perawatan-Pasca-Operasi-Ablasio-Retina-agar-Pemulihan-Lebih-Optimal.png
09/Mar/2026

Ablasio retina adalah kondisi ketika lapisan retina di bagian belakang mata terlepas dari jaringan di bawahnya. Retina berfungsi menangkap cahaya dan mengirimkan sinyal ke otak agar kita dapat melihat dengan jelas. Jika retina terlepas dan tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan serius bahkan kebutaan permanen.

Penanganan utama untuk kondisi ini biasanya melalui operasi. Setelah operasi dilakukan, pasien perlu menjalani masa pemulihan dengan mengikuti berbagai anjuran dokter agar retina dapat menempel kembali dengan baik dan fungsi penglihatan dapat membaik.

 

Mengapa Perawatan Pasca Operasi Penting?

Setelah operasi ablasio retina, mata membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan pulih. Retina yang telah diperbaiki harus kembali menempel dengan stabil pada lapisan mata. Oleh karena itu, pasien perlu memperhatikan aktivitas sehari-hari serta mengikuti petunjuk perawatan yang diberikan dokter.

Perawatan yang baik selama masa pemulihan dapat membantu mencegah komplikasi serta meningkatkan peluang keberhasilan operasi.

 

Hal yang Perlu Dilakukan Setelah Operasi Ablasio Retina

Beberapa langkah yang biasanya dianjurkan setelah operasi antara lain:

  1. Menggunakan obat sesuai anjuran dokter
    Dokter biasanya meresepkan obat tetes mata atau obat lain untuk membantu proses penyembuhan dan mencegah infeksi. Penggunaan obat harus dilakukan secara teratur sesuai dosis yang diberikan.
  2. Menggunakan pelindung mata
    Pada beberapa kondisi, pasien dianjurkan menggunakan penutup atau pelindung mata terutama saat tidur untuk mencegah mata tergesek atau terkena tekanan.
  3. Menjaga posisi kepala tertentu
    Dalam beberapa kasus, dokter akan menyarankan posisi kepala tertentu agar gelembung gas atau cairan di dalam mata membantu menekan retina kembali ke posisi yang benar.
  4. Menjaga kebersihan mata
    Mata yang baru dioperasi sebaiknya tidak terkena air, debu, atau kotoran. Hal ini penting untuk mencegah infeksi selama masa penyembuhan.

 

Aktivitas yang Sebaiknya Dihindari

Selama masa pemulihan, ada beberapa aktivitas yang perlu dibatasi atau dihindari, antara lain:

  • Mengangkat beban berat
  • Olahraga berat atau olahraga kontak
  • Aktivitas yang berisiko menyebabkan benturan pada kepala atau mata
  • Berenang atau menyelam
  • Aktivitas yang dapat meningkatkan tekanan pada mata

Pembatasan aktivitas ini bertujuan agar retina yang telah diperbaiki tidak kembali terlepas dan proses penyembuhan dapat berjalan optimal.

 

Tanda yang Perlu Diwaspadai

Setelah operasi, pasien perlu segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami beberapa keluhan berikut:

  • Nyeri hebat pada mata
  • Penglihatan semakin menurun
  • Muncul kilatan cahaya atau bintik hitam yang semakin banyak
  • Mata terasa sangat merah atau bengkak

Gejala tersebut bisa menjadi tanda adanya komplikasi yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut.

 

Pentingnya Kontrol Rutin

Kontrol rutin ke dokter mata sangat penting setelah operasi ablasio retina. Melalui pemeriksaan berkala, dokter dapat memantau proses penyembuhan serta memastikan retina tetap berada pada posisi yang benar.

Selain itu, dokter juga akan memberikan arahan kapan pasien dapat kembali beraktivitas secara normal.

 

Operasi ablasio retina merupakan langkah penting untuk memperbaiki retina yang terlepas dan mencegah kerusakan penglihatan lebih lanjut. Namun keberhasilan operasi juga sangat dipengaruhi oleh perawatan setelah tindakan.

Dengan mengikuti anjuran dokter, menjaga aktivitas, serta melakukan kontrol rutin, proses pemulihan dapat berjalan lebih baik dan peluang mempertahankan fungsi penglihatan menjadi lebih besar.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia




Our Vision


No person with a blinding condition, eye disease, or visual impairment should be without hope, understanding, and treatment.


Contact Us


Hubungi Kami

(031) 8495502, (031) 8433050
082143717979 ( WA only)


Kunjungi Kami

Jalan Raya Jemursari No. 108,
Surabaya, Indonesia


Email Kami

admin@surabayaeyeclinic.id



Lokasi Kami



Media Sosial


Instagram


facebook


Twitter


Youtube




CopyRight, 2024 | Managed by Markbro | PT Klinik Mata Surabaya




WeCreativez WhatsApp Support
Tim CS Kami Siap Membantu Anda. Silahkan Tanya Kami!