Dapatkan Informasi Mengenai kesehatan Mata dan Informasi Lainnya

Info Untuk Anda

Semoga Informasi ini bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh seputar edukasi tentang kesehatan mata kita.

Category filter:Allkesehatan mataPengumumanProduct KnowledgeUncategorizedVideo Edukasi
No more posts

Mengenal-Penyebab-Mata-Merah-Tanpa-Rasa-Sakit-dan-Cara-Mengatasinya.png
22/Jul/2025

Mata merah tanpa disertai rasa sakit bisa dialami oleh siapa saja. Meskipun tampak sepele, kondisi ini kadang membuat kita bingung karena tidak disertai rasa perih atau nyeri yang biasanya menyertai iritasi mata. Dalam banyak kasus, kondisi ini bukanlah pertanda masalah serius, namun tetap penting untuk memahami penyebabnya dan mengetahui langkah yang tepat untuk menanganinya.

 

Penyebab Mata Merah Tanpa Rasa Sakit

Mata yang tampak merah tanpa disertai keluhan nyeri bisa disebabkan oleh berbagai hal. Berikut adalah beberapa pemicu umum yang sering terjadi:

  • Alergi

Reaksi alergi terhadap serbuk sari, debu, bulu hewan, atau zat alergen lainnya dapat membuat mata menjadi merah meski tanpa rasa sakit. Tubuh melepaskan histamin sebagai respons terhadap alergen, sehingga pembuluh darah di mata melebar dan menyebabkan kemerahan.

  • Iritasi Lingkungan

Paparan asap rokok, polusi udara, bahan kimia di udara, atau bahkan semprotan parfum dapat menyebabkan iritasi ringan pada mata yang terlihat dari warna merah pada area putih mata.

  • Kelelahan Mata

Terlalu lama menatap layar komputer, ponsel, atau membaca dalam waktu lama dapat menyebabkan mata mengalami kelelahan. Kondisi ini bisa membuat mata memerah karena kurangnya waktu istirahat untuk otot-otot mata, dan jika terus dibiarkan dapat berisiko menyebabkan gangguan penglihatan seperti rabun jauh.

  • Paparan Sinar Matahari

Berada di bawah terik matahari tanpa menggunakan pelindung mata dapat membuat mata terpapar sinar ultraviolet berlebih. Hal ini bisa mengiritasi permukaan mata dan membuatnya tampak merah.

 

Apakah Mata Merah Tanpa Rasa Sakit Berbahaya?

Sebagian besar kasus mata merah yang tidak menimbulkan rasa sakit bersifat ringan dan tidak berbahaya. Biasanya hal ini berkaitan dengan iritasi ringan, alergi musiman, atau paparan lingkungan yang dapat ditangani dengan pengobatan rumahan sederhana. Namun, ada pula beberapa kondisi medis yang perlu diwaspadai, seperti:

  • Infeksi Mata

Beberapa infeksi seperti konjungtivitis (mata merah/pink eye) atau keratitis dapat menimbulkan mata merah pada tahap awal tanpa disertai nyeri. Jika tidak ditangani, infeksi ini bisa berkembang menjadi lebih serius dan menyebabkan komplikasi.

  • Penyakit Autoimun

Gangguan sistem kekebalan tubuh seperti rheumatoid arthritis atau lupus dapat memengaruhi mata. Peradangan yang terjadi bisa menyebabkan kemerahan bahkan tanpa rasa nyeri yang menyertai.

  • Benda Asing di Mata

Masuknya partikel kecil seperti debu, serat, atau serpihan kecil lainnya bisa menyebabkan iritasi. Kadang tidak terasa sakit, namun tetap menyebabkan pembuluh darah di mata melebar sebagai respons alami tubuh.

  • Glaukoma

Meskipun pada umumnya glaukoma tidak menimbulkan kemerahan, namun pada kasus tertentu seperti glaukoma sudut tertutup, peningkatan tekanan di dalam bola mata bisa membuat mata tampak merah karena pembuluh darah menjadi lebih menonjol.

 

Peradangan atau Aneurisma Pembuluh Darah di Mata

Kondisi medis yang memengaruhi pembuluh darah mata, seperti peradangan atau pelebaran pembuluh darah (aneurisma), juga dapat membuat mata terlihat merah walaupun tidak terasa sakit.

Apabila mata merah berlangsung terus-menerus atau disertai gejala lain seperti mata berair, kepekaan terhadap cahaya, atau perubahan tajam dalam penglihatan, sebaiknya segera periksa ke dokter mata. Pemeriksaan lebih lanjut akan membantu menemukan penyebab pasti dan memberikan perawatan yang sesuai.

 

Langkah Tepat Mengatasi Mata Merah Tanpa Rasa Sakit

Untuk mengurangi atau meredakan mata merah, ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan di rumah:

  • Istirahatkan Mata

Kurangi aktivitas yang membuat mata lelah, seperti menatap layar terlalu lama. Terapkan aturan 20-20-20: setiap 20 menit melihat layar, alihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik.

  • Gunakan Tetes Mata

Tetes mata yang diformulasikan untuk mengatasi iritasi ringan atau alergi bisa membantu meredakan kemerahan. Pilih tetes mata tanpa pengawet bila digunakan dalam jangka waktu lama.

  • Kompres Dingin

Tempelkan kain bersih yang telah direndam air dingin pada mata selama beberapa menit. Ini dapat membantu mengecilkan pembuluh darah dan mengurangi kemerahan atau pembengkakan.

  • Hindari Pemicu

Identifikasi faktor pemicu yang membuat mata Anda merah. Bila disebabkan oleh alergi, hindari kontak dengan alergen seperti debu atau bulu binatang. Bila disebabkan oleh iritasi lingkungan, usahakan berada di tempat yang bersih dan minim polusi.

  • Hindari Lensa Kontak atau Kacamata yang Tidak Tepat

Pastikan bahwa lensa kontak yang digunakan dalam kondisi bersih dan sesuai dengan resep dokter. Kacamata juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan mata agar tidak memperburuk iritasi.

  • Gunakan Air Mata Buatan

Di lingkungan yang kering atau saat mata terasa kering, air mata buatan dapat membantu menjaga kelembapan alami mata.

  • Hindari Obat Tetes yang Mengandung Zat Penghilang Rasa Nyeri

Beberapa tetes mata mengandung zat anestesi ringan untuk meredakan ketidaknyamanan. Penggunaan jangka panjang justru bisa menutupi gejala penting dan menyebabkan ketergantungan.

  • Jaga Kebersihan Mata

Cuci tangan sebelum menyentuh area sekitar mata. Hindari kebiasaan menggosok mata karena bisa memperparah iritasi atau menyebabkan luka mikro yang memperburuk kondisi.

Mata merah tanpa rasa sakit bisa berasal dari hal sederhana seperti alergi atau kelelahan, namun juga bisa menandakan adanya masalah kesehatan tertentu yang lebih serius. Karena itu, penting untuk mengenali gejala dan penyebabnya, serta segera mengambil tindakan yang tepat. Jika kondisi tidak membaik atau disertai gangguan penglihatan lainnya, jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter mata agar mendapatkan penanganan secara menyeluruh dan aman.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Ketika-Mata-Terlalu-Sensitif-Terhadap-Cahaya-Memahami-Fotofobia-Secara-Menyeluruh.png
21/Jul/2025

Fotofobia adalah kondisi ketika mata terasa tidak nyaman hingga terasa nyeri saat terpapar cahaya terang, baik itu dari sinar matahari maupun cahaya lampu. Meski cukup umum terjadi, kondisi ini bukan merupakan penyakit tersendiri, melainkan gejala dari gangguan kesehatan tertentu, terutama yang berkaitan dengan mata atau sistem saraf.

