Dapatkan Informasi Mengenai kesehatan Mata dan Informasi Lainnya

Info Untuk Anda

Semoga Informasi ini bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh seputar edukasi tentang kesehatan mata kita.

Category filter:Allkesehatan mataPengumumanProduct KnowledgeUncategorizedVideo Edukasi
No more posts

Mengenal-Papilledema-Pembengkakan-Saraf-Mata-yang-Bisa-Sebabkan-Kehilangan-Penglihatan.png
21/Jun/2025

Papilledema belakangan ini menjadi perbincangan hangat di berbagai media, terutama karena dikabarkan menyerang salah satu mantan atlet kebanggaan Indonesia. Kondisi ini merupakan gangguan pada mata yang terjadi akibat pembengkakan saraf optik.

Secara umum, gejala ringan dari papilledema mungkin tidak menimbulkan masalah serius. Namun, apabila kondisinya berkembang menjadi lebih parah, papilledema dapat menjadi tanda adanya cedera atau gangguan kesehatan serius yang membutuhkan penanganan segera. Mengetahui gejala dan fakta penting tentang papilledema dapat membantu mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut.

 

Fakta Menarik Seputar Papilledema

Penumpukan Cairan Jadi Penyebab Utama

Papilledema disebabkan oleh peningkatan tekanan di dalam tengkorak akibat penumpukan cairan serebrospinal (CSF), yaitu cairan yang berfungsi melindungi otak dan saraf optik dari benturan. Tekanan ini membuat saraf optik mengalami pembengkakan saat memasuki bola mata melalui cakram optik.

 

Disebabkan oleh Kondisi Medis Serius

Peningkatan tekanan pada otak yang memicu papilledema sering kali dipicu oleh kondisi medis berat seperti:

  • Cedera kepala berat
  • Peradangan otak atau jaringan di sekitarnya
  • Krisis hipertensi atau tekanan darah yang sangat tinggi
  • Infeksi atau pendarahan otak
  • Sumbatan pada aliran darah atau cairan serebrospinal
  • Abses otak (kumpulan nanah akibat infeksi)
  • Meningitis (radang selaput otak)
  • Anemia berat
  • Kelainan pada sumsum tulang belakang

 

Bisa Menyebabkan Kehilangan Penglihatan

Gejala awal papilledema umumnya melibatkan perubahan kecil pada penglihatan, seperti pandangan kabur atau ganda, munculnya kilatan cahaya, atau gangguan penglihatan sementara dalam hitungan detik. Namun jika dibiarkan, tekanan yang terus meningkat dapat memperparah gangguan penglihatan hingga menjadi permanen. Gejala lainnya yang dapat menyertai termasuk:

  • Mual dan muntah
  • Sakit kepala berat yang tidak biasa
  • Telinga berdenging
  • Masalah neurologis seperti gangguan gerakan atau berpikir

Semua gejala ini bisa berkembang dan mengarah pada kehilangan penglihatan jika tidak ditangani dengan segera.

 

Lebih Rentan Menyerang Wanita dengan Obesitas

Papilledema juga dapat terjadi akibat kondisi yang disebut idiopathic intracranial hypertension (IIH), yaitu tekanan tinggi dalam tengkorak yang tidak diketahui penyebab pastinya. IIH sering menyerang wanita usia 20–44 tahun dengan berat badan berlebih atau obesitas. Kondisi ini bisa memicu produksi CSF yang berlebihan atau gangguan dalam aliran keluarnya, sehingga meningkatkan tekanan di otak.

Beberapa obat seperti litium, antibiotik tertentu, dan kortikosteroid juga diduga dapat memicu IIH. Gejalanya meliputi sakit kepala, gangguan penglihatan, dan telinga berdenging. Kasus papilledema yang berhubungan dengan IIH diperkirakan terjadi pada 13 dari setiap 100.000 wanita dengan berat badan berlebih.

 

Pilihan Pengobatan Tergantung Penyebabnya

Penanganan papilledema sangat bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Jika disebabkan oleh IIH, dokter mungkin akan menyarankan penurunan berat badan dan diet rendah garam. Obat-obatan seperti acetazolamide, furosemide, atau topiramate juga dapat diberikan untuk mengurangi tekanan dalam tengkorak.

