Dapatkan Informasi Mengenai kesehatan Mata dan Informasi Lainnya

Info Untuk Anda

Semoga Informasi ini bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh seputar edukasi tentang kesehatan mata kita.

Category filter:Allkesehatan mataPengumumanProduct KnowledgeUncategorizedVideo Edukasi
No more posts

Tanda-Tanda-Minus-Mata-Bertambah-dan-Pentingnya-Pemeriksaan-Visus.png
09/Jul/2025

Miopi atau rabun jauh adalah salah satu gangguan refraksi mata yang paling umum dijumpai. Tak jarang, kita menjumpai orang-orang terdekat yang harus bergantung pada kacamata karena kondisi ini. Miopi terjadi ketika bentuk bola mata terlalu memanjang atau kornea terlalu melengkung, sehingga cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus dengan benar. Akibatnya, objek yang letaknya jauh tampak buram.

Penyebab miopi sangat beragam, mulai dari faktor genetik, lingkungan, hingga gaya hidup modern yang membuat mata terlalu sering terpapar layar. Meski telah mengenakan kacamata atau lensa kontak, bukan berarti kondisi mata akan berhenti memburuk. Minus mata bisa bertambah seiring waktu, terlebih jika mata tidak dirawat dengan baik.

 

Untuk mengetahui apakah minus Anda bertambah, perhatikan empat ciri berikut ini:

  1. Penglihatan Jauh Semakin Kabur

Jika Anda mulai kesulitan melihat objek yang sebelumnya bisa terlihat jelas dari jarak tertentu, bisa jadi minus pada mata Anda telah bertambah. Misalnya, Anda sebelumnya dapat membaca papan petunjuk dari jarak 10 meter, tetapi kini harus memicingkan mata atau mendekat. Bahkan ketika memakai kacamata, Anda masih merasa sulit memfokuskan pandangan pada objek jauh. Ini merupakan indikasi kuat bahwa lensa kacamata Anda sudah tidak lagi sesuai.

  1. Mata Mudah Lelah

Sering merasa mata cepat lelah padahal aktivitas tidak terlalu berat? Ini bisa menjadi tanda bahwa mata Anda bekerja lebih keras dari biasanya. Kacamata dengan lensa minus yang tidak lagi sesuai akan membuat mata terus-menerus menyesuaikan fokus, terutama saat melihat objek jauh. Usaha ekstra ini dapat menegangkan otot-otot mata, membuatnya terasa cepat letih meskipun Anda hanya duduk di depan layar atau membaca.

  1. Pusing dan Sakit Kepala

Tak hanya lelah pada mata, peningkatan minus juga bisa menimbulkan gejala fisik lain seperti pusing atau nyeri kepala, terutama di sekitar pelipis dan mata. Kondisi ini kerap terjadi karena otot mata yang menegang berlarut-larut memicu ketegangan pada bagian kepala. Beberapa orang bahkan merasakan mual, terutama jika terus menggunakan kacamata dengan resep lama yang tidak lagi sesuai.

  1. Sensitivitas terhadap Cahaya Meningkat

Mata yang tiba-tiba lebih peka terhadap cahaya bisa menjadi tanda bertambahnya minus. Kondisi ini dikenal sebagai fotofobia, yakni ketidaknyamanan atau bahkan rasa nyeri saat mata terkena cahaya terang. Dalam beberapa kasus, terutama pada miopi degeneratif (miopi berat), perubahan struktur retina dapat memicu fotofobia. Jika Anda mulai merasa silau berlebihan atau nyeri saat melihat cahaya, jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter mata.

 

Kapan Harus Ganti Kacamata?

Jika Anda mulai merasakan satu atau lebih dari gejala di atas, sangat mungkin lensa kacamata Anda sudah tidak sesuai lagi. Namun, sebaiknya jangan hanya mengandalkan perasaan atau gejala. Pemeriksaan mata secara rutin penting dilakukan, minimal setahun sekali. Dengan begitu, dokter mata bisa mengevaluasi apakah lensa kacamata Anda masih efektif atau perlu diperbarui.