Gejala utama fotofobia mencakup rasa silau berlebihan, mata yang menjadi sangat sensitif terhadap cahaya, serta rasa perih saat melihat cahaya terang. Dalam beberapa kasus, keluhan ini bisa disertai dengan sakit kepala di area dahi dan refleks untuk menutup mata setiap kali terpapar cahaya. Fotofobia bisa terjadi pada satu mata saja maupun pada kedua mata.

 

Apa yang Menyebabkan Fotofobia?

Fotofobia umumnya berkaitan dengan gangguan pada mata atau sistem saraf. Hal ini disebabkan oleh keterlibatan saraf-saraf penerima cahaya di mata serta sistem saraf pusat yang berfungsi memproses informasi visual.

Beberapa gangguan pada mata yang sering menjadi penyebab fotofobia antara lain:

  • Mata kering
  • Uveitis, yaitu peradangan pada lapisan tengah mata (uvea)
  • Iritis, yaitu peradangan pada bagian iris atau selaput pelangi mata
  • Keratitis, yaitu peradangan yang terjadi pada kornea
  • Konjungtivitis, yaitu radang pada selaput bening yang melapisi bagian putih mata dan kelopak mata
  • Abrasi kornea, yakni luka gores di permukaan kornea
  • Katarak, kondisi di mana lensa mata menjadi keruh
  • Blepharospasm, yaitu kondisi mata yang berkedut terus-menerus
  • Glaukoma, yakni kerusakan saraf mata akibat tekanan bola mata yang meningkat

Selain masalah pada mata, gangguan pada sistem saraf juga dapat memicu fotofobia. Beberapa di antaranya adalah:

  • Meningitis, yakni peradangan pada meningen, lapisan pelindung otak dan sumsum tulang belakang
  • Supranuclear palsy, gangguan otak yang memengaruhi keseimbangan serta pergerakan mata
  • Tumor yang tumbuh di kelenjar pituitari (hipofisis), yang terletak di dasar otak

Tak hanya dari penyakit, fotofobia juga bisa timbul sebagai efek samping dari obat-obatan tertentu, seperti kina, furosemide, dan beberapa jenis antibiotik. Prosedur medis seperti LASIK (laser-assisted in situ keratomileusis) juga dapat menyebabkan keluhan ini pada beberapa orang.

 

Bagaimana Menangani Fotofobia?

Penanganan fotofobia bergantung pada penyebab dasarnya. Jika kondisi ini muncul karena suatu penyakit misalnya mata kering, konjungtivitis, abrasi kornea, atau migrain—maka penanganan akan difokuskan pada penyakit tersebut terlebih dahulu. Biasanya, setelah kondisi penyebabnya ditangani, gejala fotofobia pun akan mereda.

Selain mengobati penyebab, dokter juga bisa meresepkan obat-obatan untuk meredakan gejala yang dialami. Sembari menjalani pengobatan, beberapa langkah berikut bisa membantu mempercepat proses pemulihan:

  • Menggunakan kacamata hitam saat berada di luar ruangan untuk mengurangi paparan cahaya langsung
  • Membatasi aktivitas di tempat yang terlalu terang atau menghindari cahaya yang menyilaukan
  • Menghindari penggunaan lensa kontak agar mata tidak semakin iritasi
  • Tidak menggunakan riasan wajah di sekitar mata untuk mencegah kemungkinan iritasi tambahan
  • Menggunakan obat tetes mata sesuai petunjuk dan resep dari dokter

Apabila Anda mulai merasa lebih silau dari biasanya atau menjadi sangat sensitif terhadap cahaya, jangan anggap sepele. Periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan penanganan yang sesuai. Deteksi dini serta pengobatan yang tepat akan membantu mencegah gangguan ini mengganggu aktivitas sehari-hari.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Mengenal-Keratokonus-Kelainan-Kornea-yang-Mengubah-Pandangan.png
19/Jul/2025

Keratokonus adalah suatu kelainan pada mata, khususnya kornea, yang ditandai dengan penipisan progresif pada lapisan stroma dan perubahan bentuk kornea menjadi menyerupai kerucut. Kondisi ini menyebabkan terjadinya astigmatisme tidak teratur yang memengaruhi kualitas penglihatan. Keratokonus dapat dialami oleh siapa saja, baik pria maupun wanita.

Dalam populasi umum, angka kejadian keratokonus diperkirakan mencapai satu kasus pada setiap 2.000 orang. Para ahli mengemukakan bahwa kondisi ini bisa berkembang akibat kombinasi antara faktor genetik dan faktor lingkungan. Sekitar 6% hingga 8% penderita keratokonus memiliki riwayat keluarga dengan kelainan serupa, menunjukkan adanya kemungkinan predisposisi genetik. Selain itu, kasus keratokonus yang hanya terjadi pada satu mata (unilateral) dilaporkan terjadi dalam kisaran 14,3% hingga 41%.

Penanganan keratokonus disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisinya. Tujuan utama dari penatalaksanaan adalah untuk memperbaiki ketajaman penglihatan sekaligus memberikan kenyamanan bagi pasien. Pada tahap awal, penderita dapat dibantu dengan penggunaan kacamata atau lensa kontak lunak. Jika kondisi memburuk hingga tahap sedang atau lanjut, lensa kontak keras jenis rigid gas permeable (RGP) seringkali menjadi pilihan yang lebih tepat. Untuk kasus keratokonus berat yang disertai jaringan parut (scar) di bagian tengah kornea, tindakan operasi bisa menjadi opsi yang perlu dipertimbangkan.

Penting untuk melakukan pemantauan secara berkala pada pasien dengan keratokonus unilateral, karena dalam banyak kasus, kelainan ini dapat berkembang juga pada mata yang semula tidak terkena. Oleh karena itu, evaluasi topografi kornea jangka panjang menjadi bagian penting dari manajemen kondisi ini.

Pemilihan jenis terapi atau tatalaksana sangat bergantung pada tingkat keparahan keratokonus. Dengan penanganan yang tepat, kualitas penglihatan pasien dapat ditingkatkan secara signifikan.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Nistagmus-Ketika-Bola-Mata-Bergerak-Tak-Terkendali.png
18/Jul/2025

Nistagmus adalah kondisi medis yang ditandai dengan gerakan bola mata yang tidak terkendali. Gerakan ini bisa terjadi ke berbagai arah, baik menyamping (horizontal), naik-turun (vertikal), maupun memutar (torsional). Akibatnya, kemampuan melihat dengan jelas menjadi terganggu dan persepsi visual terhadap lingkungan bisa berubah drastis. Tak jarang, penderita juga mengalami kesulitan dalam mengoordinasikan gerakan tubuh secara normal.

 

Apa yang Menyebabkan Nistagmus?

Nistagmus dapat muncul karena faktor keturunan ataupun sebagai dampak dari gangguan medis tertentu. Masalah pada otak atau telinga bagian dalam yang bertanggung jawab atas koordinasi gerakan mata sering kali menjadi sumbernya.

Secara umum, kondisi ini terbagi menjadi dua jenis utama:

Infantile Nystagmus Syndrome (INS)

Jenis ini muncul sejak bayi dan biasanya dipicu oleh faktor genetik. Gejalanya bisa mulai terlihat pada usia 1,5 hingga 3 bulan. Banyak kasus INS tergolong ringan dan tidak memburuk seiring waktu, sehingga orang tua kerap tidak menyadari kondisi ini pada anaknya.

Meski demikian, INS juga bisa berkaitan dengan beberapa kondisi langka, seperti albinisme okular (kelainan pigmen pada mata), perkembangan saraf optik yang tidak sempurna (optic nerve hypoplasia), atau ketiadaan iris pada mata (aniridia).

