Refleks Putih pada Pupil: Waspadai Gejala Leukokoria yang Bisa Menunjukkan Masalah Serius pada Mata

July 10, 2025 by markbro
Refleks-Putih-pada-Pupil-Waspadai-Gejala-Leukokoria-yang-Bisa-Menunjukkan-Masalah-Serius-pada-Mata.png

Leukokoria, yang dikenal juga sebagai “refleks putih”, merupakan kondisi ketika pupil mata memantulkan cahaya putih yang tidak normal. Fenomena ini umumnya tampak jelas dalam foto yang diambil dengan lampu kilat atau di tempat dengan pencahayaan rendah. Dalam keadaan normal, pupil akan terlihat hitam karena tidak ada cahaya yang memantul dari dalam mata. Namun, saat terjadi leukokoria, cahaya tampak kembali dari struktur mata dan memberikan warna putih yang mencolok pada pupil.

Kondisi ini bukan sekadar kelainan sepele, sebab bisa menjadi pertanda dari masalah serius pada mata. Refleks putih sering kali menjadi indikasi adanya gangguan yang bisa mengancam penglihatan, bahkan nyawa, terutama pada anak-anak. Leukokoria dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis, mulai dari yang tidak berbahaya hingga yang memerlukan tindakan medis segera. Oleh karena itu, penting untuk mengenali penyebabnya, memahami gejala yang menyertainya, dan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memeriksakan diri ke dokter.

 

Apa yang Terjadi Saat Terjadi Leukokoria?

Leukokoria muncul sebagai pantulan cahaya putih di dalam pupil. Hal ini sering kali pertama kali terdeteksi oleh orang tua melalui hasil jepretan kamera yang menggunakan flash. Pupil yang biasanya tampak hitam, justru terlihat putih terang dalam foto. Reaksi ini mengindikasikan adanya sesuatu di bagian dalam mata yang memantulkan cahaya secara tidak normal sebuah kondisi yang patut diwaspadai, terutama bila terjadi berulang atau pada satu mata saja.

 

Berbagai Penyebab yang Bisa Menimbulkan Leukokoria

Ada sejumlah kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya leukokoria, baik yang muncul sejak lahir maupun yang berkembang seiring waktu. Berikut beberapa penyebab paling umum:

  • Retinoblastoma adalah penyebab yang paling sering dikaitkan dengan leukokoria, terutama pada anak usia di bawah lima tahun. Ini merupakan jenis kanker mata langka dan agresif yang menyerang retina. Tumor di retina dapat memantulkan cahaya dan menghasilkan refleks putih di pupil.
  • Katarak kongenital juga dapat memunculkan leukokoria. Katarak terjadi ketika lensa alami mata menjadi keruh, sehingga cahaya yang masuk ke mata dipantulkan kembali sebagai cahaya putih. Meskipun lebih sering terjadi pada lansia, kondisi ini bisa terjadi sejak bayi.
  • Ablasi retina, atau terlepasnya retina dari jaringan pendukungnya, dapat menyebabkan gejala seperti pantulan cahaya putih pada mata, disertai gangguan visual lain seperti bayangan melayang atau cahaya kilat.
  • Penyakit Coats menyebabkan pembentukan pembuluh darah abnormal di retina yang bocor dan menyebabkan pembengkakan. Cairan yang tertimbun bisa memengaruhi cara cahaya dipantulkan di dalam mata.
  • PHPV (Persistent Hyperplastic Primary Vitreous) adalah kelainan bawaan yang menyebabkan bagian dalam mata tidak berkembang normal, menimbulkan pertumbuhan jaringan yang tidak biasa dan akhirnya menghasilkan leukokoria.
  • Infeksi retina atau peradangan, seperti toksokariasis atau uveitis, dapat mengganggu struktur retina dan menciptakan pantulan cahaya abnormal pada pupil.
  • Dislokasi lensa akibat trauma atau kondisi genetik tertentu bisa menyebabkan lensa tergeser, sehingga pantulan cahaya tidak berlangsung seperti seharusnya.
  • Pertumbuhan pembuluh darah abnormal, terutama pada bayi, juga bisa mengakibatkan cahaya yang masuk ke mata terpantul secara tidak wajar dan terlihat sebagai leukokoria.

 

Gejala yang Sering Menyertai Leukokoria

Leukokoria sendiri adalah gejala visual, namun sering kali disertai gejala tambahan yang bergantung pada penyebabnya. Gejala-gejala tersebut bisa berupa:

  • Gangguan penglihatan, seperti penglihatan kabur atau sulit melacak objek pada anak kecil.
  • Mata juling atau strabismus, yaitu kondisi di mana arah pandangan kedua mata tidak sejajar.
  • Kemerahan dan pembengkakan, terutama bila leukokoria disebabkan oleh infeksi atau peradangan.
  • Sensasi sakit pada mata, meskipun leukokoria biasanya tidak menimbulkan nyeri langsung.
  • Kilatan cahaya atau bintik mengambang, terutama pada kasus ablasi retina.
  • Penurunan tajam penglihatan, yang bisa terjadi secara bertahap atau mendadak.

