Dapatkan Informasi Mengenai kesehatan Mata dan Informasi Lainnya

Info Untuk Anda

Semoga Informasi ini bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh seputar edukasi tentang kesehatan mata kita.

Category filter:Allkesehatan mataPengumumanProduct KnowledgeUncategorizedVideo Edukasi
No more posts

Kelopak-Mata-Gatal-dan-Bengkak-Bisa-Jadi-Tanda-Blefaritis.png
09/Dec/2025

Blefaritis adalah peradangan pada kelopak mata yang menyebabkan kelopak terasa sakit, kemerahan, bengkak, dan sering menimbulkan rasa gatal atau sensasi seperti berpasir di mata. Kondisi ini biasanya tidak menular, tetapi bisa sangat mengganggu kenyamanan mata.

Penyebab umum blefaritis adalah penyumbatan kelenjar minyak di tepi bulu mata sehingga minyak, sel kulit, dan bakteri menumpuk.

 

Gejala Blefaritis

Beberapa gejala yang umum muncul:

  • Kelopak mata membengkak, kemerahan, terasa gatal atau perih.
  • Mata berair, mata terasa kering, atau sensasi seperti ada pasir di mata.
  • Kelopak dan bulu mata penuh kerak atau sisik, terutama setelah bangun tidur.
  • Sensasi terbakar atau menyengat, mata sensitif terhadap cahaya, pandangan kadang kabur.

 

Faktor Pemicu & Risiko

Blefaritis bisa dipicu oleh beberapa kondisi, seperti:

  • Infeksi bakteri (misalnya bakteri Staphylococcus) pada tepi kelopak.
  • Penyakit kulit seperti ketombe, kulit berminyak, atau kondisi seperti Rosacea.
  • Kulit kepala/kulit wajah yang berketombe, iritasi akibat kosmetik, obat tetes mata, atau lensa kontak.
  • Produksi minyak kelopak mata yang tidak normal sehingga kelenjar mudah tersumbat.

 

Penanganan & Perawatan

Blefaritis tidak selalu bisa “sembuh total”, tapi gejalanya bisa dikendalikan dengan baik dengan perawatan teratur:

  • Kebersihan kelopak mata rutin: bersihkan tepi kelopak dengan air hangat + sabun ringan atau shampo bayi secara lembut untuk menghilangkan kerak dan minyak.
  • Kompres hangat: membantu melonggarkan minyak dan kerak, memudahkan pembersihan kelopak.
  • Obat tetes yang diresepkan dokter: bila ada peradangan berat, dokter bisa meresepkan tetes mata anti-inflamasi, air mata buatan, atau antibiotik jika ada infeksi.
  • Mengatasi faktor penyebab: jika blefaritis dipicu kondisi kulit (misalnya flaking, kulit berminyak, rosacea), maka perawatan kulit juga penting misalnya rutin keramas, menggunakan sampo khusus, dan menghindari kosmetik / lensa kontak hingga kondisi membaik.

Karena blefaritis bisa bersifat kronis, menjaga kebersihan kelopak secara konsisten menjadi kunci agar gejala tidak sering kambuh.

 

Potensi Komplikasi Jika Diabaikan

Jika tidak ditangani dengan benar, blefaritis dapat menyebabkan:

  • Mata menjadi sangat kering atau terlalu berair
  • Rambut bulu mata rontok atau tumbuh ke arah salah (menyebabkan iritasi)
  • Bentuk kelopak berubah bisa lipat ke dalam atau keluar
  • Infeksi tambahan seperti bintitan (stye), kista, atau bahkan luka kornea (ulcer) jika terus-menerus mengiritasi mata.

 

Blefaritis adalah peradangan kelopak mata yang umum terjadi dan sering membandel. Meski bukan kondisi mengancam nyawa, dampaknya terhadap kenyamanan mata dan penglihatan bisa signifikan bila diabaikan.

Kunci mengendalikan blefaritis adalah perawatan kebersihan kelopak yang konsisten, serta perawatan kulit dan mata jika ada kondisi lain seperti ketombe atau kulit berminyak. Jika keluhan tidak membaik, segera konsultasikan ke dokter mata agar mendapat penanganan yang sesuai.

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Pemulihan-Setelah-Operasi-Pterygium-Cara-Merawat-Mata-dengan-Aman.png
04/Dec/2025

Operasi pterygium biasanya dilakukan untuk mengangkat pertumbuhan jaringan abnormal pada mata dan memperbaiki penglihatan atau mengurangi iritasi. Setelah operasi, mata Anda membutuhkan perawatan khusus periode pemulihan sangat menentukan hasil operasi dan peluang sel pterygium muncul kembali. Berikut panduan merawat mata pasca-operasi, berdasarkan praktik medis terkini.

Apa yang Normal Setelah Operasi?

  • Mata biasanya terasa agak perih, sensasi seperti ada “pasir/kerikil”, dan agak sakit ringan selama beberapa hari.
  • Mata mungkin kemerahan atau sedikit bengkak ini bisa berlangsung 1–2 minggu.
  • Penglihatan bisa kabur sementara, dan mata lebih sensitif terhadap cahaya dalam beberapa hari sampai beberapa minggu.
  • Anda akan mendapat tetes mata antibiotik dan/atau antiinflamasi ini penting untuk membantu penyembuhan dan mencegah infeksi.