Acquired Nystagmus

Berbeda dengan INS, jenis ini muncul akibat gangguan medis yang terjadi kemudian hari. Acquired nystagmus bisa memengaruhi otak, telinga dalam, bahkan sistem keseimbangan tubuh secara keseluruhan. Beberapa penyebab umumnya meliputi:

  • Cedera kepala
  • Konsumsi alkohol secara berlebihan
  • Sindrom paraneoplastik terkait kanker
  • Gangguan telinga dalam seperti penyakit Meniere dan labirinitis
  • Masalah penglihatan, seperti katarak atau strabismus (mata juling)
  • Penyakit neurologis seperti multiple sclerosis atau tumor otak
  • Kekurangan magnesium (hipomagnesemia)
  • Efek samping obat-obatan tertentu, seperti phenytoin, carbamazepine, atau barbiturat
  • Kekurangan vitamin B12
  • Stroke

 

Bagaimana Gejala Nistagmus Muncul?

Gejala utama nistagmus adalah pergerakan bola mata yang cepat, ritmis, dan tak terkendali. Meskipun paling sering terlihat sebagai gerakan horizontal, tidak menutup kemungkinan bola mata juga bergerak secara vertikal atau memutar.

Biasanya kondisi ini terjadi di kedua mata, meskipun ada juga yang hanya dialami pada salah satu mata. Kecepatan dan arah gerakan pun bisa berbeda pada tiap individu.

Gejala tambahan yang kerap menyertai nistagmus antara lain:

  • Pusing
  • Mual atau muntah
  • Vertigo (sensasi lingkungan sekitar berputar)
  • Penglihatan kabur atau berbayang
  • Gangguan keseimbangan
  • Sensitivitas terhadap cahaya
  • Sensasi lantai seperti bergetar
  • Sulit melihat dalam kondisi gelap
  • Penurunan kesadaran

 

Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?

Apabila mengalami gejala-gejala di atas, apalagi jika sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera konsultasikan diri ke dokter. Pemeriksaan sejak dini akan membantu mengidentifikasi penyebab dan mencegah komplikasi yang lebih serius.

 

Proses Diagnosis Nistagmus

Diagnosis diawali dengan wawancara medis seputar gejala, riwayat kesehatan, serta obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, salah satunya dengan meminta pasien berputar selama sekitar 30 detik, lalu menghentikan gerakan dan menatap suatu objek. Jika terjadi gerakan bola mata ke satu arah dan kemudian cepat kembali ke arah berlawanan, besar kemungkinan pasien mengalami nistagmus.

Untuk mendukung diagnosis, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan seperti:

  • Evaluasi fungsi telinga dalam
  • Pemeriksaan neurologis untuk mengecek sistem saraf
  • Pemindaian otak melalui CT scan atau MRI untuk mendeteksi kelainan struktural
  • Electro-oculography untuk mencatat gerakan bola mata menggunakan elektroda
  • Electronystagmography guna menilai respons mata terhadap posisi kepala serta rangsangan dari udara atau air di dalam telinga

 

Pilihan Pengobatan Nistagmus

Pengobatan akan disesuaikan dengan jenis dan penyebab nistagmus.

Pada kasus infantile nystagmus syndrome, kondisi ini umumnya tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, pasien bisa memakai kacamata atau lensa kontak untuk memperbaiki kualitas penglihatan. Dalam situasi yang lebih berat, dokter dapat mempertimbangkan prosedur tenotomy, yakni operasi untuk mengubah posisi otot penggerak bola mata, agar gerakannya menjadi lebih stabil.

Sementara itu, untuk acquired nystagmus, penanganan difokuskan pada penyebab utamanya, seperti:

  • Mengganti obat-obatan yang berpotensi menyebabkan gejala
  • Memberikan suplemen vitamin yang dibutuhkan
  • Memberi obat tetes atau antibiotik jika terjadi infeksi mata atau telinga
  • Menggunakan kacamata khusus untuk membantu penglihatan
  • Melakukan operasi saraf bila diperlukan
  • Mengonsumsi obat seperti gabapentin (antikejang) atau baclofen (pelemas otot)
  • Menyuntikkan botulinum toxin (botox) untuk mengendurkan otot mata yang terlalu aktif

 

Apa Saja Komplikasi yang Bisa Terjadi?

Tanpa penanganan yang tepat, nistagmus bisa menyebabkan kerusakan serius pada sistem penglihatan dan keseimbangan tubuh. Selain itu, kondisi ini bisa menjadi gejala dari masalah medis yang lebih besar, seperti stroke, trauma kepala, atau efek keracunan obat.

Komplikasi yang mungkin timbul mencakup:

  • Gangguan penglihatan permanen
  • Hilangnya koordinasi gerak tubuh
  • Gangguan fungsi otak
  • Kelumpuhan
  • Penurunan kemampuan berpikir
  • Cacat menetap
  • Koma

 

Apakah Nistagmus Bisa Dicegah?

Pada infantile nystagmus syndrome yang bersifat genetik, belum ada langkah pencegahan yang dapat dilakukan. Namun, untuk acquired nystagmus, pencegahan bisa dilakukan dengan cara menghindari faktor-faktor risiko. Beberapa langkah pencegahan yang bisa diterapkan antara lain:

  • Menghindari cedera kepala dengan menggunakan helm saat berkendara dan sabuk pengaman di mobil
  • Tidak mengonsumsi alkohol secara berlebihan
  • Memastikan asupan nutrisi, terutama vitamin, tercukupi
  • Menjaga gaya hidup sehat dengan pola makan seimbang, olahraga teratur, dan hidrasi yang cukup
  • Menghindari atau mengganti obat-obatan yang berisiko memicu nistagmus sesuai anjuran medis

Memahami nistagmus lebih dalam membantu kita menyadari pentingnya menjaga kesehatan sistem penglihatan dan keseimbangan tubuh. Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala yang mencurigakan, jangan ragu untuk segera mencari bantuan medis yang kompeten.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Mengenal-Lebih-Dekat-Ragam-Jenis-Buta-Warna-dan-Penyebabnya.png
17/Jul/2025

Buta warna merupakan kondisi gangguan penglihatan yang membuat seseorang kesulitan membedakan warna-warna tertentu. Umumnya, gangguan ini diturunkan secara genetik dari orang tua dan lebih sering ditemukan pada laki-laki dibanding perempuan.

Gangguan ini terjadi karena adanya masalah pada sel-sel kerucut atau fotoreseptor di retina mata yang tidak bekerja secara normal. Ketika sel-sel ini tidak dapat mengenali panjang gelombang cahaya dengan tepat, penglihatan terhadap warna pun terganggu. Akibatnya, beberapa warna tampak samar, keliru, atau bahkan tidak terlihat sama sekali oleh pengidapnya.

 

Buta warna tidak hanya terjadi dalam satu bentuk, melainkan memiliki beberapa variasi tergantung pada jenis sel kerucut yang tidak berfungsi dengan baik. Berikut penjelasan lebih lengkap mengenai jenis-jenis buta warna:

  1. Buta Warna Merah dan Hijau

Jenis ini merupakan bentuk paling umum dari buta warna. Kondisi ini terjadi akibat ketidakmampuan sel kerucut yang bertugas mengenali warna merah (protan) atau hijau (deutran). Beberapa jenis gangguan dalam kategori ini meliputi:

  • Protanomaly, yaitu kondisi di mana sebagian sel yang bertugas mengenali warna merah masih ada, tetapi tidak bekerja secara maksimal. Akibatnya, warna merah tampak redup atau cenderung abu-abu tua.
  • Protanopia, yakni kondisi di mana sel perespons warna merah tidak berfungsi sama sekali. Penglihatan pengidap biasanya didominasi oleh warna biru dan emas, karena warna-warna lain sulit dikenali.
  • Deuteranomaly, yaitu ketidakmampuan sel pengenal warna hijau bekerja secara optimal. Warna-warna yang dilihat akan terlihat seperti perpaduan antara biru dan kuning, atau terlihat kusam.
  • Deuteranopia, di mana sel pengenal warna hijau tidak bekerja sama sekali. Penglihatan warna akan didominasi oleh nuansa biru dan emas, mirip dengan protanopia.