 

 

Waktu yang Tepat untuk Berkonsultasi ke Dokter

Mendeteksi leukokoria sedini mungkin sangat krusial. Orang tua sebaiknya tidak menunda untuk membawa anak ke dokter mata jika mendapati refleks putih di pupil anak mereka. Tanda-tanda berikut memerlukan perhatian medis segera:

  • Refleks putih yang muncul mendadak tanpa sebab yang jelas.
  • Penurunan kemampuan melihat, baik secara bertahap maupun tiba-tiba.
  • Disertai gejala lain seperti mata merah, nyeri, atau kilatan cahaya.
  • Ada riwayat keluarga dengan penyakit mata seperti retinoblastoma atau kelainan bawaan lainnya.

 

Bagaimana Leukokoria Didiagnosis?

Proses diagnosis dilakukan oleh dokter spesialis mata melalui serangkaian pemeriksaan yang meliputi:

  • Pemeriksaan mata lengkap, termasuk evaluasi retina dan lensa.
  • Pencitraan retina, seperti tomografi koherensi optik (OCT) atau fotografi fundus untuk mendapatkan gambaran retina yang detail.
  • USG bola mata, terutama untuk mendeteksi adanya tumor atau ablasi retina.
  • Pengujian genetik, bila diduga berkaitan dengan retinoblastoma.
  • Tes darah, untuk memeriksa infeksi seperti toksokariasis.
  • CT scan atau MRI, bila diperlukan untuk mengevaluasi struktur mata lebih dalam atau untuk mendeteksi tumor di belakang bola mata.

 

Penanganan Leukokoria Berdasarkan Penyebabnya

Terapi untuk leukokoria disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Pilihan pengobatan yang tersedia antara lain:

  • Pembedahan, seperti pengangkatan tumor retinoblastoma atau operasi katarak.
  • Kemoterapi, digunakan untuk mengecilkan tumor retinoblastoma.
  • Terapi radiasi, jika tumor tidak bisa diangkat secara operasi.
  • Terapi laser, untuk menghancurkan pembuluh darah abnormal pada penyakit retina seperti penyakit Coats.
  • Penggantian lensa, dilakukan bila leukokoria disebabkan oleh katarak.
  • Obat antibiotik atau antijamur, bila infeksi menjadi penyebab utama leukokoria.

 

Mitos dan Fakta Seputar Leukokoria

Ada banyak kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat tentang leukokoria. Berikut beberapa di antaranya:

  • Mitos: Leukokoria selalu menandakan kanker.

Faktanya, meskipun sering dikaitkan dengan retinoblastoma, leukokoria juga bisa disebabkan oleh kondisi yang kurang serius seperti katarak atau infeksi.

  • Mitos: Leukokoria hanya terjadi pada anak-anak.

Sebenarnya, kondisi ini bisa terjadi pada semua usia, meskipun memang lebih sering ditemukan pada bayi dan balita.

 

Komplikasi yang Bisa Timbul Jika Tidak Diobati

Mengabaikan leukokoria dapat berdampak buruk, termasuk:

  • Kehilangan penglihatan permanen, terutama bila disebabkan oleh kondisi seperti katarak atau retinoblastoma.
  • Penyebaran kanker, bila retinoblastoma tidak segera ditangani.
  • Kelainan struktural mata, akibat kondisi seperti infeksi retina yang dibiarkan berlarut-larut.

 

Pertanyaan yang Sering Diajukan

  1. Apa saja penyebab leukokoria?

Penyebabnya bervariasi, mulai dari retinoblastoma, katarak, hingga infeksi dan kelainan retina bawaan.

  1. Apakah leukokoria selalu merupakan tanda kanker?

Tidak. Meskipun bisa menjadi tanda kanker mata, banyak juga kasus leukokoria yang disebabkan oleh kondisi non-kanker.

  1. Bagaimana pengobatan leukokoria?

Pengobatan bergantung pada penyebab utama dan bisa berupa operasi, kemoterapi, terapi laser, atau pemberian obat.

  1. Kapan harus ke dokter?

Segera periksa ke dokter bila terlihat pantulan putih di mata, terutama bila disertai penurunan penglihatan atau gejala lainnya.

  1. Bisakah leukokoria dicegah?

Tidak selalu bisa dicegah, tetapi pemeriksaan mata secara rutin, khususnya pada bayi dan anak-anak, sangat membantu untuk mendeteksi dini dan mencegah komplikasi.

Leukokoria bukanlah kondisi yang bisa diabaikan. Meskipun terkadang disebabkan oleh masalah yang tidak membahayakan, kondisi ini juga bisa menjadi penanda gangguan mata yang berat seperti retinoblastoma. Mengenali tanda-tandanya, memahami risikonya, serta segera mencari bantuan medis adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan mata dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih parah. Pemeriksaan rutin oleh dokter mata sangat disarankan, terutama untuk anak-anak, demi mendeteksi berbagai gangguan mata sejak dini.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia

markbro



Our Vision


No person with a blinding condition, eye disease, or visual impairment should be without hope, understanding, and treatment.


Contact Us


Hubungi Kami

(031) 8495502, (031) 8433050
082143717979 ( WA only)


Kunjungi Kami

Jalan Raya Jemursari No. 108,
Surabaya, Indonesia


Email Kami

admin@surabayaeyeclinic.id



Lokasi Kami



Media Sosial


Instagram


facebook


Twitter


Youtube




CopyRight, 2024 | Managed by Markbro | PT Klinik Mata Surabaya




WeCreativez WhatsApp Support
Tim CS Kami Siap Membantu Anda. Silahkan Tanya Kami!