Pemeriksaan mata tidak hanya bermanfaat untuk mengetahui tingkat minus, tetapi juga mendeteksi kelainan lain seperti astigmatisme (mata silinder) atau presbiopi (rabun dekat karena usia). Dengan penyesuaian lensa yang tepat, Anda bisa kembali melihat dengan nyaman dan mengurangi risiko ketegangan mata.

 

Mengenal Tes Visus untuk Menilai Ketajaman Penglihatan

Salah satu cara untuk mengetahui perubahan kondisi mata adalah melalui tes visus. Tes ini dilakukan untuk mengukur ketajaman penglihatan seseorang dalam mengenali objek pada jarak tertentu. Alat yang digunakan biasanya adalah Snellen chart, sebuah bagan berisi huruf-huruf dengan berbagai ukuran yang dikembangkan oleh dokter asal Belanda, Herman Snellen, sejak abad ke-19.

Selama tes, Anda akan diminta membaca barisan huruf dari ukuran besar ke kecil dalam jarak sekitar 6 meter. Jika Anda tidak bisa membaca huruf pada baris tertentu, maka dokter akan menggunakan lensa korektif pinhole untuk menentukan kekuatan lensa yang sesuai dengan mata Anda. Hasil dari tes ini akan memberikan informasi apakah Anda mengalami rabun jauh, rabun dekat, atau mata silinder, dan berapa tingkat koreksinya.

Untuk anak-anak, pemeriksaan ini penting dilakukan setidaknya dua kali dalam setahun. Sedangkan bagi orang dewasa, apalagi yang berusia di atas 40 tahun, tes mata sebaiknya dilakukan secara berkala untuk mendeteksi gangguan penglihatan maupun penyakit mata secara dini.

 

Alternatif Pemeriksaan untuk Anak-Anak

Untuk anak yang belum bisa membaca huruf, pemeriksaan bisa dilakukan menggunakan E chart, yaitu bagan dengan huruf “E” yang menghadap ke arah berbeda-beda. Anak diminta menunjukkan arah huruf dengan tangannya. Jika dilakukan oleh dokter spesialis mata, pemeriksaan bisa menggunakan teknologi proyeksi dengan lensa yang terus disesuaikan hingga penglihatan menjadi jelas. Ini membantu mengetahui kebutuhan lensa korektif secara akurat.

 

Menjaga Kesehatan Mata adalah Investasi Jangka Panjang

Perubahan kecil pada penglihatan jangan diabaikan. Meski sepele, penglihatan kabur, mata lelah, atau pusing yang sering terjadi bisa menjadi sinyal penting bahwa mata Anda membutuhkan perhatian. Dengan melakukan pemeriksaan rutin dan mengenakan lensa korektif yang tepat, Anda tidak hanya menjaga kenyamanan dalam melihat, tetapi juga mencegah penurunan fungsi mata lebih lanjut.

Jadi, jika Anda merasa penglihatan semakin kabur, sering pusing, atau mata cepat lelah, segera jadwalkan pemeriksaan mata. Jangan tunggu sampai penglihatan benar-benar terganggu. Mata sehat adalah kunci untuk menjalani aktivitas sehari-hari dengan produktif dan nyaman.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Waspadai-Blefaritis-Peradangan-Kelopak-Mata-yang-Bisa-Ganggu-Kesehatan-Penglihatan.png
08/Jul/2025

Blefaritis adalah kondisi peradangan yang terjadi pada kelopak mata, menyebabkan pembengkakan dan perubahan warna menjadi kemerahan. Gangguan ini dapat menyerang satu atau kedua mata, meskipun seringkali gejalanya tampak lebih dominan di salah satu sisi. Meski demikian, blefaritis tidak bersifat menular, namun tetap memerlukan perhatian serius.