 

  1. Buta Warna Biru dan Kuning

Jenis ini lebih jarang ditemukan dibandingkan buta warna merah-hijau. Gangguan ini disebabkan oleh ketidakmampuan sel kerucut yang merespons warna biru (tritan) untuk berfungsi normal. Dua jenis yang sering muncul di antaranya:

  • Tritanopia, yakni kondisi di mana sel yang bertugas merespons warna biru tidak ada. Pengidap akan melihat dunia dalam nuansa biru muda, merah, merah muda, dan ungu, tanpa mampu mengenali biru yang sebenarnya.
  • Tritanomaly, yaitu sel biru masih ada namun tidak bekerja sebaik pada orang normal. Akibatnya, warna biru bisa terlihat seperti hijau atau kuning.

 

  1. Buta Warna Total

Dalam kondisi ini, seseorang benar-benar tidak bisa membedakan warna sama sekali. Semua yang terlihat tampak abu-abu, seperti menonton televisi hitam putih. Buta warna total terbagi menjadi dua jenis:

  • Monokromasi kerucut biru, di mana hanya satu jenis sel kerucut yang berfungsi. Pengidap mengalami kesulitan membedakan warna, sensitif terhadap cahaya, dan bisa mengalami rabun dekat.
  • Monokromasi batang, kondisi paling parah dari buta warna. Hanya sel batang yang berfungsi, sementara seluruh atau sebagian besar sel kerucut tidak bekerja. Pengidap akan melihat dunia dalam gradasi abu-abu, sering mengalami gerakan bola mata yang tidak terkendali, dan sangat sensitif terhadap cahaya.

 

Apakah Buta Warna Bisa Disembuhkan?

Hingga saat ini, belum ditemukan pengobatan yang bisa menyembuhkan buta warna secara menyeluruh. Meski begitu, bagi pengidap buta warna ringan, penggunaan kacamata khusus atau lensa kontak berfilter warna dapat membantu membedakan warna dengan lebih baik. Namun perlu dipahami, alat bantu tersebut hanya bersifat membantu, bukan menyembuhkan. Buta warna, terutama yang diturunkan secara genetik, akan menjadi kondisi permanen sepanjang hidup.

Pemahaman terhadap jenis dan tingkat keparahan buta warna penting untuk membantu pengidap menyesuaikan aktivitas sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan warna. Penyesuaian ini dapat meningkatkan kualitas hidup dan meminimalkan hambatan dalam pekerjaan maupun kehidupan sosial.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Menjaga-Jendela-Dunia-Tanda-Tanda-Mata-Sehat-yang-Perlu-Kamu-Ketahui.png
16/Jul/2025

Mata memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Dari melihat wajah orang terkasih hingga menikmati panorama alam, semua bisa dilakukan berkat organ penglihatan ini. Tak heran jika muncul ungkapan bahwa mata adalah jendela dunia. Untuk itu, penting bagi setiap orang memahami seperti apa kondisi mata yang sehat agar dapat terus menjalani hidup dengan nyaman dan produktif.

Berikut adalah berbagai tanda yang menunjukkan bahwa matamu dalam keadaan sehat dan berfungsi dengan baik:

  • Penglihatan yang Tajam dan Jelas

Salah satu indikator utama mata yang sehat adalah kemampuan melihat secara jelas, baik jarak dekat maupun jauh, tanpa harus menyipitkan mata atau menggosoknya. Jika penglihatan mulai terasa kabur atau berbayang, bisa jadi itu adalah tanda adanya gangguan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

  • Lensa dan Kornea yang Bening

Lensa dan kornea memainkan peranan penting dalam proses masuknya cahaya ke mata. Lensa membantu memfokuskan cahaya ke retina, sementara kornea membiaskan cahaya agar jatuh di titik yang tepat. Keduanya harus dalam keadaan bening agar proses penglihatan berjalan optimal. Jika lensa atau kornea tampak keruh, kemampuan melihat bisa menurun.

  • Pupil Simetris di Kedua Mata

Pupil adalah bagian hitam di tengah mata yang mengatur intensitas cahaya yang masuk. Ukuran pupil kiri dan kanan yang sama atau simetris menunjukkan fungsi saraf dan otot pengatur mata bekerja normal. Ketidaksamaan ukuran pupil bisa menjadi tanda adanya gangguan neurologis yang patut diwaspadai.

  • Gerakan Bola Mata yang Lancar

Mata yang dapat bergerak ke segala arah tanpa hambatan menandakan bahwa otot dan saraf pengontrol gerak mata berfungsi baik. Ini penting untuk menjaga fokus dan kestabilan penglihatan saat mengikuti objek atau berpindah pandangan.

  • Sklera yang Putih Bersih

Sklera adalah bagian putih bola mata yang melindungi bagian dalam mata dan mempertahankan bentuknya. Warna putih bersih menandakan kondisi mata yang sehat. Sebaliknya, sklera yang tampak kemerahan atau kekuningan bisa menjadi pertanda adanya infeksi, iritasi, atau gangguan kesehatan lain seperti penyakit kuning.

  • Posisi Bola Mata Sejajar

Ketika kamu melihat lurus ke depan dan kedua bola mata berada pada garis yang sejajar, ini menunjukkan bahwa otot penggerak mata bekerja dengan baik. Ketidaksejajaran posisi bola mata bisa menjadi gejala gangguan otot atau saraf mata.

  • Fungsi Konjungtiva yang Baik

Konjungtiva adalah lapisan tipis transparan yang melapisi bagian depan mata dan bagian dalam kelopak mata. Lapisan ini berperan penting dalam menjaga kelembapan mata dengan memproduksi lendir dan air mata. Jika konjungtiva tidak bekerja dengan baik, mata bisa menjadi kering dan rentan terhadap iritasi.

  • Produksi Belek yang Wajar

Belek adalah hasil alami dari proses pembersihan mata, terutama saat tidur. Namun, mata yang sehat tidak akan menghasilkan belek secara berlebihan. Jika belek berjumlah banyak, berwarna kekuningan atau kehijauan, disertai dengan rasa gatal atau kemerahan, bisa jadi ada infeksi yang perlu ditangani.

  • Tekanan Mata yang Normal

Tekanan intraokular atau tekanan mata yang ideal berada pada kisaran 10 hingga 20 mmHg. Tekanan ini dihasilkan oleh cairan dalam bola mata yang membantu mempertahankan bentuk dan fungsi mata. Jika tekanan terlalu tinggi atau rendah, bisa terjadi kerusakan pada saraf optik yang memengaruhi penglihatan secara permanen. Pemeriksaan tonometri oleh dokter mata bisa memastikan apakah tekanan mata kamu masih dalam batas wajar.

 

Langkah-Langkah Menjaga Kesehatan Mata

Mengetahui tanda-tanda mata sehat saja tidak cukup, kamu juga perlu menjaga dan merawat mata agar tetap dalam kondisi optimal. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:

  • Konsumsi makanan bergizi, terutama yang kaya vitamin A, antioksidan, dan asam lemak omega-3.
  • Gunakan kacamata hitam saat beraktivitas di bawah sinar matahari.
  • Lindungi mata saat melakukan olahraga atau aktivitas berisiko.
  • Batasi waktu menatap layar gadget, komputer, atau televisi secara berlebihan.
  • Cuci tangan sebelum menyentuh mata atau menggunakan lensa kontak.
  • Hindari kebiasaan merokok karena dapat mempercepat degenerasi makula.
  • Rutin berolahraga untuk melancarkan sirkulasi darah, termasuk ke mata.
  • Periksa kesehatan mata secara berkala, minimal setiap dua tahun sekali.