Jika obat tidak efektif, prosedur operasi dapat menjadi pilihan. Untuk kasus yang disebabkan oleh tumor atau cedera kepala, tindakan medis lebih lanjut dan intensif diperlukan, termasuk operasi atau terapi lain yang lebih kompleks. Dengan memahami gejala, faktor risiko, dan penanganan papilledema, masyarakat diharapkan bisa lebih waspada dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami gangguan penglihatan yang mencurigakan. Deteksi dan penanganan dini menjadi kunci dalam mencegah komplikasi serius seperti kehilangan penglihatan permanen.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Memahami-Retinopati-Gejala-Pemeriksaan-dan-Deteksi-Dini.png
19/Jun/2025

Diagnosis retinopati diperoleh dari wawancara medis mengenai faktor risiko serta pengamatan klinis melalui pemeriksaan mata, terutama pada bagian belakang bola mata. Upaya deteksi dini ditujukan untuk mengenali lesi awal pada retina, seperti perubahan pembuluh darah kecil yang dapat mengindikasikan gangguan.

Keluhan Awal dan Riwayat Pasien

Pasien dengan retinopati diabetik umumnya mengeluhkan penurunan penglihatan yang terjadi secara bertahap, munculnya bayangan seperti bintik-bintik melayang (floaters), hingga penglihatan seperti terowongan. Keluhan serupa juga sering muncul pada pasien dengan retinopati akibat hipertensi, seperti pandangan yang kabur, penglihatan ganda, sakit kepala, dan penyempitan lapang pandang. Gejala ini biasanya muncul saat penyakit sudah berada pada tahap lanjut.

Pada bayi prematur, informasi penting yang perlu digali dalam anamnesis mencakup usia kelahiran kurang dari 32 minggu, berat badan lahir di bawah 1500 gram, serta faktor risiko lain seperti paparan oksigen tambahan, kondisi hipoksemia saat lahir, dan berbagai penyakit selama masa neonatal.

Untuk retinopati sentral, pasien bisa mengalami penurunan penglihatan secara mendadak, terutama pada bagian tengah penglihatan. Keluhan seperti distorsi bentuk benda (metamorfopsia) dan adanya bayangan gelap (scotoma) pada salah satu mata juga bisa muncul.

Pemeriksaan Oftalmologi dan Temuan Klinis

Pemeriksaan mata dilakukan dengan memfokuskan pada bagian belakang mata menggunakan alat funduskopi, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Retinopati Diabetik

Pemeriksaan pada pasien dengan retinopati diabetik akan menunjukkan adanya mikroaneurisma, perdarahan, tumpukan lemak (eksudat), perubahan ukuran pembuluh darah vena, serta pertumbuhan pembuluh darah baru yang abnormal. Semua tanda ini bisa berkembang dari fase awal hingga tahap lanjut, yakni retinopati diabetik proliferatif.

Penurunan ketajaman penglihatan bisa terjadi akibat perdarahan dari pembuluh darah yang rapuh. Jika perdarahan berasal dari pleksus kapiler superfisial, maka akan tampak seperti lidah api atau pecahan kaca. Bila perdarahan terjadi lebih dalam, bentuknya menyerupai bercak atau titik-titik kecil. Pasien juga bisa mengalami perdarahan vitreus, pembengkakan makula, atau berkurangnya aliran darah di retina yang dapat mengganggu penglihatan secara signifikan.

 

Retinopati Hipertensi

Pada funduskopi, retinopati akibat tekanan darah tinggi dapat memperlihatkan berbagai perubahan, seperti penyempitan arteriol, persilangan pembuluh darah yang menonjol, hingga perubahan pada saraf optik dan makula. Beberapa tanda khas yang bisa diamati antara lain vena yang tampak bengkok, menyempit di dekat titik perpotongan dengan arteri, atau tampak lebih penuh pada bagian distal dari titik tersebut.

Refleks cahaya dari pembuluh arteri bisa tampak lebih terang menyerupai kawat tembaga atau perak, sebagai tanda penyempitan pembuluh. Perdarahan retina bisa berbentuk bercak atau seperti lidah api. Tumpukan lemak bisa muncul sebagai eksudat keras, sementara area iskemia saraf tampak sebagai bercak putih lembut seperti kapas. Penumpukan eksudat di sekitar makula bisa membentuk pola seperti bintang, dan pembengkakan saraf optik juga bisa terjadi.

Retinopati pada Bayi Prematur

Retina bayi prematur dibagi menjadi tiga zona, dari pusat hingga tepi retina. Tahapan retinopati prematuritas dimulai dari munculnya garis pemisah antara retina yang belum memiliki pembuluh darah dan bagian yang sudah bervaskularisasi. Pada tahap selanjutnya, batas tersebut menjadi lebih menonjol dan disertai pertumbuhan pembuluh darah yang abnormal. Jika penyakit terus berlanjut, retina bisa terlepas sebagian hingga total.

