Dapatkan Informasi Mengenai kesehatan Mata dan Informasi Lainnya

Info Untuk Anda

Semoga Informasi ini bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh seputar edukasi tentang kesehatan mata kita.

Category filter:Allkesehatan mataPengumumanProduct KnowledgeUncategorizedVideo Edukasi
No more posts

Silinder-vs-Minus-Apa-Bedanya-dan-Kenapa-Penting-Diketahui.png
28/Nov/2025

Ketika seseorang mengatakan “mata saya minus” atau “mata saya silinder,” sering kali orang lain bingung membedakan keduanya. Padahal, meskipun keduanya termasuk kelainan refraksi, penyebab, gejala, dan cara penanganannya berbeda. Mengenali perbedaan ini penting agar mata mendapat koreksi yang tepat.

 

Apa Itu Mata Minus?

Mata minus atau disebut juga Miopia terjadi ketika bola mata terlalu panjang atau permukaan kornea terlalu melengkung. Akibatnya, cahaya yang masuk ke mata tak jatuh tepat di retina, melainkan terfokus di depan retina. Hasilnya: objek yang jauh tampak kabur, sementara objek dekat biasanya masih bisa dilihat dengan jelas.

Gejala umum mata minus meliputi:

  • Sulit melihat objek jauh dengan jelas (misalnya papan tulis di sekolah, rambu jalan, layar jauh).
  • Sering menyipitkan mata agar pandangan lebih jelas.
  • Mata mudah lelah atau sakit kepala jika dipaksa melihat jauh terus-menerus.

 

Apa Itu Mata Silinder?

Mata silinder atau disebut Astigmatisme disebabkan oleh ketidakteraturan kelengkungan kornea (atau lensa mata), sehingga cahaya yang masuk tidak terfokus pada satu titik saja. Ini membuat pandangan menjadi kabur atau terdistorsi, baik saat melihat objek dekat maupun jauh.

Orang dengan silinder sering mengalami:

  • Penglihatan kabur atau berbayang, baik untuk objek dekat maupun jauh.
  • Mata cepat lelah, sakit kepala, dan ketegangan mata, terutama saat membaca, menatap layar, atau dalam kondisi pencahayaan kurang.
  • Kesulitan mengamati detail halus atau garis lurus, dan kadang distorsi bentuk objek.

Mengapa Bisa Terjadi?

  • Minus biasanya dipengaruhi faktor genetik dan kondisi panjang bola mata atau bentuk kornea. Kebiasaan melihat terlalu dekat, kurang paparan cahaya alami juga bisa memperparah.
  • Silinder cenderung berasal dari bentuk kornea atau lensa yang tidak merata bisa karena bawaan sejak lahir, trauma mata, atau perubahan struktural.

 

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Keduanya bisa dikoreksi dengan alat bantu penglihatan:

  • Untuk minus, lensa cekung (minus) pada kacamata atau lensa kontak membantu memfokuskan cahaya tepat ke retina.
  • Untuk silinder, kacamata dengan lensa silinder (atau lensa torik) menyesuaikan kelengkungan kornea agar cahaya bisa difokuskan dengan benar.
  • Jika minus dan silinder terjadi bersamaan, resep kacamata akan disesuaikan seringkali memakai kombinasi lensa minus + silinder.
  • Untuk yang ingin solusi permanen, beberapa prosedur bedah refraktif (misalnya LASIK) dapat dipertimbangkan. Namun, tidak semua orang cocok perlu pemeriksaan mata terlebih dahulu.

 

Kenapa Memahami Perbedaannya Penting

Tanpa mengetahui apakah Anda minus, silinder, atau keduanya, memakai kacamata atau lensa kontak secara sembarangan bisa membuat mata tetap lelah, pusing, atau bahkan memperparah ketidaknyamanan. Koreksi yang tepat membantu menjaga kesehatan mata dalam jangka panjang dan memastikan penglihatan tetap nyaman baik untuk aktivitas dekat maupun jauh.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Kenali-Penyumbatan-Saluran-Air-Mata-Penyebab-Gejala-dan-Cara-Mengatasinya.png
27/Nov/2025

Saluran air mata jalur kecil yang membawa air mata dari mata ke hidung punya peran penting untuk menjaga kesehatan mata. Kalau saluran ini tersumbat, air mata tidak bisa mengalir normal, sehingga menimbulkan berbagai masalah pada mata.

 

Apa Itu Saluran Air Mata dan Kenapa Bisa Tersumbat

Normalnya, air mata yang dihasilkan kelenjar air mata akan melewati saluran air mata dan dibuang ke hidung. Namun jika saluran ini tersumbat, air mata “terjebak”, tidak bisa keluar dengan semestinya. Penyumbatan bisa terjadi karena berbagai hal, misalnya:

  • Kelainan sejak lahir (pada bayi) atau saluran yang belum berkembang sempurna.
  • Infeksi/peradangan saluran air mata atau saluran hidung yang berulang.
  • Cedera di wajah atau area sekitar mata yang merusak struktur saluran air mata.
  • Penyempitan saluran akibat pertambahan usia (pada orang dewasa) atau adanya tumor yang menekan saluran.
  • Penggunaan obat tetes mata tertentu dalam jangka panjang atau efek samping terapi, misalnya radioterapi wajah.