Memelihara kesehatan mata bukan hanya soal menjaga penglihatan, tapi juga tentang menjaga kualitas hidup. Mata yang sehat memungkinkanmu bekerja, belajar, dan menikmati keindahan dunia tanpa hambatan. Maka dari itu, jangan abaikan tanda-tanda penting dari mata yang sehat dan lakukan pemeriksaan rutin sebagai langkah preventif.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Menjaga-Mata-Tetap-Sehat-Pentingnya-Pemeriksaan-Rutin-dan-Perawatan-Sehari-hari.png
14/Jul/2025

Mata merupakan salah satu indra terpenting yang memungkinkan kita menjalani aktivitas harian dengan lancar, mulai dari membaca, bekerja, hingga berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Sayangnya, tak sedikit orang yang menyepelekan kesehatan mata dan jarang melakukan pemeriksaan rutin. Padahal, kebiasaan ini sangat penting untuk mendeteksi gangguan penglihatan sedini mungkin, termasuk kondisi serius seperti katarak, glaukoma, hingga degenerasi makula yang bisa menyebabkan kebutaan permanen.

Melalui pemeriksaan mata berkala dan perawatan harian yang tepat, kita bisa menjaga fungsi penglihatan tetap optimal hingga usia lanjut. Berikut uraian mengenai pentingnya pemeriksaan mata rutin, kapan waktu yang ideal untuk memeriksakan mata, jenis-jenis pemeriksaan yang dilakukan, serta cara sederhana menjaga kesehatan mata di rumah.

 

Mengapa Pemeriksaan Mata Rutin Itu Penting?

Melakukan pemeriksaan mata secara berkala merupakan langkah preventif yang sangat krusial. Terutama bagi Anda yang telah menginjak usia 40 tahun atau memiliki riwayat keluarga dengan gangguan mata, pemeriksaan ini akan sangat membantu dalam menjaga kualitas penglihatan. Beberapa alasan utamanya antara lain:

  1. Mendeteksi Penyakit Mata Sejak Dini

Penyakit mata seperti glaukoma, katarak, dan degenerasi makula biasanya berkembang secara perlahan tanpa gejala yang terasa pada awalnya. Pemeriksaan rutin memungkinkan dokter untuk menemukan tanda-tanda awal gangguan tersebut dan memberikan penanganan lebih cepat sebelum kondisi semakin parah.

  1. Mencegah Penurunan Kualitas Penglihatan

Masalah umum seperti rabun jauh (miopia), rabun dekat (hipermetropia), astigmatisme, maupun presbiopia yang kerap muncul seiring bertambahnya usia dapat diketahui melalui pemeriksaan mata. Dengan penggunaan alat bantu seperti kacamata atau lensa kontak yang sesuai, Anda bisa tetap menjalani aktivitas tanpa gangguan penglihatan.

  1. Mengungkap Masalah Kesehatan Lain

Mata bisa menjadi cermin dari kondisi kesehatan tubuh secara menyeluruh. Dalam banyak kasus, dokter mata bisa menemukan indikasi penyakit sistemik seperti diabetes, tekanan darah tinggi, atau kolesterol tinggi melalui pemeriksaan mata.

  1. Membantu Menjaga Kesehatan Mata di Usia Lanjut

Seiring bertambahnya usia, kemampuan mata biasanya mengalami penurunan. Pemeriksaan rutin dapat membantu memantau perubahan ini serta memberikan solusi terbaik seperti pemberian resep kacamata atau terapi pengobatan.

 

Waktu yang Tepat untuk Memeriksakan Mata

Pemeriksaan mata penting dilakukan di setiap fase kehidupan, meskipun frekuensinya dapat berbeda tergantung usia, riwayat kesehatan, dan kondisi genetik.

  • Masa Bayi dan Anak-anak (0–5 Tahun)

Di usia ini, pemeriksaan diperlukan untuk mendeteksi gangguan seperti mata juling (strabismus) atau mata malas (ambliopia) yang bisa menghambat perkembangan penglihatan anak.

  • Masa Sekolah (6–18 Tahun)

Pemeriksaan sebaiknya dilakukan setiap dua tahun, terutama untuk mengidentifikasi masalah penglihatan yang bisa mengganggu proses belajar, seperti kesulitan membaca tulisan di papan tulis atau buku.

  • Usia Dewasa Muda (19–39 Tahun)

Jika tidak memiliki keluhan atau riwayat penyakit mata, pemeriksaan setiap dua hingga tiga tahun masih tergolong cukup. Namun, bagi mereka dengan penyakit seperti diabetes atau keluarga dengan riwayat glaukoma, frekuensinya perlu ditingkatkan.

  • Usia 40 Tahun ke Atas

Di usia ini, risiko penyakit mata meningkat. Pemeriksaan setiap satu hingga dua tahun sangat dianjurkan untuk mendeteksi presbiopia dan penyakit mata degeneratif lainnya.

 

 

Jenis Pemeriksaan Mata yang Umum Dilakukan

Saat melakukan pemeriksaan mata rutin, dokter akan melakukan serangkaian tes untuk mengevaluasi berbagai aspek fungsi dan kesehatan mata. Beberapa pemeriksaan yang umum dilakukan meliputi:

Tes Penglihatan

Digunakan untuk mengetahui kemampuan mata melihat objek pada jarak dekat dan jauh. Tes ini menjadi dasar untuk menentukan apakah Anda membutuhkan kacamata atau lensa kontak.

Tes Ketajaman Visual

Menggunakan grafik huruf (Snellen chart), dokter akan mengukur sejauh mana mata dapat melihat objek dengan jelas. Tes ini mendeteksi rabun jauh, rabun dekat, atau astigmatisme.

Tes Warna

Memeriksa kemampuan Anda dalam membedakan warna. Hasilnya bisa menunjukkan apakah Anda memiliki gangguan buta warna.

Pemeriksaan Fundus

Dokter akan memeriksa bagian dalam mata, termasuk retina dan saraf optik, untuk mendeteksi kerusakan akibat penyakit seperti diabetes atau glaukoma.

Tonometri (Tes Tekanan Bola Mata)

Tes ini mengukur tekanan di dalam bola mata untuk mendeteksi glaukoma. Tekanan yang terlalu tinggi dapat merusak saraf optik jika tidak ditangani.

Pemeriksaan Retina dan Pembuluh Darah Mata

Pemeriksaan mendalam ini bertujuan mengamati kondisi retina dan sirkulasi darah di sekitarnya, guna mendeteksi penyakit seperti degenerasi makula atau komplikasi akibat diabetes.

Pemeriksaan Lensa dan Kornea

Melalui alat khusus, dokter akan memeriksa lensa untuk melihat tanda-tanda katarak, dan mengevaluasi bentuk serta kejernihan kornea.

 

Perawatan Sehari-hari untuk Menjaga Kesehatan Mata

Selain pemeriksaan di dokter, menjaga mata tetap sehat juga bisa dilakukan melalui kebiasaan baik di rumah. Beberapa cara sederhana yang efektif antara lain:

  • Beristirahat dari Layar

Jika Anda sering menggunakan komputer atau ponsel, terapkan aturan 20-20-20: setiap 20 menit, alihkan pandangan ke objek sejauh 6 meter selama 20 detik untuk menghindari kelelahan mata.

  • Menjaga Kebersihan Mata

Hindari menyentuh mata dengan tangan yang belum dicuci, dan pastikan lensa kontak selalu bersih untuk mencegah infeksi.

  • Melindungi Mata dari Sinar UV

Gunakan kacamata hitam dengan perlindungan UV 100% saat beraktivitas di luar ruangan, karena paparan sinar ultraviolet dapat merusak jaringan mata.