Penyebab pasti dari blefaritis hingga kini masih belum diketahui secara pasti. Namun, sejumlah faktor diyakini dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan ini. Salah satunya adalah kehadiran ketombe pada alis atau kulit kepala. Selain itu, penggunaan produk kosmetik di area mata, serta prosedur kecantikan seperti pemasangan bulu mata palsu (eyelash extension), juga dapat memicu munculnya peradangan pada kelopak mata.

 

Tidak hanya itu, blefaritis juga bisa dipicu oleh efek samping dari obat-obatan tertentu, infeksi bakteri, kelainan pada kelenjar minyak di sekitar mata, serta infestasi kutu yang hidup di bulu mata. Berdasarkan letak peradangan yang terjadi, blefaritis terbagi menjadi dua jenis:

  • Blefaritis anterior, yaitu peradangan yang terjadi di bagian luar kelopak mata, umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus dan ketombe pada kulit kepala.
  • Blefaritis posterior, yaitu peradangan di bagian dalam kelopak mata, yang disebabkan oleh gangguan pada kelenjar minyak di bagian dalam kelopak. Selain itu, kondisi ini juga sering dikaitkan dengan kelainan kulit seperti rosacea dan dermatitis seboroik.

 

Salah satu gejala paling khas dari blefaritis adalah pembengkakan dan kemerahan pada kelopak mata. Namun, gejalanya tidak berhenti di situ. Penderitanya juga dapat mengalami sensasi gatal pada kelopak mata, rasa lengket, silau atau kepekaan terhadap cahaya, keinginan untuk terus mengedipkan mata, pengelupasan kulit di sekitar mata, mata berair atau justru terasa kering, serta rontoknya bulu mata.

Jika mengalami gejala-gejala tersebut, penting untuk segera mencari pertolongan medis dan berkonsultasi dengan dokter spesialis mata. Penanganan sejak dini sangat penting, karena jika dibiarkan, blefaritis bisa menimbulkan komplikasi yang serius, salah satunya adalah kerusakan pada kornea. Komplikasi ini bisa terjadi akibat peradangan kronis atau bulu mata yang tumbuh ke arah dalam sehingga melukai permukaan mata.

Selain kerusakan pada kornea, blefaritis juga bisa menyebabkan berbagai komplikasi lain seperti bintitan, kalazion (benjolan akibat penyumbatan kelenjar minyak), mata kering kronis, serta mata merah yang berlangsung lama.

Untuk mencegah blefaritis, ada beberapa langkah pencegahan sederhana yang bisa dilakukan:

  • Mencuci wajah secara rutin, terutama setelah beraktivitas di luar rumah atau setelah menggunakan riasan mata.
  • Menjaga kebersihan tangan setiap saat, dan menghindari menyentuh atau menggosok mata saat tangan belum bersih.
  • Jika memiliki masalah ketombe yang cukup parah, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan sampo anti-ketombe yang sesuai.

 

Jika sudah terkena blefaritis, selain menjalani pengobatan dari dokter, konsumsi makanan yang kaya akan omega-3 juga dianjurkan. Kandungan ini dapat membantu mengurangi gejala blefaritis. Beberapa sumber makanan yang mengandung omega-3 tinggi antara lain sayuran hijau, ikan salmon, tuna, sarden, biji-bijian, kacang kedelai, dan berbagai jenis kacang-kacangan lainnya.

Dengan perhatian dan penanganan yang tepat, blefaritis dapat dikendalikan agar tidak mengganggu aktivitas harian dan kesehatan mata secara keseluruhan.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Mengenal-Mata-Berdarah-Fakta-Medis-di-Balik-Perdarahan-Subkonjungtiva.png
07/Jul/2025

Mata berdarah, dalam dunia medis dikenal sebagai perdarahan subkonjungtiva, merupakan kondisi yang kerap menimbulkan kekhawatiran, terutama di kalangan orang tua. Banyak yang mengaitkannya dengan penggunaan gawai yang berlebihan, apalagi saat ini ponsel sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak. Namun, apakah benar interaksi intensif dengan gawai dapat menyebabkan mata berdarah? Berikut adalah penjelasan medis yang perlu diketahui.