 

Tanda & Gejala Penyumbatan Saluran Air Mata

Jika saluran air mata tersumbat, biasanya muncul gejala seperti:

  • Mata terus berair (meskipun Anda tidak menangis).
  • Mata tampak kemerahan.
  • Bengkak atau nyeri di sudut dalam mata (dekat hidung).
  • Keluar cairan kental kadang berwarna kuning atau kehijauan dari sudut mata terutama saat ditekan.
  • Mata kadang terasa lengket, kelopak mata mungkin menempel saat bangun tidur, dan risiko infeksi meningkat jika dibiarkan lama.

Pada bayi, penyumbatan saluran air mata bisa tampak seperti mata “menangis terus”, lendir dan kerak di sudut mata, atau mata yang tampak selalu basah meski bayi tidak menangis.

 

Cara Pemeriksaan dan Diagnosis

Jika saluran air mata dicurigai tersumbat, dokter mata bisa melakukan beberapa pemeriksaan:

  • Menekan bagian luar saluran untuk mengecek aliran air mata.
  • Meneteskan zat pewarna khusus ke mata, lalu melihat apakah pewarna tersebut keluar melalui hidung dalam waktu tertentu sebagai tanda saluran terbuka atau tersumbat.
  • Irigasi atau “flush” saluran dengan larutan garam untuk mengecek dan sekaligus mencoba membuka sumbatan.
  • Jika diperlukan misalnya sumbatan terus menetap atau disertai komplikasi pemeriksaan pencitraan (rontgen / CT scan) bisa dilakukan untuk melihat penyebab sumbatan secara lebih jelas.

 

Pilihan Pengobatan & Penanganan

Penanganan tergantung pada penyebab, usia, dan tingkat keparahan sumbatan. Berikut beberapa metode yang sering digunakan:

  • Pijatan saluran air mata — pada kasus ringan, terutama pada bayi atau dewasa muda, pijatan lembut sesuai petunjuk dokter bisa membantu membuka saluran.
  • Obat tetes mata atau antibiotik — bila ada infeksi, dokter bisa meresepkan obat untuk mengatasi peradangan sebelum atau bersamaan dengan penanganan saluran.
  • Irigasi atau probing (pembilasan + sondasi) — metode ini dilakukan oleh dokter dengan menyemprot larutan fisiologis atau memasukkan probe kecil ke saluran mata untuk membuka sumbatan.
  • Operasi — jika sumbatan tidak bisa diselesaikan dengan metode non-bedah, dokter mata bisa melakukan operasi untuk membuat saluran baru atau memperlebar saluran air mata yang tersumbat.

Pada bayi dengan penyumbatan bawaan, kadang dokter memilih menunggu dulu karena banyak kasus sembuh sendiri dalam beberapa bulan.

 

Mengapa Penanganan Penting

Saluran air mata yang tersumbat dan dibiarkan terlalu lama bisa memicu infeksi berulang, nyeri, dan iritasi. Infeksi yang terjadi berulang bisa menyebabkan komplikasi serius seperti peradangan saluran, abses, bahkan kerusakan jaringan jika tidak diobati.

Dengan diagnosa dan penanganan tepat sejak awal, kebanyakan kasus bisa sembuh dengan baik tanpa perlu tindakan bedah besar.

 

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Jika Anda Curiga Ada Sumbatan

  • Perhatikan tanda-tanda: mata sering berair, kemerahan, bengkak di sudut mata, atau ada cairan kental.
  • Hindari mengucek mata, karena bisa memperparah iritasi atau menyebarkan infeksi.
  • Segera periksakan ke dokter mata jika gejala tidak membaik dalam beberapa hari atau terus berulang.
  • Untuk bayi: jika sejak lahir mata tampak terus berair atau ada lendir/kerak di sudut mata, konsultasikan dengan dokter anak atau dokter mata tindakan ringan seperti pijatan bisa membantu.

 

Menyadari bahwa air mata tidak sekadar “membasahi mata”, tetapi bagian dari sistem pelindung dan bahwa saluran pembuangannya juga harus sehat bisa membantu Anda lebih tanggap kalau ada tanda tidak normal. Bila terdapat gejala penyumbatan, jangan ragu untuk mengecek ke dokter mata agar penanganan bisa dilakukan sejak dini.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Benarkah-Menonton-Televisi-Bisa-Menyebabkan-Mata-Minus.png
26/Nov/2025

Banyak orang percaya bahwa menonton televisi terlalu dekat atau terlalu lama dapat membuat mata menjadi minus. Mitos ini sudah lama beredar, terutama di kalangan orang tua. Namun sebenarnya, apakah kebiasaan menonton TV benar-benar bisa membuat penglihatan memburuk?

Menonton televisi tidak secara langsung menyebabkan mata minus. Miopia atau rabun jauh terjadi saat bola mata bertambah panjang atau kornea mengalami perubahan bentuk, sehingga cahaya tidak jatuh tepat pada retina. Kondisi ini lebih banyak dipengaruhi faktor genetik, kebiasaan melihat jarak dekat terlalu lama, dan kurangnya paparan cahaya alami.

 

TV Tidak Menyebabkan Miopia, Tapi Bisa Membuat Mata Tegang

Menonton TV, ponsel, laptop, atau perangkat layar lainnya dalam waktu lama dapat membuat mata bekerja lebih keras. Akibatnya, mata bisa terasa pegal, kering, atau sakit kepala. Kondisi ini disebut eye strain, dan sifatnya sementara. Jadi, meskipun terasa tidak nyaman, hal ini bukan berarti mata langsung menjadi minus.