  • Mengonsumsi Makanan Bergizi

Asupan nutrisi yang kaya vitamin A, C, E, lutein, dan omega-3 sangat penting untuk kesehatan mata. Wortel, sayuran hijau, ikan berlemak, dan telur adalah beberapa contoh makanan yang baik untuk mata.

  • Cukup Tidur

Tidur yang cukup membantu mata untuk beristirahat dan memperbaiki diri dari kelelahan akibat aktivitas seharian.

  • Gunakan Alat Bantu Penglihatan yang Sesuai

Jika Anda menggunakan kacamata atau lensa kontak, pastikan resepnya selalu diperbarui dan sesuai kebutuhan agar penglihatan tetap optimal.

 

Merawat mata seharusnya menjadi prioritas utama dalam menjaga kualitas hidup. Pemeriksaan mata secara berkala tak hanya membantu mendeteksi gangguan mata sejak dini, tetapi juga memberikan perlindungan jangka panjang terhadap risiko kebutaan atau penyakit mata kronis. Dengan mengombinasikan pemeriksaan rutin dan gaya hidup sehat, Anda bisa memastikan mata tetap tajam dan sehat hingga usia lanjut. Jangan tunda untuk memeriksakan mata, terutama jika Anda sudah memasuki usia 40 tahun ke atas atau memiliki riwayat penyakit mata dalam keluarga.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Mengenal-Dakriosistitis-Infeksi-Kelenjar-Air-Mata-yang-Perlu-Diwaspadai.png
12/Jul/2025

Kelenjar air mata memiliki peran vital dalam menjaga kesehatan mata dengan memproduksi air mata yang akan keluar melalui ujung mata. Cairan ini berfungsi melumasi, melindungi, dan membersihkan mata dari kotoran maupun partikel asing. Namun, kelenjar ini juga bisa mengalami gangguan serius seperti infeksi yang disebut dakriosistitis. Kondisi ini bisa menyebabkan rasa tidak nyaman hingga komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat.

 

Apa Itu Dakriosistitis?

Dakriosistitis merupakan infeksi pada kelenjar air mata yang terjadi akibat peradangan, baik akut maupun kronis. Kondisi ini umumnya ditandai dengan luka, bengkak, serta kemerahan di area dekat hidung, tempat kelenjar lakrimal berada. Infeksi ini muncul karena tersumbatnya saluran lakrimal, yaitu saluran tempat air mata mengalir dari mata menuju rongga hidung.

Kelenjar lakrimal yang berukuran kecil terletak di kelopak mata bagian atas. Air mata yang diproduksi akan menyebar ke seluruh permukaan mata setiap kali berkedip, kemudian mengalir ke saluran kecil bernama puncta, menuju saluran lakrimal dan akhirnya ke hidung. Jika saluran ini tersumbat, cairan yang seharusnya mengalir keluar akan menumpuk, menciptakan lingkungan yang ideal bagi bakteri untuk berkembang biak dan menyebabkan infeksi.

 

Gejala yang Muncul

Dakriosistitis memiliki gejala khas yang perlu dikenali agar bisa segera ditangani. Beberapa di antaranya:

  • Produksi air mata berlebih
  • Nyeri atau ketidaknyamanan di area sekitar mata
  • Keluarnya nanah dari sudut mata
  • Pembengkakan dan kemerahan di dekat hidung
  • Demam, terutama pada kasus akut
  • Penglihatan kabur atau mata terasa berat
  • Keluarnya lendir atau belekan
  • Pengerasan pada kelopak mata

Dakriosistitis kronis biasanya menimbulkan gejala yang lebih ringan dan berlangsung dalam waktu lama, sedangkan bentuk akut sering disertai nanah dan demam yang menandakan peradangan hebat. Jika tidak segera diobati, infeksi akut dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berbahaya.

 

Komplikasi yang Dapat Terjadi

Infeksi kelenjar air mata yang tidak ditangani dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, antara lain:

  • Kebutaan, jika infeksi menyebar ke jaringan mata dan pembuluh darah
  • Abses otak, akibat penyebaran nanah ke otak
  • Meningitis, ketika peradangan menjalar ke selaput otak dan tulang belakang
  • Sepsis atau infeksi darah yang mengancam jiwa

 

Penyebab Dakriosistitis

Penyumbatan saluran air mata adalah penyebab utama dakriosistitis. Ketika saluran ini tersumbat sebagian atau sepenuhnya, air mata tidak dapat mengalir keluar, sehingga menjadi tempat berkembang biaknya bakteri seperti Staphylococcus aureus.

Dakriosistitis bisa terjadi pada siapa saja, namun paling sering ditemukan pada bayi. Pada bayi, kondisi ini dikenal sebagai dakriosistitis kongenital dan biasanya terjadi karena saluran air mata belum berkembang sempurna sejak lahir. Lubang-lubang kecil (puncta) yang belum terbuka dapat menyebabkan air mata tetap menggenang dan memicu infeksi. Meskipun sebagian besar kasus ini akan membaik dengan sendirinya seiring pertumbuhan, beberapa di antaranya memerlukan pemeriksaan lebih lanjut jika infeksi terus berulang.

 

Faktor Risiko yang Perlu Diperhatikan

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami dakriosistitis antara lain:

  • Usia lanjut. Lansia memiliki saluran air mata yang cenderung menyempit seiring bertambahnya usia, terutama pada wanita.
  • Infeksi kronis pada mata, saluran air mata, atau hidung, seperti sinusitis yang menimbulkan luka atau jaringan parut.
  • Cedera fisik seperti patah tulang hidung yang mengganggu saluran air mata.
  • Tumor di sekitar saluran air mata yang menekan dan menghambat aliran air mata.
  • Penggunaan obat kemoterapi atau terapi radiasi yang menimbulkan efek samping pada sistem saluran air mata.
  • Kelainan struktural seperti deviasi septum hidung.
  • Rhinitis atau peradangan pada lapisan dalam hidung.

 

Proses Diagnosis oleh Dokter

Diagnosis dakriosistitis biasanya diawali dengan wawancara gejala dan pemeriksaan fisik mata. Beberapa tes mungkin dilakukan untuk memastikan penyebabnya, antara lain:

  • Tes pengeringan air mata untuk mengukur kecepatan penguapan air mata
  • Pengairan dan probing dengan menyemprotkan larutan garam ke saluran air mata untuk melihat kelancaran aliran
  • Pemeriksaan pencitraan seperti X-ray, CT scan, atau MRI untuk mendeteksi letak dan penyebab penyumbatan

 

Pilihan Pengobatan Dakriosistitis

Pengobatan dakriosistitis akan disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahannya. Beberapa metode yang umum digunakan meliputi:

  1. Antibiotik

Digunakan untuk mengatasi infeksi akibat bakteri, baik dalam bentuk obat minum maupun tetes mata.

  1. Pijatan kelenjar air mata

Khusus untuk bayi, pijatan lembut di sekitar area hidung atas dapat membantu membuka sumbatan saluran air mata.

  1. Menunggu penyembuhan cedera

Jika penyumbatan disebabkan oleh trauma, dokter mungkin menyarankan untuk menunggu beberapa bulan guna melihat perbaikan alami.

  1. Dilatasi, probing, dan flushing

Teknik ini digunakan untuk memperlebar dan membersihkan saluran air mata, terutama pada bayi dan balita, atau dewasa dengan sumbatan parsial.

  1. Dilatasi kateter balon

Metode ini memanfaatkan balon kecil untuk membuka saluran yang tersumbat dan biasanya efektif untuk anak-anak dan orang dewasa dengan sumbatan ringan.

  1. Pemasangan stent atau intubasi

Selang silikon dipasang di mata sebagai saluran air mata buatan, dilakukan dengan anestesi lokal. Ini menjadi pilihan ketika antibiotik tidak lagi efektif.