 

Hal-Hal yang Dianjurkan

Agar penyembuhan mata optimal, lakukan hal-hal berikut sesuai petunjuk dokter:

  • Gunakan obat tetes mata atau salep sesuai jadwal jangan melewatkan dosis.
  • Bersihkan kelopak mata secara lembut jika terasa lengket, dengan kain kasa bersih dan air steril/air rebus yang sudah didinginkan lakukan dengan tangan bersih.
  • Gunakan pelindung mata seperti kacamata hitam dengan perlindungan sinar UV ketika keluar rumah ini membantu melindungi mata dari sinar matahari, debu, dan angin.
  • Istirahat cukup hindari aktivitas berat, mengangkat beban berat, membungkuk atau aktivitas yang memberi tekanan pada mata selama 1–2 minggu awal.
  • Bisa membaca, menonton TV, atau bekerja di depan layar asal tidak berlebihan. Aktivitas ringan seperti ini umumnya diperbolehkan.

 

Hal-Hal yang Harus Dihindari

Untuk mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan, hindari hal-hal berikut:

  • Jangan mengucek, menggosok, menekan, atau menyentuh mata yang sudah dioperasi ini bisa merusak jaringan penyembuhan.
  • Hindari berenang, bersentuhan langsung dengan air kolam, laut, atau bak mandi air bisa membawa bakteri dan meningkatkan risiko infeksi. Umumnya disarankan menghindari air selama minimal 1–2 minggu atau sesuai instruksi dokter.
  • Jangan memakai lensa kontak sampai mata benar-benar sembuh dan dokter mengizinkan penggunaan lensa kontak bisa menyebabkan iritasi atau infeksi.
  • Jangan menggunakan kosmetik atau make-up sekitar mata setidaknya 1 minggu setelah operasi produk kosmetik bisa mengandung bahan iritan atau bakteria.
  • Hindari lingkungan berdebu, berangin, atau berpolusi debu dan partikel bisa mengiritasi mata dan memperlambat penyembuhan.

 

Tanda-Tanda yang Wajib Diwaspadai & Kapan ke Dokter

Meskipun sebagian besar pemulihan berjalan normal, ada kondisi yang memerlukan perhatian medis segera. Segera hubungi dokter jika Anda mengalami:

  • Nyeri yang makin parah, bukan berkurang
  • Pembengkakan atau kemerahan yang tidak membaik setelah 1–2 minggu
  • Keluar cairan terutama nanah dari mata
  • Penurunan penglihatan mendadak atau kabur yang tidak membaik
  • Sensasi ada benda asing yang tidak hilang setelah beberapa minggu

 

Mengapa Perawatan Pasca Operasi Itu Krusial

Perawatan pasca-operasi tidak hanya agar mata cepat sembuh, tapi juga untuk:

  • Mengurangi risiko komplikasi seperti infeksi, peradangan, atau kerusakan graft (jika teknik transplantasi jaringan dipakai).
  • Meminimalkan kemungkinan pertumbuhan ulang pterygium pencegahan dari paparan UV, debu, dan iritasi penting agar sel tidak kambuh.
  • Memastikan pemulihan penglihatan optimal jika perawatan diabaikan, hasil operasi bisa kurang maksimal.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Mengenal-Pterigium-“Daging-Tumbuh”-di-Mata-yang-Bisa-Mengganggu-Penglihatan.png
02/Dec/2025

Pterygium adalah kondisi di mana selaput tipis (konjungtiva) dari bagian “putih mata” tumbuh ke arah kornea lapisan bening di depan mata sehingga membentuk tonjolan dengan warna kemerahan atau kekuningan. Tumor manifest ini bersifat jinak dan bukan kanker.

Pterygium bisa terjadi di satu mata atau keduanya, dan pertumbuhan selaput ini kadang dimulai dari lesi kecil bernama Pinguecula bercak kekuningan di putih mata akibat pengendapan lemak, protein, atau kalsium. Jika pinguecula terus berkembang, bisa berubah menjadi pterygium.

 

Mengapa Terjadi? Faktor Risiko Pterygium

Penyebab pasti pterygium belum diketahui secara absolut. Namun, ada sejumlah faktor lingkungan dan kebiasaan yang meningkatkan risiko berkembangnya kondisi ini, antara lain:

  • Paparan sinar matahari, terutama sinar ultraviolet (UV), dalam waktu lama seperti orang yang banyak berada di luar ruangan (pekerja outdoor, petani, nelayan, dsb.).
  • Mata yang sering terkena debu, pasir, angin, asap, atau kondisi lingkungan kering karena iritasi berulang bisa memicu pertumbuhan sel abnormal pada konjungtiva.
  • Faktor lain yang mungkin: mata kering kronis, polusi udara, atau paparan lingkungan dengan partikel pengiritasi mata.

Karena itu, pterygium lebih banyak ditemukan pada orang yang tinggal di iklim tropis atau subtropis, dengan banyak aktivitas luar ruangan.

 

Tanda dan Gejala Pterygium

Pterygium kadang tidak menimbulkan gejala sama sekali, terutama pada tahap awal. Namun ketika selaput tumbuh lebih besar, berikut gejala yang umum muncul:

  • Mata kemerahan atau tampak “darah”
  • Sensasi seperti ada pasir, gatal, terbakar, atau “ada yang mengganjal” di mata
  • Mata terasa kering, perih, atau mudah berair
  • Nyeri ringan terutama saat mata terpapar angin, debu, atau sinar matahari
  • Penglihatan kabur atau terganggu jika pterygium sudah menjalar ke bagian kornea bahkan bisa menyebabkan silindrisasi kornea (astigmatisme) atau distorsi pandangan

Karena sering tanpa gejala pada awalnya, banyak penderita pterygium baru menyadari kondisi ketika pertumbuhannya sudah cukup besar.