 

Perdarahan Subkonjungtiva Tidak Menyebabkan Rasa Sakit

Perdarahan subkonjungtiva merupakan kondisi di mana darah muncul di antara sklera (bagian putih mata) dan konjungtiva (lapisan bening pelindung mata). Meski terlihat mencolok dan terkadang mengejutkan, kondisi ini tidak menimbulkan rasa sakit. Bahkan, pengidapnya sering kali tidak menyadari bahwa mereka mengalaminya hingga melihat cermin atau diberitahu orang lain.

Berbeda dari bayangan umum mengenai “mata menangis darah”, perdarahan ini tidak tampak seperti itu dan umumnya tidak disertai dengan gejala lain.

 

Bukan Disebabkan oleh Penggunaan Gawai

Anggapan bahwa mata berdarah disebabkan oleh terlalu sering menatap layar gawai tidak sepenuhnya tepat. Perdarahan subkonjungtiva justru lebih sering disebabkan oleh beberapa faktor berikut:

  • Mengucek mata secara berlebihan, yang dapat menimbulkan gesekan keras pada mata dan memicu pecahnya pembuluh darah kecil.
  • Gangguan pembekuan darah, di mana tubuh kekurangan zat untuk menghentikan perdarahan, sehingga darah lebih sulit membeku.
  • Bersin atau batuk terlalu keras, yang meningkatkan tekanan di pembuluh darah halus, termasuk di mata.
  • Hipertensi, meskipun kasus perdarahan mata akibat tekanan darah tinggi cukup jarang terjadi.

Dengan demikian, tidak ada bukti medis yang menyatakan bahwa penggunaan gawai secara langsung menyebabkan perdarahan subkonjungtiva.

 

Tidak Mengganggu Penglihatan dan Tidak Memerlukan Penanganan Khusus

Karena terletak pada jaringan luar mata dan tidak menyentuh saraf penglihatan, perdarahan subkonjungtiva tidak mempengaruhi kemampuan melihat secara tajam maupun jelas. Ini berbeda dengan kondisi akibat benturan keras pada kepala yang bisa menyebabkan gangguan pada saraf mata dan berujung pada penglihatan kabur.

Umumnya, kondisi ini dapat sembuh dengan sendirinya tanpa perlu pengobatan khusus. Tubuh secara alami akan menyerap kembali darah yang keluar, meski proses pemulihannya bisa memakan waktu beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung luasnya area perdarahan.

 

Perlu Waspada Jika Terjadi Berulang

Meski perdarahan subkonjungtiva umumnya tidak berbahaya, kondisi ini patut diwaspadai jika terjadi berulang kali. Perdarahan yang muncul secara terus-menerus bisa menjadi sinyal adanya gangguan kesehatan yang lebih serius, seperti masalah pembekuan darah atau penyakit sistemik lainnya.

Untuk itu, bila mata berdarah terus kambuh, penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan lanjutan dan diketahui penyebab pastinya.

Dengan memahami fakta medis di balik kondisi mata berdarah, masyarakat diharapkan tidak terburu-buru menyimpulkan penyebabnya. Edukasi yang tepat akan membantu mengurangi kecemasan dan mendorong langkah penanganan yang lebih bijak.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Waspadai-Degenerasi-Makula-Gangguan-Penglihatan-yang-Sering-Terabaikan.png
04/Jul/2025

Degenerasi makula adalah salah satu gangguan penglihatan yang umumnya menyerang kelompok usia lanjut, terutama wanita. Kondisi ini menyebabkan penurunan kemampuan melihat secara perlahan, terutama pada bagian tengah pandangan mata, sehingga aktivitas seperti membaca, menulis, mengemudi, atau mengenali wajah seseorang menjadi sulit dilakukan.

 

Apa Itu Degenerasi Makula?