Duduk terlalu dekat dengan TV pun bukan penyebab langsung miopia. Biasanya, anak-anak cenderung duduk dekat karena mereka memang mampu memfokuskan penglihatan pada jarak dekat dengan lebih baik daripada orang dewasa. Namun kebiasaan ini tetap bisa membuat mata mudah lelah jika dilakukan terlalu lama.

 

Faktor yang Lebih Berpengaruh pada Mata Minus

Beberapa hal yang justru lebih kuat kaitannya dengan mata minus antara lain:

  • Riwayat keluarga: Jika salah satu atau kedua orang tua bermiopia, risiko anak mengalami kondisi ini lebih tinggi.
  • Aktivitas melihat jarak dekat dalam durasi panjang, seperti membaca, bermain gadget, atau menatap layar dalam waktu lama.
  • Kurang waktu bermain di luar ruangan, terutama pada anak, karena paparan cahaya alami membantu perkembangan mata yang sehat.

 

Menonton TV Terlalu Lama Tetap Bisa Berdampak

Walaupun tidak menyebabkan miopia, menonton televisi terlalu lama tetap bisa menimbulkan beberapa masalah, seperti:

  • Mata kering dan lelah
  • Sakit kepala
  • Kesulitan fokus sementara
  • Risiko gaya hidup sedentary (kurang gerak) jika dilakukan setiap hari

Karena itu, tetap penting untuk membatasi durasi menonton.

 

Tips Menonton TV yang Lebih Aman untuk Mata

Agar mata tetap nyaman saat menonton televisi, coba lakukan beberapa langkah sederhana berikut:

  1. Jaga jarak aman, sekitar 2–3 meter tergantung ukuran TV.
  2. Gunakan aturan 20-20-20: setiap 20 menit, alihkan pandangan ke objek jauh selama 20 detik.
  3. Pastikan ruangan terang, tidak menonton dalam keadaan gelap total.
  4. Batasi waktu menonton, terutama untuk anak-anak.
  5. Seimbangkan aktivitas layar dengan kegiatan luar ruangan.

 

Menonton televisi tidak menyebabkan mata minus, tetapi tetap bisa membuat mata tegang jika dilakukan terlalu lama. Miopia lebih dipengaruhi faktor genetik, kebiasaan melihat jarak dekat, dan kurangnya aktivitas luar ruangan. Dengan mengelola durasi menonton dan menjaga kebiasaan yang sehat, penglihatan dapat tetap terjaga.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Mengenal-5-Tahap-Perkembangan-Trakhoma-yang-Perlu-Diwaspadai.png
24/Nov/2025

Trakhoma adalah infeksi mata yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), penyakit ini berkembang melalui lima tahap sebelum bisa menyebabkan kerusakan mata yang serius, bahkan kebutaan. Berikut penjelasan tiap tahapannya:

  1. Peradangan Folikuler (Follicular)

Di tahap awal ini, terjadi peradangan pada jaringan folikel di bagian dalam kelopak mata atas. Folikel adalah benjolan kecil yang mengandung limfosit (sel darah putih). Karena adanya bakteri, limfosit bereaksi dan menyebabkan munculnya benjolan-benjolan ini, yang kemudian membuat area tersebut terasa gatal dan iritasi.

  1. Peradangan Intens

Jika infeksi tidak ditangani, peradangan akan berkembang lebih parah. Kelopak mata atas bisa membengkak atau menebal secara signifikan. Pada tahap ini, reaksi inflamasi semakin kuat dan menimbulkan rasa tidak nyaman serta kemerahan.

  1. Terbentuknya Jaringan Parut (Scarring)

Radang yang berulang dapat menyebabkan luka (jaringan parut) di konjungtiva kelopak mata bagian dalam. Parutan ini bisa tampak seperti garis putih ketika diperiksa secara detail (misalnya dengan kaca pembesar). Seiring waktu, parutan ini bisa merusak struktur kelopak mata.

  1. Trikiasis (Bulu Mata Tumbuh ke Dalam)

Parutan yang sudah terbentuk dapat mengubah bentuk kelopak mata menjadi “terlipat ke dalam” (entropion). Karena lipatan ini, bulu mata tumbuh ke arah dalam dan menyentuh permukaan kornea (bagian transparan mata), lalu menggeseknya.

  1. Opasitas Kornea (Kornea Keruh)

Akhirnya, gesekan dari bulu mata yang berubah arah dan radang kronis pada kelopak mata bisa merusak kornea, membuatnya keruh. Kondisi ini bisa menurunkan tajam penglihatan dan jika dibiarkan, berisiko menyebabkan kebutaan.

 

Faktor Risiko Trakhoma

Beberapa faktor risiko meningkatkan kemungkinan seseorang terkena trakhoma, antara lain:

  • Lingkungan dengan sanitasi buruk, kurangnya air bersih, dan kebersihan wajah rendah.
  • Tinggal di daerah kumuh atau kemiskinan, di mana fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus) tidak memadai.
  • Anak-anak; mereka lebih mudah menularkan dan menularkan bakteri karena kontak dekat.
  • Wanita; WHO/halodoc menyebut wanita lebih rentan karena kontak lebih sering dengan anak-anak.