 

Diagnosis: Bagaimana Dokter Mengetahuinya?

Diagnosis pterygium umumnya dilakukan lewat pemeriksaan mata sederhana oleh dokter spesialis mata. Langkah pemeriksaan meliputi:

  • Pemeriksaan fisik mata kelopak konjungtiva
  • Penggunaan alat khusus seperti slit-lamp agar selaput abnormal bisa dilihat lebih jelas.
  • Jika diperlukan, tes tambahan seperti topografi kornea (untuk melihat perubahan bentuk kornea) atau foto dokumentasi agar pertumbuhan pterygium bisa dipantau.

Dengan diagnosa tepat, dokter bisa menyarankan tata laksana yang sesuai dari perawatan ringan hingga tindakan bedah jika diperlukan.

 

Pengobatan: Dari Tetep Mata Sampai Operasi

Penanganan pterygium tergantung pada tingkat keparahan dan keluhan pasien:

  • Jika pterygium kecil dan tidak menimbulkan gejala, biasanya tidak perlu pengobatan khusus cukup pantau secara berkala.
  • Untuk gejala ringan seperti mata merah, iritasi, atau kering dokter mungkin meresepkan obat tetes mata berupa pelembap (“air mata buatan”) atau salep mata. Jika peradangan cukup kuat, tetes mata kortikosteroid bisa digunakan dalam jangka pendek.
  • Jika pterygium sudah tumbuh ke kornea dan mengganggu penglihatan atau untuk alasan kosmetik operasi pengangkatan pterygium bisa dilakukan. Biasanya dengan teknik graft konjungtiva agar area bekas pengangkatan bisa pulih.

Namun perlu diingat: pterygium bisa muncul kembali (kambuh) setelah operasi terutama jika faktor risiko seperti sinar matahari atau debu masih ada.

 

Cara Mencegah Agar Pterygium Tak Memburuk

Kuncinya adalah melindungi mata dari iritasi dan paparan sinar UV. Berikut langkah pencegahan yang disarankan:

  • Saat beraktivitas di luar ruangan, gunakan kacamata hitam dengan perlindungan UV dan topi bertepi lebar untuk menghalangi sinar matahari langsung ke mata.
  • Hindari paparan debu, pasir, asap, angin kencang atau lingkungan kering terutama untuk orang yang sensitif mata. Gunakan pelindung mata bila perlu.
  • Gunakan tetes mata pelembap (artificial tears) jika mata sering kering ini membantu menjaga permukaan mata tetap sehat.
  • Lakukan pemeriksaan mata secara rutin, apalagi jika memiliki riwayat pterygium, sering terpapar matahari, atau bekerja di luar ruangan. Deteksi dini membantu pengobatan lebih efektif.

 

Pterygium adalah kondisi mata umum dan bersifat jinak bukan kanker. Meski kadang tanpa gejala, pterygium bisa menyebabkan ketidaknyamanan, iritasi, atau bahkan gangguan penglihatan bila tumbuh terlalu besar.

Dengan proteksi mata yang tepat, kebiasaan menjaga kelembapan mata, serta pemeriksaan rutin, Anda dapat mencegah pertumbuhan pterygium atau meminimalkan risiko kambuh. Jika kondisinya sudah mengganggu baik dari segi penglihatan maupun kenyamanan konsultasikan ke dokter mata untuk mendapatkan penanganan terbaik.

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Silinder-vs-Minus-Apa-Bedanya-dan-Kenapa-Penting-Diketahui.png
28/Nov/2025

Ketika seseorang mengatakan “mata saya minus” atau “mata saya silinder,” sering kali orang lain bingung membedakan keduanya. Padahal, meskipun keduanya termasuk kelainan refraksi, penyebab, gejala, dan cara penanganannya berbeda. Mengenali perbedaan ini penting agar mata mendapat koreksi yang tepat.

 

Apa Itu Mata Minus?

Mata minus atau disebut juga Miopia terjadi ketika bola mata terlalu panjang atau permukaan kornea terlalu melengkung. Akibatnya, cahaya yang masuk ke mata tak jatuh tepat di retina, melainkan terfokus di depan retina. Hasilnya: objek yang jauh tampak kabur, sementara objek dekat biasanya masih bisa dilihat dengan jelas.

Gejala umum mata minus meliputi:

  • Sulit melihat objek jauh dengan jelas (misalnya papan tulis di sekolah, rambu jalan, layar jauh).
  • Sering menyipitkan mata agar pandangan lebih jelas.
  • Mata mudah lelah atau sakit kepala jika dipaksa melihat jauh terus-menerus.

 

Apa Itu Mata Silinder?

Mata silinder atau disebut Astigmatisme disebabkan oleh ketidakteraturan kelengkungan kornea (atau lensa mata), sehingga cahaya yang masuk tidak terfokus pada satu titik saja. Ini membuat pandangan menjadi kabur atau terdistorsi, baik saat melihat objek dekat maupun jauh.

Orang dengan silinder sering mengalami:

  • Penglihatan kabur atau berbayang, baik untuk objek dekat maupun jauh.
  • Mata cepat lelah, sakit kepala, dan ketegangan mata, terutama saat membaca, menatap layar, atau dalam kondisi pencahayaan kurang.
  • Kesulitan mengamati detail halus atau garis lurus, dan kadang distorsi bentuk objek.