Degenerasi makula terkait usia atau age-related macular degeneration (AMD) merupakan penyakit mata progresif yang menyerang makula bagian tengah retina yang bertanggung jawab terhadap penglihatan tajam. Penyebab pastinya belum diketahui secara pasti, namun para ahli meyakini kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan.

Kebanyakan penderita berusia di atas 60 tahun. Namun, risiko akan meningkat jika seseorang memiliki kebiasaan merokok, menderita obesitas, mengalami hipertensi, memiliki riwayat degenerasi makula dalam keluarga, atau sering terpapar sinar matahari.

 

Gejala yang Muncul

Degenerasi makula berkembang secara perlahan dan sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Seiring waktu, penderita akan mulai merasakan gangguan pada penglihatan, seperti munculnya garis-garis atau kabur di bagian tengah pandangan. Ini dapat membuat pengenalan wajah menjadi sulit, serta menyebabkan kesulitan melihat dalam kondisi cahaya redup.

Dalam jangka waktu 5 hingga 10 tahun, gejala ini bisa memburuk. Ada dua bentuk degenerasi makula yang dapat terjadi, yakni tipe basah dan tipe kering. Tipe basah berkembang lebih cepat dan umumnya menyebabkan kerusakan yang lebih signifikan dibandingkan tipe kering.

Pentingnya Pemeriksaan Dini

Karena gejala awal kerap tidak disadari, sangat penting untuk melakukan pemeriksaan mata secara rutin, terutama bagi individu yang berusia di atas 50 tahun. Jika mengalami penglihatan kabur atau perubahan dalam melihat warna, segera periksakan ke dokter mata.

Pemeriksaan mata rutin dianjurkan setiap dua tahun bagi orang yang berusia di bawah 40 tahun, dan setiap satu hingga dua tahun bagi mereka yang berusia 40 tahun ke atas. Pemeriksaan ini mencakup tes garis Amsler, oftalmoskopi, serta teknik pencitraan seperti optical coherence tomography dan fluorescein angiography untuk mendeteksi adanya perubahan atau kebocoran pembuluh darah pada makula.

Penanganan dan Pengobatan

Pengobatan degenerasi makula difokuskan pada upaya mempertahankan kualitas penglihatan dan memperlambat perkembangan penyakit. Pada tahap awal, penderita biasanya belum memerlukan terapi khusus, namun harus rutin memeriksakan mata setiap tahun.

Beberapa langkah gaya hidup yang disarankan meliputi berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, rajin berolahraga, serta mengonsumsi makanan kaya antioksidan dan zinc seperti bayam, brokoli, kacang-kacangan, daging sapi, produk susu, dan roti gandum. Suplemen yang mengandung vitamin E, vitamin C, dan zinc juga dapat membantu memperlambat kerusakan.

Pada kasus yang lebih lanjut, penanganan disesuaikan dengan jenis degenerasi makula. Beberapa pilihan terapi yang tersedia meliputi pemasangan lensa khusus untuk membantu penglihatan, penyuntikan obat anti-VEGF ke bola mata guna memperbaiki dan menjaga kualitas penglihatan, serta terapi laser untuk mencegah kehilangan penglihatan lebih lanjut.

Jika penglihatan tidak membaik, pasien dapat mengikuti program rehabilitasi penglihatan. Program ini bertujuan untuk membantu penderita menyesuaikan diri dengan penglihatan yang terbatas. Strategi yang bisa dilakukan antara lain menggunakan kaca pembesar, membaca buku dengan huruf besar, memperbesar tampilan layar elektronik, mengganti lampu menjadi lebih terang, hingga menggunakan teknologi suara sebagai bantuan navigasi.

 

Risiko dan Komplikasi

Salah satu komplikasi paling serius dari degenerasi makula adalah kebutaan sentral, yaitu kehilangan kemampuan melihat pada bagian tengah pandangan. Meskipun tidak menyebabkan kebutaan total karena penglihatan tepi tetap utuh, penderita tetap berisiko mengalami isolasi sosial dan depresi. Pada beberapa kasus, mereka bahkan dapat mengalami halusinasi visual atau sindrom Charles-Bonnet.