 

Pentingnya Penanganan Sejak Dini

Mendeteksi dan menangani trakhoma sejak fase awal (folikuler atau inflamasi) sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, seperti parutan atau pertumbuhan bulu mata abnormal. Penanganan dapat melibatkan:

  • Kebersihan wajah dan tangan secara rutin untuk mencegah penyebaran bakteri,
  • Pengobatan antibiotik pada infeksi aktif,
  • Intervensi bedah pada tahap lanjut (misalnya untuk membetulkan entropion atau bulu mata ke dalam).

 

Trakhoma adalah penyakit mata yang berkembang secara bertahap melalui lima tahap menurut WHO. Dari peradangan folikuler hingga kerusakan kornea, setiap tahap membawa risiko yang meningkat jika tidak ditangani dengan baik. Menjaga kebersihan, terutama di lingkungan dengan sanitasi rendah, serta melakukan pemeriksaan mata secara berkala adalah cara penting untuk mencegah komplikasi yang bisa menyebabkan kebutaan.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Cara-Sederhana-Menjaga-Kesehatan-Mata-Lewat-Asupan-Nutrisi.png
21/Nov/2025

Mata merupakan salah satu indera terpenting yang perlu dijaga kesehatannya. Salah satu cara paling efektif untuk merawat mata adalah melalui pola makan yang tepat. Dilansir dari Halodoc, berikut enam jenis makanan yang dapat mendukung kesehatan mata karena kandungan nutrisi di dalamnya.

  1. Ikan Laut (Salmon dan Sejenisnya)

Ikan laut, terutama ikan berlemak seperti salmon, sangat baik untuk mata. Ikan-ikan tersebut mengandung asam lemak omega-3, yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan retina dan membantu mencegah mata kering.

  1. Almond

Kacang almond adalah sumber vitamin E yang baik. Vitamin E bersifat antioksidan, yang berarti dapat melindungi sel-sel mata dari kerusakan akibat radikal bebas. Dengan konsumsi rutin, almond bisa membantu menurunkan risiko degenerasi makula yang berkaitan usia.

  1. Produk Susu (Susu, Yoghurt, dan Lainnya)

Produk olahan susu juga punya peran penting. Susu dan yoghurt mengandung vitamin A dan seng (zink). Vitamin A mendukung kesehatan kornea, sedangkan seng membantu memindahkan vitamin A ke mata, serta berkontribusi pada penglihatan malam.

  1. Wortel

Wortel dikenal sebagai “makanan mata” karena kaya akan beta-karoten, prekursor dari vitamin A. Vitamin A penting untuk menjaga permukaan mata dan mencegah infeksi serta gangguan mata lainnya.

  1. Sayuran Berdaun Hijau Gelap

Jenis sayuran seperti bayam, kale, dan brokoli mengandung lutein dan zeaxanthin, yaitu dua karotenoid penting untuk mata. Karotenoid ini membantu melindungi mata dari kerusakan jangka panjang, termasuk degenerasi makula.

  1. Jeruk dan Buah Sitrus Lainnya

Buah jeruk kaya vitamin C. Vitamin C sangat berperan dalam menjaga kesehatan pembuluh darah di mata dan membantu melindungi mata dari berbagai kerusakan oksidatif.

 

Mengapa Nutrisi Ini Penting untuk Mata?

  • Antioksidan seperti vitamin E dan C berfungsi melawan radikal bebas, yang bisa merusak sel-sel mata.
  • Lutein dan zeaxanthin berperan langsung melindungi retina dari cahaya tinggi dan stres oksidatif.
  • Omega-3 menjaga kelembapan mata dan kesehatan jaringan retina, yang sangat penting dalam mempertahankan penglihatan jangka panjang.
  • Vitamin A dibutuhkan untuk menjaga fungsi kornea serta mendukung penglihatan terutama pada kondisi cahaya redup.

 

Tips Praktis Memasukkan Makanan Ini ke Menu Sehari-hari

  1. Tambahkan ikan salmon ke menu makan malam 1–2 kali seminggu.
  2. Jadikan almond sebagai camilan sehat di sela kegiatan.
  3. Campurkan yoghurt ke sarapan atau sebagai menu sarapan ringan.
  4. Buat sup atau jus dari wortel agar mudah dikonsumsi.
  5. Tambahkan bayam atau kale ke salad, tumisan, atau omelet.

 

Menjaga kesehatan mata bisa dimulai dari hal sederhana: memilih makanan yang tepat. Ikan berlemak, sayuran hijau, kacang-kacangan, dan buah sitrus semua memiliki nutrisi penting yang mendukung fungsi mata. Dengan memasukkan keenam makanan di atas dalam pola makan harian, Anda bisa membantu mempertahankan kesehatan penglihatan dalam jangka panjang.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Mengenal-Xanthelasma-Penyebab-Risiko-dan-Cara-Mengatasinya.png
20/Nov/2025

Xanthelasma adalah bercak kekuningan atau plak kecil yang muncul di kelopak mata, terutama di sudut dekat hidung. Kondisi ini disebabkan oleh penumpukan lemak terutama kolesterol di bawah kulit kelopak.

Meskipun biasanya tidak berbahaya secara langsung, keberadaan xanthelasma bisa menjadi pertanda adanya gangguan metabolik seperti kolesterol tinggi, dan memerlukan perhatian medis khusus.