Mengapa Bisa Terjadi?

  • Minus biasanya dipengaruhi faktor genetik dan kondisi panjang bola mata atau bentuk kornea. Kebiasaan melihat terlalu dekat, kurang paparan cahaya alami juga bisa memperparah.
  • Silinder cenderung berasal dari bentuk kornea atau lensa yang tidak merata bisa karena bawaan sejak lahir, trauma mata, atau perubahan struktural.

 

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Keduanya bisa dikoreksi dengan alat bantu penglihatan:

  • Untuk minus, lensa cekung (minus) pada kacamata atau lensa kontak membantu memfokuskan cahaya tepat ke retina.
  • Untuk silinder, kacamata dengan lensa silinder (atau lensa torik) menyesuaikan kelengkungan kornea agar cahaya bisa difokuskan dengan benar.
  • Jika minus dan silinder terjadi bersamaan, resep kacamata akan disesuaikan seringkali memakai kombinasi lensa minus + silinder.
  • Untuk yang ingin solusi permanen, beberapa prosedur bedah refraktif (misalnya LASIK) dapat dipertimbangkan. Namun, tidak semua orang cocok perlu pemeriksaan mata terlebih dahulu.

 

Kenapa Memahami Perbedaannya Penting

Tanpa mengetahui apakah Anda minus, silinder, atau keduanya, memakai kacamata atau lensa kontak secara sembarangan bisa membuat mata tetap lelah, pusing, atau bahkan memperparah ketidaknyamanan. Koreksi yang tepat membantu menjaga kesehatan mata dalam jangka panjang dan memastikan penglihatan tetap nyaman baik untuk aktivitas dekat maupun jauh.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Kenali-Penyumbatan-Saluran-Air-Mata-Penyebab-Gejala-dan-Cara-Mengatasinya.png
27/Nov/2025

Saluran air mata jalur kecil yang membawa air mata dari mata ke hidung punya peran penting untuk menjaga kesehatan mata. Kalau saluran ini tersumbat, air mata tidak bisa mengalir normal, sehingga menimbulkan berbagai masalah pada mata.

 

Apa Itu Saluran Air Mata dan Kenapa Bisa Tersumbat

Normalnya, air mata yang dihasilkan kelenjar air mata akan melewati saluran air mata dan dibuang ke hidung. Namun jika saluran ini tersumbat, air mata “terjebak”, tidak bisa keluar dengan semestinya. Penyumbatan bisa terjadi karena berbagai hal, misalnya:

  • Kelainan sejak lahir (pada bayi) atau saluran yang belum berkembang sempurna.
  • Infeksi/peradangan saluran air mata atau saluran hidung yang berulang.
  • Cedera di wajah atau area sekitar mata yang merusak struktur saluran air mata.
  • Penyempitan saluran akibat pertambahan usia (pada orang dewasa) atau adanya tumor yang menekan saluran.
  • Penggunaan obat tetes mata tertentu dalam jangka panjang atau efek samping terapi, misalnya radioterapi wajah.

 

Tanda & Gejala Penyumbatan Saluran Air Mata

Jika saluran air mata tersumbat, biasanya muncul gejala seperti:

  • Mata terus berair (meskipun Anda tidak menangis).
  • Mata tampak kemerahan.
  • Bengkak atau nyeri di sudut dalam mata (dekat hidung).
  • Keluar cairan kental kadang berwarna kuning atau kehijauan dari sudut mata terutama saat ditekan.
  • Mata kadang terasa lengket, kelopak mata mungkin menempel saat bangun tidur, dan risiko infeksi meningkat jika dibiarkan lama.

Pada bayi, penyumbatan saluran air mata bisa tampak seperti mata “menangis terus”, lendir dan kerak di sudut mata, atau mata yang tampak selalu basah meski bayi tidak menangis.

 

Cara Pemeriksaan dan Diagnosis

Jika saluran air mata dicurigai tersumbat, dokter mata bisa melakukan beberapa pemeriksaan:

  • Menekan bagian luar saluran untuk mengecek aliran air mata.
  • Meneteskan zat pewarna khusus ke mata, lalu melihat apakah pewarna tersebut keluar melalui hidung dalam waktu tertentu sebagai tanda saluran terbuka atau tersumbat.
  • Irigasi atau “flush” saluran dengan larutan garam untuk mengecek dan sekaligus mencoba membuka sumbatan.
  • Jika diperlukan misalnya sumbatan terus menetap atau disertai komplikasi pemeriksaan pencitraan (rontgen / CT scan) bisa dilakukan untuk melihat penyebab sumbatan secara lebih jelas.

 

Pilihan Pengobatan & Penanganan

Penanganan tergantung pada penyebab, usia, dan tingkat keparahan sumbatan. Berikut beberapa metode yang sering digunakan:

  • Pijatan saluran air mata — pada kasus ringan, terutama pada bayi atau dewasa muda, pijatan lembut sesuai petunjuk dokter bisa membantu membuka saluran.
  • Obat tetes mata atau antibiotik — bila ada infeksi, dokter bisa meresepkan obat untuk mengatasi peradangan sebelum atau bersamaan dengan penanganan saluran.
  • Irigasi atau probing (pembilasan + sondasi) — metode ini dilakukan oleh dokter dengan menyemprot larutan fisiologis atau memasukkan probe kecil ke saluran mata untuk membuka sumbatan.
  • Operasi — jika sumbatan tidak bisa diselesaikan dengan metode non-bedah, dokter mata bisa melakukan operasi untuk membuat saluran baru atau memperlebar saluran air mata yang tersumbat.