  1. Operasi dacryocystorhinostomy (DCR)

Prosedur ini dilakukan untuk membuat saluran baru agar air mata bisa mengalir ke hidung. Biasanya disarankan jika infeksi akut tak kunjung sembuh atau pada kasus kronis yang berulang.

Dakriosistitis adalah infeksi kelenjar air mata yang tidak boleh diabaikan. Gejalanya bisa ringan hingga berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani. Mengetahui tanda-tanda awal, penyebab, serta metode pengobatannya dapat membantu Anda mencegah dan merawat kondisi ini dengan tepat. Konsultasikan dengan dokter jika Anda mengalami gejala dakriosistitis agar penanganan dapat segera dilakukan.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Waspadai-Pinguecula-Benjolan-Kuning-di-Mata-yang-Kerap-Terabaikan.png
11/Jul/2025

Pinguecula adalah kondisi yang ditandai dengan munculnya benjolan atau bintik berwarna kekuningan pada permukaan mata, tepatnya pada konjungtiva—lapisan tipis yang menutupi bagian putih bola mata. Meski bersifat non-kanker dan umumnya tidak membahayakan, kemunculannya bisa mengganggu kenyamanan serta kepercayaan diri seseorang, terutama jika tampak mencolok.

 

Kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja, namun lebih sering ditemukan pada individu berusia paruh baya hingga lanjut usia. Paparan sinar matahari yang berlebihan, debu, angin, serta lingkungan kering turut berperan dalam memicu kemunculan pinguecula.

Meskipun tidak tergolong kondisi serius, pinguecula dapat menimbulkan gejala yang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini.

 

Gejala Pinguecula yang Perlu Diwaspadai

Beberapa gejala yang umum muncul akibat pinguecula antara lain:

  • Munculnya bercak atau benjolan kecil berwarna kekuningan pada konjungtiva, yang menjadi gejala paling khas.
  • Mata tampak merah, terasa gatal, dan mengalami iritasi atau bahkan pembengkakan ringan.
  • Sensasi mata kering yang terus-menerus.
  • Muncul perasaan seolah-olah ada pasir atau benda kecil lain yang mengganjal di mata.
  • Mata terlihat lebih berair atau berkaca-kaca dari biasanya.

Gejala ini bisa terjadi pada satu mata saja, namun tidak menutup kemungkinan bisa muncul di kedua mata sekaligus. Bahkan, dalam beberapa kasus, lebih dari satu benjolan bisa muncul di mata yang sama. Jika kamu merasakan gejala-gejala tersebut, terutama disertai gangguan visual atau ketidaknyamanan yang terus berulang, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter spesialis mata.

 

Pilihan Pengobatan untuk Pinguecula

Sebagian besar kasus pinguecula tidak memerlukan perawatan medis khusus. Namun, ketika kondisinya menimbulkan rasa tidak nyaman seperti perih atau iritasi, beberapa bentuk penanganan bisa direkomendasikan dokter. Salah satu perawatan umum adalah penggunaan salep atau obat tetes mata yang dapat mengurangi peradangan dan rasa gatal.

Dalam kasus yang lebih serius atau ketika benjolan tersebut mengganggu penampilan, dokter mungkin menyarankan prosedur pembedahan untuk mengangkat pinguecula. Operasi ini biasanya menjadi pilihan jika:

  • Benjolan sudah mencapai kornea dan mulai mengganggu penglihatan.
  • Pengguna lensa kontak merasa sangat tidak nyaman akibat keberadaan pinguecula.
  • Peradangan pada benjolan tidak mereda meski sudah diobati dengan obat tetes atau salep.
  • Benjolan terus tumbuh dan menjadi lebih menonjol.

Diskusi dengan dokter mata sangat penting sebelum memutuskan menjalani operasi, mengingat prosedur ini biasanya hanya dilakukan dalam kondisi yang benar-benar memerlukan intervensi medis.

 

Langkah Pencegahan agar Pinguecula Tidak Muncul

  • Jika kamu sering beraktivitas di luar ruangan, risiko mengalami pinguecula akan lebih tinggi karena paparan sinar ultraviolet dan partikel asing seperti debu atau pasir. Oleh karena itu, perlindungan mata menjadi hal yang sangat penting.
  • Gunakan kacamata hitam yang mampu menghalau sinar UVA dan UVB saat berada di luar ruangan. Kacamata ini tak hanya melindungi dari sinar matahari, tetapi juga dari angin kencang dan partikel halus yang bisa masuk ke mata.
  • Menjaga kelembapan mata juga sangat penting untuk mencegah pinguecula. Kamu bisa menggunakan air mata buatan secara rutin, terutama jika sering berada di tempat ber-AC atau beriklim kering.
  • Selain perawatan dari luar, penting juga untuk merawat mata dari dalam. Asupan nutrisi yang cukup, baik dari makanan maupun suplemen, sangat berperan dalam menjaga kesehatan mata secara menyeluruh.
  • Dengan mengenali gejala sejak dini dan menjaga kesehatan mata secara konsisten, kamu bisa menghindari risiko komplikasi dari pinguecula dan tetap menjalani aktivitas dengan nyaman dan percaya diri.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Refleks-Putih-pada-Pupil-Waspadai-Gejala-Leukokoria-yang-Bisa-Menunjukkan-Masalah-Serius-pada-Mata.png
10/Jul/2025

Leukokoria, yang dikenal juga sebagai “refleks putih”, merupakan kondisi ketika pupil mata memantulkan cahaya putih yang tidak normal. Fenomena ini umumnya tampak jelas dalam foto yang diambil dengan lampu kilat atau di tempat dengan pencahayaan rendah. Dalam keadaan normal, pupil akan terlihat hitam karena tidak ada cahaya yang memantul dari dalam mata. Namun, saat terjadi leukokoria, cahaya tampak kembali dari struktur mata dan memberikan warna putih yang mencolok pada pupil.

Kondisi ini bukan sekadar kelainan sepele, sebab bisa menjadi pertanda dari masalah serius pada mata. Refleks putih sering kali menjadi indikasi adanya gangguan yang bisa mengancam penglihatan, bahkan nyawa, terutama pada anak-anak. Leukokoria dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis, mulai dari yang tidak berbahaya hingga yang memerlukan tindakan medis segera. Oleh karena itu, penting untuk mengenali penyebabnya, memahami gejala yang menyertainya, dan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memeriksakan diri ke dokter.

 

Apa yang Terjadi Saat Terjadi Leukokoria?

Leukokoria muncul sebagai pantulan cahaya putih di dalam pupil. Hal ini sering kali pertama kali terdeteksi oleh orang tua melalui hasil jepretan kamera yang menggunakan flash. Pupil yang biasanya tampak hitam, justru terlihat putih terang dalam foto. Reaksi ini mengindikasikan adanya sesuatu di bagian dalam mata yang memantulkan cahaya secara tidak normal sebuah kondisi yang patut diwaspadai, terutama bila terjadi berulang atau pada satu mata saja.