 

Upaya Pencegahan

Pencegahan degenerasi makula dapat dilakukan dengan menghindari faktor risiko yang dapat dikendalikan. Ini termasuk berhenti merokok, melindungi mata dari sinar matahari dengan kacamata berlensa pelindung UV, serta menjalani pemeriksaan mata secara teratur.

Pola makan sehat juga memainkan peran penting. Konsumsi buah dan sayur yang kaya antioksidan, serta makanan yang mengandung vitamin C, E, zinc, dan tembaga sangat disarankan. Selain itu, bagi mereka yang memiliki risiko tinggi, berkonsultasi dengan dokter mengenai penggunaan suplemen lutein dapat menjadi langkah preventif tambahan.

Degenerasi makula memang tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, namun dengan deteksi dini dan pengelolaan yang tepat, kualitas hidup penderita tetap dapat terjaga. Pemeriksaan mata secara berkala, penerapan gaya hidup sehat, dan dukungan keluarga menjadi kunci penting dalam menghadapi kondisi ini.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Mengenal-Ulkus-Kornea-Ancaman-Serius-pada-Mata-yang-Tak-Boleh-Diabaikan.png
03/Jul/2025

Ulkus kornea merupakan luka terbuka pada lapisan bening mata yang dikenal sebagai kornea. Kondisi ini umumnya dipicu oleh infeksi, baik dari virus, bakteri, jamur, maupun parasit. Meskipun terdengar sepele, ulkus kornea tergolong sebagai kondisi darurat medis karena jika tidak ditangani secara cepat dan tepat, dapat berujung pada kebutaan.

Kornea memiliki peran vital dalam sistem penglihatan. Ia bertugas membelokkan cahaya yang masuk ke mata dan membantu memfokuskan penglihatan. Kerusakan pada kornea dapat mengganggu proses masuknya cahaya ke mata, sehingga membuat penglihatan menjadi kabur atau bahkan terganggu total. Di samping itu, kornea juga berfungsi sebagai pelindung mata dari debu dan kuman. Bila terjadi kerusakan, mata menjadi lebih rentan terhadap infeksi serius.

 

Penyebab Ulkus Kornea

Infeksi merupakan penyebab utama ulkus kornea. Berikut beberapa jenis infeksi yang dapat memicu kondisi ini:

  1. Infeksi virus

Penyebab tersering adalah virus herpes simpleks (HSV), yang bisa kambuh akibat stres, daya tahan tubuh menurun, atau paparan sinar matahari berlebih. Virus Varicella juga dapat menyerang kornea, biasanya setelah lebih dulu menyerang bagian tubuh lain.

  1. Infeksi bakteri

Infeksi bakteri kerap terjadi pada pengguna lensa kontak yang dipakai terlalu lama. Bakteri dapat berkembang pada lensa yang kotor, tergores, atau tidak disimpan dengan benar, bahkan juga di cairan pembersih lensa yang terkontaminasi.

  1. Infeksi jamur

Kasus ini lebih jarang terjadi dan biasanya bermula dari kontak mata dengan tanah, air, atau benda yang mengandung spora jamur, seperti tanaman. Penggunaan tetes mata steroid jangka panjang dan imunitas rendah juga meningkatkan risiko infeksi jamur pada kornea.

  1. Infeksi parasit

Parasit seperti Acanthamoeba, yang hidup di air dan tanah, dapat menginfeksi mata, terutama pada pemakai lensa kontak yang tidak bersih atau ketika berenang di air yang tercemar.

Selain infeksi, penyebab lain ulkus kornea mencakup sindrom mata kering, bulu mata tumbuh ke dalam, kelopak mata terlipat keluar, blefaritis, cedera akibat benda asing, paparan bahan kimia, kekurangan vitamin A, serta gangguan pada fungsi kelopak mata seperti Bell’s palsy.