Pada bayi dengan penyumbatan bawaan, kadang dokter memilih menunggu dulu karena banyak kasus sembuh sendiri dalam beberapa bulan.

 

Mengapa Penanganan Penting

Saluran air mata yang tersumbat dan dibiarkan terlalu lama bisa memicu infeksi berulang, nyeri, dan iritasi. Infeksi yang terjadi berulang bisa menyebabkan komplikasi serius seperti peradangan saluran, abses, bahkan kerusakan jaringan jika tidak diobati.

Dengan diagnosa dan penanganan tepat sejak awal, kebanyakan kasus bisa sembuh dengan baik tanpa perlu tindakan bedah besar.

 

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Jika Anda Curiga Ada Sumbatan

  • Perhatikan tanda-tanda: mata sering berair, kemerahan, bengkak di sudut mata, atau ada cairan kental.
  • Hindari mengucek mata, karena bisa memperparah iritasi atau menyebarkan infeksi.
  • Segera periksakan ke dokter mata jika gejala tidak membaik dalam beberapa hari atau terus berulang.
  • Untuk bayi: jika sejak lahir mata tampak terus berair atau ada lendir/kerak di sudut mata, konsultasikan dengan dokter anak atau dokter mata tindakan ringan seperti pijatan bisa membantu.

 

Menyadari bahwa air mata tidak sekadar “membasahi mata”, tetapi bagian dari sistem pelindung dan bahwa saluran pembuangannya juga harus sehat bisa membantu Anda lebih tanggap kalau ada tanda tidak normal. Bila terdapat gejala penyumbatan, jangan ragu untuk mengecek ke dokter mata agar penanganan bisa dilakukan sejak dini.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Benarkah-Menonton-Televisi-Bisa-Menyebabkan-Mata-Minus.png
26/Nov/2025

Banyak orang percaya bahwa menonton televisi terlalu dekat atau terlalu lama dapat membuat mata menjadi minus. Mitos ini sudah lama beredar, terutama di kalangan orang tua. Namun sebenarnya, apakah kebiasaan menonton TV benar-benar bisa membuat penglihatan memburuk?

Menonton televisi tidak secara langsung menyebabkan mata minus. Miopia atau rabun jauh terjadi saat bola mata bertambah panjang atau kornea mengalami perubahan bentuk, sehingga cahaya tidak jatuh tepat pada retina. Kondisi ini lebih banyak dipengaruhi faktor genetik, kebiasaan melihat jarak dekat terlalu lama, dan kurangnya paparan cahaya alami.

 

TV Tidak Menyebabkan Miopia, Tapi Bisa Membuat Mata Tegang

Menonton TV, ponsel, laptop, atau perangkat layar lainnya dalam waktu lama dapat membuat mata bekerja lebih keras. Akibatnya, mata bisa terasa pegal, kering, atau sakit kepala. Kondisi ini disebut eye strain, dan sifatnya sementara. Jadi, meskipun terasa tidak nyaman, hal ini bukan berarti mata langsung menjadi minus.

Duduk terlalu dekat dengan TV pun bukan penyebab langsung miopia. Biasanya, anak-anak cenderung duduk dekat karena mereka memang mampu memfokuskan penglihatan pada jarak dekat dengan lebih baik daripada orang dewasa. Namun kebiasaan ini tetap bisa membuat mata mudah lelah jika dilakukan terlalu lama.

 

Faktor yang Lebih Berpengaruh pada Mata Minus

Beberapa hal yang justru lebih kuat kaitannya dengan mata minus antara lain:

  • Riwayat keluarga: Jika salah satu atau kedua orang tua bermiopia, risiko anak mengalami kondisi ini lebih tinggi.
  • Aktivitas melihat jarak dekat dalam durasi panjang, seperti membaca, bermain gadget, atau menatap layar dalam waktu lama.
  • Kurang waktu bermain di luar ruangan, terutama pada anak, karena paparan cahaya alami membantu perkembangan mata yang sehat.

 

Menonton TV Terlalu Lama Tetap Bisa Berdampak

Walaupun tidak menyebabkan miopia, menonton televisi terlalu lama tetap bisa menimbulkan beberapa masalah, seperti:

  • Mata kering dan lelah
  • Sakit kepala
  • Kesulitan fokus sementara
  • Risiko gaya hidup sedentary (kurang gerak) jika dilakukan setiap hari

Karena itu, tetap penting untuk membatasi durasi menonton.

 

Tips Menonton TV yang Lebih Aman untuk Mata

Agar mata tetap nyaman saat menonton televisi, coba lakukan beberapa langkah sederhana berikut:

  1. Jaga jarak aman, sekitar 2–3 meter tergantung ukuran TV.
  2. Gunakan aturan 20-20-20: setiap 20 menit, alihkan pandangan ke objek jauh selama 20 detik.
  3. Pastikan ruangan terang, tidak menonton dalam keadaan gelap total.
  4. Batasi waktu menonton, terutama untuk anak-anak.
  5. Seimbangkan aktivitas layar dengan kegiatan luar ruangan.