 

Berbagai Penyebab yang Bisa Menimbulkan Leukokoria

Ada sejumlah kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya leukokoria, baik yang muncul sejak lahir maupun yang berkembang seiring waktu. Berikut beberapa penyebab paling umum:

  • Retinoblastoma adalah penyebab yang paling sering dikaitkan dengan leukokoria, terutama pada anak usia di bawah lima tahun. Ini merupakan jenis kanker mata langka dan agresif yang menyerang retina. Tumor di retina dapat memantulkan cahaya dan menghasilkan refleks putih di pupil.
  • Katarak kongenital juga dapat memunculkan leukokoria. Katarak terjadi ketika lensa alami mata menjadi keruh, sehingga cahaya yang masuk ke mata dipantulkan kembali sebagai cahaya putih. Meskipun lebih sering terjadi pada lansia, kondisi ini bisa terjadi sejak bayi.
  • Ablasi retina, atau terlepasnya retina dari jaringan pendukungnya, dapat menyebabkan gejala seperti pantulan cahaya putih pada mata, disertai gangguan visual lain seperti bayangan melayang atau cahaya kilat.
  • Penyakit Coats menyebabkan pembentukan pembuluh darah abnormal di retina yang bocor dan menyebabkan pembengkakan. Cairan yang tertimbun bisa memengaruhi cara cahaya dipantulkan di dalam mata.
  • PHPV (Persistent Hyperplastic Primary Vitreous) adalah kelainan bawaan yang menyebabkan bagian dalam mata tidak berkembang normal, menimbulkan pertumbuhan jaringan yang tidak biasa dan akhirnya menghasilkan leukokoria.
  • Infeksi retina atau peradangan, seperti toksokariasis atau uveitis, dapat mengganggu struktur retina dan menciptakan pantulan cahaya abnormal pada pupil.
  • Dislokasi lensa akibat trauma atau kondisi genetik tertentu bisa menyebabkan lensa tergeser, sehingga pantulan cahaya tidak berlangsung seperti seharusnya.
  • Pertumbuhan pembuluh darah abnormal, terutama pada bayi, juga bisa mengakibatkan cahaya yang masuk ke mata terpantul secara tidak wajar dan terlihat sebagai leukokoria.

 

Gejala yang Sering Menyertai Leukokoria

Leukokoria sendiri adalah gejala visual, namun sering kali disertai gejala tambahan yang bergantung pada penyebabnya. Gejala-gejala tersebut bisa berupa:

  • Gangguan penglihatan, seperti penglihatan kabur atau sulit melacak objek pada anak kecil.
  • Mata juling atau strabismus, yaitu kondisi di mana arah pandangan kedua mata tidak sejajar.
  • Kemerahan dan pembengkakan, terutama bila leukokoria disebabkan oleh infeksi atau peradangan.
  • Sensasi sakit pada mata, meskipun leukokoria biasanya tidak menimbulkan nyeri langsung.
  • Kilatan cahaya atau bintik mengambang, terutama pada kasus ablasi retina.
  • Penurunan tajam penglihatan, yang bisa terjadi secara bertahap atau mendadak.

 

 

Waktu yang Tepat untuk Berkonsultasi ke Dokter

Mendeteksi leukokoria sedini mungkin sangat krusial. Orang tua sebaiknya tidak menunda untuk membawa anak ke dokter mata jika mendapati refleks putih di pupil anak mereka. Tanda-tanda berikut memerlukan perhatian medis segera:

  • Refleks putih yang muncul mendadak tanpa sebab yang jelas.
  • Penurunan kemampuan melihat, baik secara bertahap maupun tiba-tiba.
  • Disertai gejala lain seperti mata merah, nyeri, atau kilatan cahaya.
  • Ada riwayat keluarga dengan penyakit mata seperti retinoblastoma atau kelainan bawaan lainnya.

 

Bagaimana Leukokoria Didiagnosis?

Proses diagnosis dilakukan oleh dokter spesialis mata melalui serangkaian pemeriksaan yang meliputi:

  • Pemeriksaan mata lengkap, termasuk evaluasi retina dan lensa.
  • Pencitraan retina, seperti tomografi koherensi optik (OCT) atau fotografi fundus untuk mendapatkan gambaran retina yang detail.
  • USG bola mata, terutama untuk mendeteksi adanya tumor atau ablasi retina.
  • Pengujian genetik, bila diduga berkaitan dengan retinoblastoma.
  • Tes darah, untuk memeriksa infeksi seperti toksokariasis.
  • CT scan atau MRI, bila diperlukan untuk mengevaluasi struktur mata lebih dalam atau untuk mendeteksi tumor di belakang bola mata.

 

Penanganan Leukokoria Berdasarkan Penyebabnya

Terapi untuk leukokoria disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Pilihan pengobatan yang tersedia antara lain:

  • Pembedahan, seperti pengangkatan tumor retinoblastoma atau operasi katarak.
  • Kemoterapi, digunakan untuk mengecilkan tumor retinoblastoma.
  • Terapi radiasi, jika tumor tidak bisa diangkat secara operasi.
  • Terapi laser, untuk menghancurkan pembuluh darah abnormal pada penyakit retina seperti penyakit Coats.
  • Penggantian lensa, dilakukan bila leukokoria disebabkan oleh katarak.
  • Obat antibiotik atau antijamur, bila infeksi menjadi penyebab utama leukokoria.

 

Mitos dan Fakta Seputar Leukokoria

Ada banyak kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat tentang leukokoria. Berikut beberapa di antaranya:

  • Mitos: Leukokoria selalu menandakan kanker.

Faktanya, meskipun sering dikaitkan dengan retinoblastoma, leukokoria juga bisa disebabkan oleh kondisi yang kurang serius seperti katarak atau infeksi.

  • Mitos: Leukokoria hanya terjadi pada anak-anak.

Sebenarnya, kondisi ini bisa terjadi pada semua usia, meskipun memang lebih sering ditemukan pada bayi dan balita.

 

Komplikasi yang Bisa Timbul Jika Tidak Diobati

Mengabaikan leukokoria dapat berdampak buruk, termasuk:

  • Kehilangan penglihatan permanen, terutama bila disebabkan oleh kondisi seperti katarak atau retinoblastoma.
  • Penyebaran kanker, bila retinoblastoma tidak segera ditangani.
  • Kelainan struktural mata, akibat kondisi seperti infeksi retina yang dibiarkan berlarut-larut.

 

Pertanyaan yang Sering Diajukan

  1. Apa saja penyebab leukokoria?

Penyebabnya bervariasi, mulai dari retinoblastoma, katarak, hingga infeksi dan kelainan retina bawaan.

  1. Apakah leukokoria selalu merupakan tanda kanker?

Tidak. Meskipun bisa menjadi tanda kanker mata, banyak juga kasus leukokoria yang disebabkan oleh kondisi non-kanker.

  1. Bagaimana pengobatan leukokoria?

Pengobatan bergantung pada penyebab utama dan bisa berupa operasi, kemoterapi, terapi laser, atau pemberian obat.

  1. Kapan harus ke dokter?

Segera periksa ke dokter bila terlihat pantulan putih di mata, terutama bila disertai penurunan penglihatan atau gejala lainnya.

  1. Bisakah leukokoria dicegah?

Tidak selalu bisa dicegah, tetapi pemeriksaan mata secara rutin, khususnya pada bayi dan anak-anak, sangat membantu untuk mendeteksi dini dan mencegah komplikasi.

Leukokoria bukanlah kondisi yang bisa diabaikan. Meskipun terkadang disebabkan oleh masalah yang tidak membahayakan, kondisi ini juga bisa menjadi penanda gangguan mata yang berat seperti retinoblastoma. Mengenali tanda-tandanya, memahami risikonya, serta segera mencari bantuan medis adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan mata dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih parah. Pemeriksaan rutin oleh dokter mata sangat disarankan, terutama untuk anak-anak, demi mendeteksi berbagai gangguan mata sejak dini.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia




Our Vision


No person with a blinding condition, eye disease, or visual impairment should be without hope, understanding, and treatment.


Contact Us


Hubungi Kami

(031) 8495502, (031) 8433050
082143717979 ( WA only)


Kunjungi Kami

Jalan Raya Jemursari No. 108,
Surabaya, Indonesia


Email Kami

admin@surabayaeyeclinic.id



Lokasi Kami



Media Sosial


Instagram


facebook


Twitter


Youtube




CopyRight, 2024 | Managed by Markbro | PT Klinik Mata Surabaya




WeCreativez WhatsApp Support
Tim CS Kami Siap Membantu Anda. Silahkan Tanya Kami!