 

Gejala Ulkus Kornea

Beberapa tanda yang umum dirasakan penderita meliputi:

  • Mata terasa perih, gatal, atau mengganjal
  • Mata merah dan berair
  • Sensitivitas terhadap cahaya
  • Pandangan kabur
  • Bintik putih di kornea
  • Kelopak mata bengkak
  • Mata mengeluarkan nanah

 

Waktu Tepat untuk Berkonsultasi ke Dokter

Segera periksa ke dokter apabila mengalami gejala-gejala di atas, terlebih jika Anda menggunakan lensa kontak atau mengalami trauma pada mata. Deteksi dini sangat penting untuk mencegah kerusakan permanen pada mata.

 

Proses Diagnosis

Dokter akan melakukan wawancara medis serta pemeriksaan mata menggunakan slit lamp. Untuk memperjelas area yang rusak, akan digunakan tetes mata khusus yang membuat bagian luka terlihat bercahaya. Jika infeksi dicurigai sebagai penyebab, dokter akan mengambil sampel kornea untuk pemeriksaan laboratorium guna menentukan jenis mikroorganisme yang menyerang.

 

Penanganan Ulkus Kornea

Pengobatan akan disesuaikan dengan penyebab dan kondisi pasien. Beberapa metode yang digunakan antara lain:

  • Pemberian obat

Dokter dapat meresepkan obat antivirus, antibiotik, atau antijamur, dalam bentuk tetes, salep, atau suntikan. Untuk kasus dengan penyebab yang belum diketahui, biasanya diberikan antibiotik spektrum luas. Obat pelebar pupil juga dapat diberikan untuk mengurangi nyeri, dan kortikosteroid bisa digunakan setelah infeksi terkendali, dengan pengawasan ketat.

  • Tindakan operasi

Jika kerusakan sudah parah, dapat dilakukan transplantasi kornea (keratoplasti) dengan mengganti kornea yang rusak menggunakan jaringan dari donor.

  • Perawatan mandiri di rumah

Dokter mungkin menyarankan pasien untuk mengompres mata dengan air dingin (tanpa membasahi mata), mengonsumsi pereda nyeri, mencuci tangan dengan rutin, tidak menyentuh mata, serta menghentikan pemakaian lensa kontak dan kosmetik mata sementara waktu.

 

Pencegahan Ulkus Kornea

Pencegahan dapat dilakukan dengan:

  • Segera mengobati infeksi mata atau cedera mata
  • Menggunakan pelindung mata saat beraktivitas berisiko tinggi
  • Menggunakan air mata buatan jika menderita mata kering atau gangguan kelopak mata

Bagi pengguna lensa kontak, perhatikan kebersihan dan cara pakai yang benar, seperti:

  • Mencuci dan mengeringkan tangan sebelum memegang lensa
  • Tidak menggunakan air keran atau air liur untuk membersihkan lensa
  • Melepas lensa sebelum tidur atau jika terjadi iritasi
  • Membersihkan lensa sebelum dan sesudah digunakan
  • Mengganti lensa sesuai dengan jadwal yang dianjurkan

Dengan penanganan yang tepat dan kesadaran untuk menjaga kesehatan mata, ulkus kornea dapat dicegah dan ditangani sebelum menimbulkan komplikasi serius.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia




Our Vision


No person with a blinding condition, eye disease, or visual impairment should be without hope, understanding, and treatment.


Contact Us


Hubungi Kami

(031) 8495502, (031) 8433050
082143717979 ( WA only)


Kunjungi Kami

Jalan Raya Jemursari No. 108,
Surabaya, Indonesia


Email Kami

admin@surabayaeyeclinic.id



Lokasi Kami



Media Sosial


Instagram


facebook


Twitter


Youtube




CopyRight, 2024 | Managed by Markbro | PT Klinik Mata Surabaya




WeCreativez WhatsApp Support
Tim CS Kami Siap Membantu Anda. Silahkan Tanya Kami!