 

Penyebab Xanthelasma

Berdasarkan informasi dari Alodokter, terdapat beberapa kondisi yang sering terkait dengan munculnya xanthelasma:

  1. Kolesterol Tinggi
    Penumpukan lemak di kelopak mata umumnya berasal dari kadar kolesterol yang tinggi di dalam darah.
  2. Diabetes
    Pada penderita diabetes, kadar gula darah tinggi dapat meningkatkan kadar LDL (“kolesterol jahat”), yang berkontribusi pada pembentukan xanthelasma.
  3. Obesitas
    Kegemukan atau obesitas dapat memengaruhi metabolisme lemak dan meningkatkan risiko gangguan kolesterol, yang pada akhirnya bisa memicu xanthelasma.
  4. Hipotiroidisme
    Tiroid yang kurang aktif (hipotiroid) dapat mengganggu metabolisme lemak, menyebabkan kolesterol darah meningkat, dan pada akhirnya menimbulkan xanthelasma.
  5. Penyakit Hati
    Salah satu kondisi hati yang disebut adalah primary biliary cholangitis (PBC), yaitu penyakit autoimun pada saluran empedu. Ketika empedu terganggu, kolesterol yang seharusnya dibuang bisa terakumulasi dan menumpuk di jaringan seperti kelopak mata.

 

Gejala dan Diagnosis

  • Xanthelasma biasanya muncul sebagai plak kekuningan di kelopak mata atas atau bawah, terutama di sisi dalam dekat hidung.
  • Bentuknya bisa bervariasi: datar atau agak menonjol, lembut hingga agak padat.
  • Kondisi ini umumnya tidak menimbulkan rasa sakit atau gangguan penglihatan.
  • Untuk diagnosis, dokter biasanya melakukan pemeriksaan fisik dan tes darah untuk mengukur kadar kolesterol.

 

Cara Menghilangkan / Mengatasi Xanthelasma

Alodokter menyebutkan bahwa xanthelasma jarang hilang dengan sendirinya. Bila keberadaannya mengganggu dari segi penampilan, beberapa pilihan perawatan tersedia:

  • Krioterapi: pembekuan dengan nitrogen cair.
  • Operasi pengangkatan: bisa menggunakan pisau bedah atau metode lain.
  • Laser: salah satu cara populer dan minim luka.
  • Peeling kimia: memakai bahan kimia khusus untuk mengangkat plak.
  • Radiofrekuensi / ablasi: menggunakan gelombang panas untuk menghancurkan sel lemak.

Namun perlu diingat, meski diangkat, xanthelasma bisa muncul kembali, terutama jika kadar kolesterol tidak dikendalikan.

 

Pencegahan dan Gaya Hidup untuk Menekan Risiko

Karena xanthelasma erat kaitannya dengan kolesterol tinggi, gaya hidup sehat menjadi kunci penting untuk mencegah atau mengurangi risiko kekambuhan:

  • Terapkan pola makan rendah lemak jenuh dan tinggi serat (buah, sayuran, biji-bijian).
  • Olahraga secara rutin untuk mengatur berat badan dan metabolisme lemak.
  • Hindari konsumsi alkohol berlebihan.
  • Jika kadar kolesterol tinggi, dokter bisa meresepkan obat penurun kolesterol seperti statin (misalnya rosuvastatin, simvastatin) untuk membantu mengontrol lemak darah.

 

Kapan Perlu ke Dokter

  • Bila muncul plak kuning di kelopak mata yang mengganggu penampilan atau tumbuh semakin besar.
  • Pemeriksaan kolesterol penting untuk memastikan apakah penyebab xanthelasma adalah kadar lemak darah tinggi.
  • Konsultasi dengan dokter kulit atau dokter spesialis mata (okuloplastik) bisa dilakukan jika ingin menghilangkannya dengan prosedur medis.

 

Catatan Penting

  • Xanthelasma biasanya bersifat kosmetik dan tidak berbahaya, tetapi bisa menjadi pertanda masalah kesehatan yang mendasari seperti hiperlipidemia.
  • Karena risiko kambuh setelah perawatan cukup tinggi, pengendalian faktor penyebab seperti kolesterol sangat penting.
  • Jangan mencoba menghilangkannya sendiri dengan metode yang belum terbukti aman, apalagi di area sensitif seperti kelopak mata.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Hal-Penting-yang-Harus-Diperhatikan-Sebelum-Membeli-Kacamata-Minus.png
19/Nov/2025

Memilih kacamata minus bukan sekadar memilih frame yang keren. Ada beberapa aspek penting yang harus diperhatikan agar penglihatan nyaman dan kacamata benar-benar sesuai kebutuhan Anda.

  1. Periksa Mata Secara Profesional

Sebelum membeli kacamata, sangat penting melakukan pemeriksaan mata ke dokter mata atau optometrist. Tes ini akan menentukan kekuatan minus (dioptri), apakah ada astigmatisme, dan jarak pupil (PD) yang penting untuk pembuatan lensa. Hal ini mencegah kesalahan resep yang bisa semakin memperparah ketidaknyamanan.

  1. Pahami Resep Kacamata Anda

Setelah pemeriksaan, Anda akan menerima “resep” kacamata yang berisi kode seperti SPH, CYL, dan AXIS.