 

Menonton televisi tidak menyebabkan mata minus, tetapi tetap bisa membuat mata tegang jika dilakukan terlalu lama. Miopia lebih dipengaruhi faktor genetik, kebiasaan melihat jarak dekat, dan kurangnya aktivitas luar ruangan. Dengan mengelola durasi menonton dan menjaga kebiasaan yang sehat, penglihatan dapat tetap terjaga.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Mengenal-5-Tahap-Perkembangan-Trakhoma-yang-Perlu-Diwaspadai.png
24/Nov/2025

Trakhoma adalah infeksi mata yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), penyakit ini berkembang melalui lima tahap sebelum bisa menyebabkan kerusakan mata yang serius, bahkan kebutaan. Berikut penjelasan tiap tahapannya:

  1. Peradangan Folikuler (Follicular)

Di tahap awal ini, terjadi peradangan pada jaringan folikel di bagian dalam kelopak mata atas. Folikel adalah benjolan kecil yang mengandung limfosit (sel darah putih). Karena adanya bakteri, limfosit bereaksi dan menyebabkan munculnya benjolan-benjolan ini, yang kemudian membuat area tersebut terasa gatal dan iritasi.

  1. Peradangan Intens

Jika infeksi tidak ditangani, peradangan akan berkembang lebih parah. Kelopak mata atas bisa membengkak atau menebal secara signifikan. Pada tahap ini, reaksi inflamasi semakin kuat dan menimbulkan rasa tidak nyaman serta kemerahan.

  1. Terbentuknya Jaringan Parut (Scarring)

Radang yang berulang dapat menyebabkan luka (jaringan parut) di konjungtiva kelopak mata bagian dalam. Parutan ini bisa tampak seperti garis putih ketika diperiksa secara detail (misalnya dengan kaca pembesar). Seiring waktu, parutan ini bisa merusak struktur kelopak mata.

  1. Trikiasis (Bulu Mata Tumbuh ke Dalam)

Parutan yang sudah terbentuk dapat mengubah bentuk kelopak mata menjadi “terlipat ke dalam” (entropion). Karena lipatan ini, bulu mata tumbuh ke arah dalam dan menyentuh permukaan kornea (bagian transparan mata), lalu menggeseknya.

  1. Opasitas Kornea (Kornea Keruh)

Akhirnya, gesekan dari bulu mata yang berubah arah dan radang kronis pada kelopak mata bisa merusak kornea, membuatnya keruh. Kondisi ini bisa menurunkan tajam penglihatan dan jika dibiarkan, berisiko menyebabkan kebutaan.

 

Faktor Risiko Trakhoma

Beberapa faktor risiko meningkatkan kemungkinan seseorang terkena trakhoma, antara lain:

  • Lingkungan dengan sanitasi buruk, kurangnya air bersih, dan kebersihan wajah rendah.
  • Tinggal di daerah kumuh atau kemiskinan, di mana fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus) tidak memadai.
  • Anak-anak; mereka lebih mudah menularkan dan menularkan bakteri karena kontak dekat.
  • Wanita; WHO/halodoc menyebut wanita lebih rentan karena kontak lebih sering dengan anak-anak.

 

Pentingnya Penanganan Sejak Dini

Mendeteksi dan menangani trakhoma sejak fase awal (folikuler atau inflamasi) sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, seperti parutan atau pertumbuhan bulu mata abnormal. Penanganan dapat melibatkan:

  • Kebersihan wajah dan tangan secara rutin untuk mencegah penyebaran bakteri,
  • Pengobatan antibiotik pada infeksi aktif,
  • Intervensi bedah pada tahap lanjut (misalnya untuk membetulkan entropion atau bulu mata ke dalam).

 

Trakhoma adalah penyakit mata yang berkembang secara bertahap melalui lima tahap menurut WHO. Dari peradangan folikuler hingga kerusakan kornea, setiap tahap membawa risiko yang meningkat jika tidak ditangani dengan baik. Menjaga kebersihan, terutama di lingkungan dengan sanitasi rendah, serta melakukan pemeriksaan mata secara berkala adalah cara penting untuk mencegah komplikasi yang bisa menyebabkan kebutaan.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Cara-Sederhana-Menjaga-Kesehatan-Mata-Lewat-Asupan-Nutrisi.png
21/Nov/2025

Mata merupakan salah satu indera terpenting yang perlu dijaga kesehatannya. Salah satu cara paling efektif untuk merawat mata adalah melalui pola makan yang tepat. Dilansir dari Halodoc, berikut enam jenis makanan yang dapat mendukung kesehatan mata karena kandungan nutrisi di dalamnya.

  1. Ikan Laut (Salmon dan Sejenisnya)

Ikan laut, terutama ikan berlemak seperti salmon, sangat baik untuk mata. Ikan-ikan tersebut mengandung asam lemak omega-3, yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan retina dan membantu mencegah mata kering.

  1. Almond

Kacang almond adalah sumber vitamin E yang baik. Vitamin E bersifat antioksidan, yang berarti dapat melindungi sel-sel mata dari kerusakan akibat radikal bebas. Dengan konsumsi rutin, almond bisa membantu menurunkan risiko degenerasi makula yang berkaitan usia.

  1. Produk Susu (Susu, Yoghurt, dan Lainnya)

Produk olahan susu juga punya peran penting. Susu dan yoghurt mengandung vitamin A dan seng (zink). Vitamin A mendukung kesehatan kornea, sedangkan seng membantu memindahkan vitamin A ke mata, serta berkontribusi pada penglihatan malam.