  • SPH: nilai minus yang menunjukkan rabun jauh.
  • CYL dan AXIS: jika ada, berarti Anda memiliki astigmatisme, dan lensa yang dibutuhkan lebih spesial.
  1. Pilih Jenis Lensa yang Tepat

Tergantung pada nilai minus dan kebutuhan harian Anda:

  • Untuk minus tinggi, pertimbangkan lensa high-index agar lebih tipis dan ringan
  • Jika sering bekerja di depan layar komputer, lensa dengan lapisan anti-pantul atau filter sinar biru bisa sangat berguna
  1. Sesuaikan Frame dengan Bentuk Wajah dan Kebiasaan

Pilih frame yang tidak hanya gaya, tetapi juga nyaman: sesuai bentuk wajah, ringan, dan kuat. Bingkai yang tepat bisa meningkatkan kenyamanan pemakaian dan mengoptimalkan letak lensa di depan mata.

  1. Pastikan Resep Anda Masih Valid

Resep kacamata bisa berubah seiring waktu. Menggunakan resep lama yang sudah tidak tepat lagi bisa menyebabkan mata cepat lelah, sakit kepala, atau penglihatan kabur.

  1. Gunakan Kacamata dengan Benar

Untuk hasil penglihatan terbaik, disarankan memakai kacamata sesuai resep setiap hari (jika disarankan dokter), bukan dipasang dan dilepas sesuka hati.

  1. Rawat Kacamata Anda dengan Baik

Perawatan yang tepat bisa memperpanjang umur kacamata: bersihkan lensa dengan kain mikrofiber, simpan di kotak saat tidak dipakai, dan hindari paparan panas yang berlebihan.

 

Sebelum membeli kacamata minus, lakukan pemeriksaan mata yang akurat, pahami resep Anda, dan pilih lensa serta frame yang sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu, penglihatan Anda tidak hanya menjadi lebih jelas, tetapi juga tetap nyaman dalam jangka panjang.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Arcus-Senilis-Mengapa-Ada-Lingkaran-Putih-di-Mata-Anda.png
17/Nov/2025

Pernah melihat lingkaran putih, abu-abu, atau kebiruan yang melingkari tepi kornea (bagian paling depan mata)? Mungkin itulah yang disebut arcus senilis. Kondisi ini sering dianggap sebagai perubahan kosmetik saja, namun kenyataannya bisa menjadi sinyal bagi kondisi tubuh lain yang lebih serius. Berikut penjelasan lengkap: pengertian, penyebab, deteksi, dan apa yang harus dilakukan.

 

Apa Itu Arcus Senilis?

Arcus senilis adalah suatu kondisi di mana di tepi kornea mata muncul cincin atau lengkungan berwarna putih/abu-abu keabuan.
Berbeda dengan katarak yang memengaruhi lensa dan kemampuan penglihatan arcus senilis tidak mengganggu penglihatan.
Kondisi ini paling sering muncul pada orang lanjut usia sebagai bagian dari proses penuaan. Namun bila muncul pada usia muda, maka perlu ditinjau lebih lanjut karena bisa terkait dengan kadar kolesterol tinggi atau gangguan metabolisme.

 

Mengapa Terjadi? Penyebab & Faktor Risiko

Arcus senilis terbentuk karena adanya penumpukan lipid (lemak) dan kolesterol di bagian tepi kornea.
Beberapa faktor yang ikut berperan antara lain:

  • Kadar kolesterol total atau trigliserida yang tinggi terkait pola makan tinggi lemak dan gorengan.
  • Usia yang bertambah karena proses penuaan alami.
  • Faktor genetik dan riwayat keluarga dengan gangguan lipid.
  • Gaya hidup seperti merokok, kurang olahraga, obesitas, atau penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.
  • Bila kondisi muncul pada usia muda (< 50 tahun), maka sering kali menjadi indikator bahwa ada masalah kolesterol atau pembuluh darah yang mendasar.

 

Bagaimana Tanda & Gejalanya?

Arcus senilis sendiri umumnya tidak menimbulkan gejala khusus selain perubahan warna pada mata.
Beberapa hal yang bisa terlihat:

  • Cincin atau lengkungan putih keabuan di tepi kornea, bisa melingkar penuh atau setengah lingkaran.
  • Terlihat jelas saat berdiri di depan cermin atau kondisi pencahayaan tertentu.
  • Tidak sakit, tidak mengganggu penglihatan secara langsung.
  • Namun, jika muncul pada usia muda atau hanya pada satu mata, perlu diperhatikan karena bisa menjadi sinyal gangguan sistemik.

 

Apakah Perlu Diobati?

Karena arcus senilis tidak mengganggu penglihatan, maka tidak selalu memerlukan terapi khusus untuk kondisinya sendiri.
Namun ada dua hal penting yang perlu dilakukan:

  1. Pemeriksaan tambahan: Terutama jika kondisi muncul pada usia muda atau disertai faktor risiko lain seperti kolesterol tinggi, penyakit jantung. Dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan kadar lipid darah, tekanan darah, dan evaluasi kesehatan jantung.
  2. Perubahan gaya hidup: Karena penyebab utamanya adalah penumpukan lemak dan kolesterol, maka pola hidup sehat sangat dianjurkan mulai dari diet rendah lemak jenuh, berhenti merokok, olahraga rutin, dan mengendalikan berat badan.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasi ke dokter mata atau spesialis bila:

  • Lingkaran putih muncul di mata pada usia relatif muda (< 50 tahun).
  • Hanya satu mata yang menunjukkan tanda ini bisa menunjukkan keterlibatan pembuluh darah spesifik.
  • Terdapat faktor risiko: kolesterol tinggi, hipertensi, diabetes, riwayat penyakit jantung.
  • Ingin pemeriksaan lebih lanjut terkait kondisi kolesterol atau risiko kardiovaskular.

 

Meskipun arcus senilis memang terlihat seperti perubahan estetika saja, kehadirannya bisa menjadi alarm bahwa ada kondisi metabolik atau kardiovaskular yang perlu diperhatikan lebih jauh. Menjadikan pola hidup sehat sebagai kebiasaan akan membantu bukan hanya menjaga mata Anda, tetapi juga kesehatan secara menyeluruh.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Retinal-Tear-Robekan-pada-Retina-yang-Harus-Diwaspadai.png
13/Nov/2025

Bayangkan: tiba-tiba Anda melihat kilatan cahaya di pandangan Anda atau muncul “bintik hitam” baru yang bergerak saat Anda menatap layar. Bisa jadi itu bukan sekadar kelelahan mata melainkan tanda dari retinal tear, yaitu kondisi ketika lapisan retina di bagian belakang mata mengalami robekan. Menurut ulasan dari Cleveland Clinic, meski robekan ini masih bisa ditangani, apabila diabaikan bisa berkembang menjadi kondisi yang jauh lebih serius yaitu Retinal Detachment (lepasnya retina).

 

Apa Itu Retinal Tear?

Retinal tear adalah robekan atau luka pada retina lapisan tipis sel-jaringan di bagian belakang bola mata yang tugasnya menangkap cahaya dan mengubahnya menjadi sinyal visual ke otak.
Penyebab umum robekan ini adalah ketika zat seperti gel vitreus yang ada dalam mata (vitreous humour) terseret atau tertarik kuat ke retina hingga membuat robekan kecil.
Robekan ini tidak sama dengan lepasnya retina tetapi bisa menjadi pintu masuk bagi cairan untuk masuk di belakang retina sehingga memicu retina terlepas bila tidak segera ditangani.

 

Gejala yang Harus Diwaspadai

Anda mungkin punya robekan retina jika mengalami salah satu atau lebih gejala berikut:

  • Kilatan cahaya tiba-tiba (photopsia) atau “flash” ketika mata bergerak.
  • Muncul banyak bintik hitam atau “floaters” baru yang melayang saat melihat ke permukaan terang.
  • Penglihatan buram secara tiba-tiba atau bayangan seperti tirai mulai muncul di pinggir pandangan.
  • Kadang robekan bisa tanpa gejala yang terasa inilah mengapa pemeriksaan mata rutin penting.

Jika Anda mendapati salah satu dari gejala di atas, segera periksakan ke dokter mata. Karena semakin cepat robekan ditangani, semakin besar peluang menjaga penglihatan.

 

Faktor Pemicu dan Kelompok Risiko

Beberapa kondisi yang meningkatkan risiko terjadinya retinal tear antara lain:

  • Usia semakin bertambah, vitreous dalam mata mengalami perubahan struktur.
  • Miopia (rabun jauh) berat retina lebih tipis atau meregang, membuatnya lebih rentan terhadap robekan.
  • Riwayat keluarga dengan masalah retina atau detasemen retina.
  • Cedera atau trauma pada mata, pukulan, benturan keras, atau pemakaian lensa kontak yang tidak cocok juga bisa memicu.
  • Kondisi seperti degenerasi retina (contoh: Lattice Degeneration) yang membuat retina lebih lemah.

Penanganan: Waktu Adalah Kunci

Penanganan robekan retina harus dilakukan oleh dokter spesialis mata (olfalmolog) atau retina specialist. Menurut sumber, prosedur umum yang dilakukan:

  • Lasik retina atau laser fotokoagulasi: menggunakan laser untuk membuat “batas luka” di sekitar robekan agar cairan tidak masuk ke belakang retina.
  • Cryopexy: menggunakan suhu sangat dingin untuk “membekukan” area robekan sehingga membentuk jaringan parut yang menahan retina agar tidak terlepas.
  • Pengawasan dan kontrol ketat: setelah laser atau cryopexy, dokter akan memantau kondisi retina hingga stabil dan mencegah komplikasi.

Prognosisnya cukup baik jika robekan segera ditemukan dan ditangani. Namun jika dibiarkan, bisa berkembang menjadi lepasnya retina yang merupakan keadaan darurat medis.

 

Cara Mencegah & Menjaga Kesehatan Retina

Walau tidak semua robekan bisa dicegah, terdapat langkah-proaktif yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan retina Anda:

  • Lakukan pemeriksaan mata rutin, terutama jika Anda punya risiko seperti miopia atau riwayat keluarga.
  • Lindungi mata Anda: saat melakukan olahraga ekstrem, berkendara, atau bekerja di lingkungan berisiko, gunakan pelindung mata.
  • Segera konsultasi ke dokter bila melihat “flash” atau banyak “floaters” baru muncul. Jangan tunggu hingga penglihatan menurun.
  • Kendalikan kondisi yang bisa memengaruhi retina seperti tinggi miopia, trauma mata, atau gangguan mata lain.