  1. Wortel

Wortel dikenal sebagai “makanan mata” karena kaya akan beta-karoten, prekursor dari vitamin A. Vitamin A penting untuk menjaga permukaan mata dan mencegah infeksi serta gangguan mata lainnya.

  1. Sayuran Berdaun Hijau Gelap

Jenis sayuran seperti bayam, kale, dan brokoli mengandung lutein dan zeaxanthin, yaitu dua karotenoid penting untuk mata. Karotenoid ini membantu melindungi mata dari kerusakan jangka panjang, termasuk degenerasi makula.

  1. Jeruk dan Buah Sitrus Lainnya

Buah jeruk kaya vitamin C. Vitamin C sangat berperan dalam menjaga kesehatan pembuluh darah di mata dan membantu melindungi mata dari berbagai kerusakan oksidatif.

 

Mengapa Nutrisi Ini Penting untuk Mata?

  • Antioksidan seperti vitamin E dan C berfungsi melawan radikal bebas, yang bisa merusak sel-sel mata.
  • Lutein dan zeaxanthin berperan langsung melindungi retina dari cahaya tinggi dan stres oksidatif.
  • Omega-3 menjaga kelembapan mata dan kesehatan jaringan retina, yang sangat penting dalam mempertahankan penglihatan jangka panjang.
  • Vitamin A dibutuhkan untuk menjaga fungsi kornea serta mendukung penglihatan terutama pada kondisi cahaya redup.

 

Tips Praktis Memasukkan Makanan Ini ke Menu Sehari-hari

  1. Tambahkan ikan salmon ke menu makan malam 1–2 kali seminggu.
  2. Jadikan almond sebagai camilan sehat di sela kegiatan.
  3. Campurkan yoghurt ke sarapan atau sebagai menu sarapan ringan.
  4. Buat sup atau jus dari wortel agar mudah dikonsumsi.
  5. Tambahkan bayam atau kale ke salad, tumisan, atau omelet.

 

Menjaga kesehatan mata bisa dimulai dari hal sederhana: memilih makanan yang tepat. Ikan berlemak, sayuran hijau, kacang-kacangan, dan buah sitrus semua memiliki nutrisi penting yang mendukung fungsi mata. Dengan memasukkan keenam makanan di atas dalam pola makan harian, Anda bisa membantu mempertahankan kesehatan penglihatan dalam jangka panjang.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Mengenal-Xanthelasma-Penyebab-Risiko-dan-Cara-Mengatasinya.png
20/Nov/2025

Xanthelasma adalah bercak kekuningan atau plak kecil yang muncul di kelopak mata, terutama di sudut dekat hidung. Kondisi ini disebabkan oleh penumpukan lemak terutama kolesterol di bawah kulit kelopak.

Meskipun biasanya tidak berbahaya secara langsung, keberadaan xanthelasma bisa menjadi pertanda adanya gangguan metabolik seperti kolesterol tinggi, dan memerlukan perhatian medis khusus.

 

Penyebab Xanthelasma

Berdasarkan informasi dari Alodokter, terdapat beberapa kondisi yang sering terkait dengan munculnya xanthelasma:

  1. Kolesterol Tinggi
    Penumpukan lemak di kelopak mata umumnya berasal dari kadar kolesterol yang tinggi di dalam darah.
  2. Diabetes
    Pada penderita diabetes, kadar gula darah tinggi dapat meningkatkan kadar LDL (“kolesterol jahat”), yang berkontribusi pada pembentukan xanthelasma.
  3. Obesitas
    Kegemukan atau obesitas dapat memengaruhi metabolisme lemak dan meningkatkan risiko gangguan kolesterol, yang pada akhirnya bisa memicu xanthelasma.
  4. Hipotiroidisme
    Tiroid yang kurang aktif (hipotiroid) dapat mengganggu metabolisme lemak, menyebabkan kolesterol darah meningkat, dan pada akhirnya menimbulkan xanthelasma.
  5. Penyakit Hati
    Salah satu kondisi hati yang disebut adalah primary biliary cholangitis (PBC), yaitu penyakit autoimun pada saluran empedu. Ketika empedu terganggu, kolesterol yang seharusnya dibuang bisa terakumulasi dan menumpuk di jaringan seperti kelopak mata.

 

Gejala dan Diagnosis

  • Xanthelasma biasanya muncul sebagai plak kekuningan di kelopak mata atas atau bawah, terutama di sisi dalam dekat hidung.
  • Bentuknya bisa bervariasi: datar atau agak menonjol, lembut hingga agak padat.
  • Kondisi ini umumnya tidak menimbulkan rasa sakit atau gangguan penglihatan.
  • Untuk diagnosis, dokter biasanya melakukan pemeriksaan fisik dan tes darah untuk mengukur kadar kolesterol.

 

Cara Menghilangkan / Mengatasi Xanthelasma

Alodokter menyebutkan bahwa xanthelasma jarang hilang dengan sendirinya. Bila keberadaannya mengganggu dari segi penampilan, beberapa pilihan perawatan tersedia:

  • Krioterapi: pembekuan dengan nitrogen cair.
  • Operasi pengangkatan: bisa menggunakan pisau bedah atau metode lain.
  • Laser: salah satu cara populer dan minim luka.
  • Peeling kimia: memakai bahan kimia khusus untuk mengangkat plak.
  • Radiofrekuensi / ablasi: menggunakan gelombang panas untuk menghancurkan sel lemak.