 

Robekan pada retina mungkin terdengar “kecil”, tapi dampaknya bisa sangat besar bagi kehidupan sehari-hari terutama bagi kemampuan melihat dengan jelas. Dengan mengenali gejala sejak awal, bertindak cepat, dan menjaga kebiasaan sehat untuk mata Anda, peluang untuk mempertahankan penglihatan akan semakin besar.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Penglihatan-Mulai-Kabur-Saat-Diabetes-Hati-Hati-Edema-Makula.png
12/Nov/2025

Jika Anda atau orang terdekat hidup dengan Diabetes Mellitus, maka penting untuk benar-benar memahami risiko yang mengintai mata Anda. Salah satu komplikasi yang sering terlupakan namun sangat berbahaya adalah Edema Makula Diabetik (EMD) suatu kondisi di mana makula, bagian tengah retina yang sangat penting untuk penglihatan tajam, mengalami pembengkakan akibat penumpukan cairan.

 

Apa Itu Edema Makula Diabetik?

Makula adalah pusat retina yang bertugas menangkap detil dan warna saat kita melihat langsung ke depan. Ketika seseorang mengidap diabetes dalam jangka panjang dan kadar gula darahnya tidak terkontrol, pembuluh darah kecil di retina bisa rusak dan bocor. Akibatnya, cairan menumpuk di makula, menyebabkan jaringan menebal dan penglihatan terganggu itulah yang disebut edema makula diabetik.

 

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Karena makula berada di pusat penglihatan, gangguan pada makula sangat memengaruhi aktivitas sehari-hari. Beberapa gejala yang sering muncul antara lain:

  • Penglihatan menjadi kabur atau bergelombang, terutama di bagian tengah bidang pandang.
  • Warna tampak kurang cerah atau “pudar”.
  • Melihat bayangan gelap atau titik-titik hitam yang tampak bergerak saat mata digerakkan.
  • Dalam tahap awal, sering kali tidak bergejala, sehingga penderita mungkin tidak menyadari adanya gangguan.

Jika Anda sudah menderita diabetes dan mulai merasakan gejala-gejala di atas sebaiknya segera memeriksakan mata ke dokter spesialis.

 

Mengapa Diabetes Bisa Menyebabkan Kondisi Ini?

Beberapa mekanisme membuat penderita diabetes lebih rentan mengalami EMD:

  • Kadar gula darah tinggi secara terus-menerus merusak pembuluh darah kecil di retina, membuat dindingnya melemah dan bocor.
  • Kebocoran pembuluh darah menyebabkan akumulasi cairan di makula dan penebalan jaringan retina.
  • Faktor risiko lain yang memperbesar kemungkinan munculnya EMD: lamanya menderita diabetes, kadar gula yang tidak terkendali, memiliki komplikasi ginjal ataupun kolesterol tinggi, juga tekanan darah tinggi.

Diagnosis dan Penanganan

Untuk memastikan ada atau tidaknya EMD, dokter mata akan melakukan beberapa pemeriksaan, seperti:

  • Tes ketajaman penglihatan.
  • Foto retina (fundus) melihat kondisi pembuluh darah retina.
  • Optical coherence tomography (OCT) untuk melihat dengan jelas keberadaan cairan di makula dan seberapa parah pembengkakannya.

Penanganannya meliputi:

  • Terapi laser untuk menutup pembuluh darah yang bocor.
  • Suntikan obat ke mata seperti agen anti-VEGF untuk menghambat pembentukan pembuluh darah baru dan mengurangi pembengkakan.
  • Pengobatan kombinasi: kadang laser dan suntikan digabungkan untuk hasil lebih baik.

 

Pencegahan: Kunci Agar Mata Anda Tak Melewatkan Cerita

Karena kondisi ini berkaitan erat dengan kontrol diabetes dan gaya hidup, maka langkah pencegahan sangatlah penting:

  • Jaga kadar gula darah dalam rentang normal melalui diet, olahraga, dan obat sesuai anjuran.
  • Kendalikan tekanan darah dan kadar kolesterol agar pembuluh darah retina tak makin rusak.
  • Lakukan pemeriksaan mata secara rutin, terutama jika sudah menderita diabetes beberapa tahun. Deteksi dini bisa sangat menyelamatkan penglihatan.

 

Mata bukan hanya “alat melihat”, tapi juga jendela dunia indah dan penuh warna. Jika Anda hidup dengan diabetes, jangan anggap remeh perubahan kecil pada penglihatan. Kenali gejalanya, lakukan pemeriksaan secara rutin, dan jalani gaya hidup sehat untuk menjaga agar mata Anda tetap cerah dan tajam.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia




Our Vision


No person with a blinding condition, eye disease, or visual impairment should be without hope, understanding, and treatment.


Contact Us


Hubungi Kami

(031) 8495502, (031) 8433050
082143717979 ( WA only)


Kunjungi Kami

Jalan Raya Jemursari No. 108,
Surabaya, Indonesia


Email Kami

admin@surabayaeyeclinic.id



Lokasi Kami



Media Sosial


Instagram


facebook


Twitter


Youtube




CopyRight, 2024 | Managed by Markbro | PT Klinik Mata Surabaya




WeCreativez WhatsApp Support
Tim CS Kami Siap Membantu Anda. Silahkan Tanya Kami!