Namun perlu diingat, meski diangkat, xanthelasma bisa muncul kembali, terutama jika kadar kolesterol tidak dikendalikan.

 

Pencegahan dan Gaya Hidup untuk Menekan Risiko

Karena xanthelasma erat kaitannya dengan kolesterol tinggi, gaya hidup sehat menjadi kunci penting untuk mencegah atau mengurangi risiko kekambuhan:

  • Terapkan pola makan rendah lemak jenuh dan tinggi serat (buah, sayuran, biji-bijian).
  • Olahraga secara rutin untuk mengatur berat badan dan metabolisme lemak.
  • Hindari konsumsi alkohol berlebihan.
  • Jika kadar kolesterol tinggi, dokter bisa meresepkan obat penurun kolesterol seperti statin (misalnya rosuvastatin, simvastatin) untuk membantu mengontrol lemak darah.

 

Kapan Perlu ke Dokter

  • Bila muncul plak kuning di kelopak mata yang mengganggu penampilan atau tumbuh semakin besar.
  • Pemeriksaan kolesterol penting untuk memastikan apakah penyebab xanthelasma adalah kadar lemak darah tinggi.
  • Konsultasi dengan dokter kulit atau dokter spesialis mata (okuloplastik) bisa dilakukan jika ingin menghilangkannya dengan prosedur medis.

 

Catatan Penting

  • Xanthelasma biasanya bersifat kosmetik dan tidak berbahaya, tetapi bisa menjadi pertanda masalah kesehatan yang mendasari seperti hiperlipidemia.
  • Karena risiko kambuh setelah perawatan cukup tinggi, pengendalian faktor penyebab seperti kolesterol sangat penting.
  • Jangan mencoba menghilangkannya sendiri dengan metode yang belum terbukti aman, apalagi di area sensitif seperti kelopak mata.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Hal-Penting-yang-Harus-Diperhatikan-Sebelum-Membeli-Kacamata-Minus.png
19/Nov/2025

Memilih kacamata minus bukan sekadar memilih frame yang keren. Ada beberapa aspek penting yang harus diperhatikan agar penglihatan nyaman dan kacamata benar-benar sesuai kebutuhan Anda.

  1. Periksa Mata Secara Profesional

Sebelum membeli kacamata, sangat penting melakukan pemeriksaan mata ke dokter mata atau optometrist. Tes ini akan menentukan kekuatan minus (dioptri), apakah ada astigmatisme, dan jarak pupil (PD) yang penting untuk pembuatan lensa. Hal ini mencegah kesalahan resep yang bisa semakin memperparah ketidaknyamanan.

  1. Pahami Resep Kacamata Anda

Setelah pemeriksaan, Anda akan menerima “resep” kacamata yang berisi kode seperti SPH, CYL, dan AXIS.

  • SPH: nilai minus yang menunjukkan rabun jauh.
  • CYL dan AXIS: jika ada, berarti Anda memiliki astigmatisme, dan lensa yang dibutuhkan lebih spesial.
  1. Pilih Jenis Lensa yang Tepat

Tergantung pada nilai minus dan kebutuhan harian Anda:

  • Untuk minus tinggi, pertimbangkan lensa high-index agar lebih tipis dan ringan
  • Jika sering bekerja di depan layar komputer, lensa dengan lapisan anti-pantul atau filter sinar biru bisa sangat berguna
  1. Sesuaikan Frame dengan Bentuk Wajah dan Kebiasaan

Pilih frame yang tidak hanya gaya, tetapi juga nyaman: sesuai bentuk wajah, ringan, dan kuat. Bingkai yang tepat bisa meningkatkan kenyamanan pemakaian dan mengoptimalkan letak lensa di depan mata.

  1. Pastikan Resep Anda Masih Valid

Resep kacamata bisa berubah seiring waktu. Menggunakan resep lama yang sudah tidak tepat lagi bisa menyebabkan mata cepat lelah, sakit kepala, atau penglihatan kabur.

  1. Gunakan Kacamata dengan Benar

Untuk hasil penglihatan terbaik, disarankan memakai kacamata sesuai resep setiap hari (jika disarankan dokter), bukan dipasang dan dilepas sesuka hati.

  1. Rawat Kacamata Anda dengan Baik

Perawatan yang tepat bisa memperpanjang umur kacamata: bersihkan lensa dengan kain mikrofiber, simpan di kotak saat tidak dipakai, dan hindari paparan panas yang berlebihan.

 

Sebelum membeli kacamata minus, lakukan pemeriksaan mata yang akurat, pahami resep Anda, dan pilih lensa serta frame yang sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu, penglihatan Anda tidak hanya menjadi lebih jelas, tetapi juga tetap nyaman dalam jangka panjang.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia




Our Vision


No person with a blinding condition, eye disease, or visual impairment should be without hope, understanding, and treatment.


Contact Us


Hubungi Kami

(031) 8495502, (031) 8433050
082143717979 ( WA only)


Kunjungi Kami

Jalan Raya Jemursari No. 108,
Surabaya, Indonesia


Email Kami

admin@surabayaeyeclinic.id



Lokasi Kami



Media Sosial


Instagram


facebook


Twitter


Youtube




CopyRight, 2024 | Managed by Markbro | PT Klinik Mata Surabaya




WeCreativez WhatsApp Support
Tim CS Kami Siap Membantu Anda. Silahkan Tanya Kami!