Pada bentuk yang lebih agresif, terutama di bagian tengah retina, ditemukan perubahan drastis pada pembuluh darah seperti dilatasi dan bentuk yang berkelok. Hal ini menunjukkan tingginya aktivitas faktor pertumbuhan pembuluh darah dan meningkatkan risiko progresivitas penyakit.

Retinopati Sentral Serosa

Gangguan ini ditandai dengan terangkatnya retina akibat penumpukan cairan serosa, terutama di area makula. Pada beberapa kasus, bisa terjadi pada kedua mata sekaligus. Terkadang ditemukan penumpukan fibrin yang menimbulkan warna kekuningan di bawah retina.

Pemeriksaan Tambahan untuk Evaluasi

  • Ultrasonografi B-Scan

Pemeriksaan ini bermanfaat bila bagian dalam mata tidak dapat terlihat jelas, misalnya akibat perdarahan pada vitreus. USG memberikan gambaran struktur retina yang tersembunyi di balik kekeruhan media.

  • Optical Coherence Tomography (OCT)

OCT memungkinkan visualisasi tiga dimensi retina. Dengan teknologi ini, dokter dapat mengukur ketebalan retina dan mendeteksi adanya pembengkakan. Pada retinopati diabetik, OCT dapat menampilkan edema makula dan tarikan antara vitreus dan makula. Pemeriksaan ini juga digunakan untuk memantau efektivitas terapi.

Pada kasus retinopati sentral serosa, OCT memperlihatkan bagian retina yang terangkat dengan rongga berisi cairan. Bila berlangsung lama, bisa muncul endapan di bawah retina. Pemeriksaan juga dapat menunjukkan cairan di dalam retina, bercak-bercak di koroid, serta ketidakteraturan pada lapisan fotoreseptor dan pigmen retina.

  • Angiografi Fluoresen Fundus

Pemeriksaan ini digunakan sebagai pelengkap pada berbagai jenis retinopati. Pada retinopati diabetik, gambaran khas berupa titik terang kecil yang membesar dan bocor di fase akhir. Perdarahan akan tampak sebagai area gelap yang tidak teraliri darah. Pertumbuhan pembuluh darah baru juga bisa terlihat jelas karena kebocoran zat kontras.

Pada retinopati hipertensi berat, angiografi dapat menunjukkan gangguan aliran darah di kapiler, pola pengisian yang menyerupai cabang-cabang pohon, serta mikronaneurisma. Pemeriksaan ini juga penting dalam evaluasi pertumbuhan pembuluh darah retina secara rinci, sangat membantu untuk mendiagnosis retinopati pada bayi prematur, dan juga dapat menyoroti area retina abnormal pada kasus sentral serosa yang akan menjadi target terapi laser.

  • Indocyanine Green Angiography

Teknik ini sangat berguna untuk melihat lapisan pembuluh darah koroid. Pada retinopati hipertensi, bisa muncul tampilan seperti gigitan ngengat pada lapisan tertentu. Pemeriksaan ini juga merupakan metode utama untuk mengevaluasi retinopati sentral serosa kronis. Gambaran khas yang bisa muncul antara lain keterlambatan pengisian pembuluh darah, pembesaran vena di koroid, serta area hiperfluoresen yang menunjukkan kebocoran zat pewarna.

Melalui pemeriksaan klinis dan tambahan yang tepat, retinopati dapat dikenali dan ditangani sejak dini untuk mencegah komplikasi lebih lanjut yang dapat mengganggu kualitas penglihatan bahkan menyebabkan kebutaan.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Mengenal-Peradangan-Mata-yang-Bisa-Sebabkan-Kebutaan.png
18/Jun/2025

Uveitis adalah kondisi peradangan yang terjadi pada bagian tengah mata, yang dikenal sebagai uvea. Uvea merupakan lapisan penting yang terdiri dari tiga komponen utama: iris (bagian berwarna mata), badan siliaris (yang mengatur fokus lensa), dan koroid (yang memasok darah ke retina). Peran uvea sangat vital dalam menjaga kesehatan dan fungsi penglihatan. Maka, ketika bagian ini mengalami peradangan, dampaknya bisa cukup serius, mulai dari rasa nyeri hingga gangguan penglihatan yang berujung pada kebutaan permanen bila tidak segera ditangani.

Uveitis dapat menyerang salah satu mata maupun kedua mata sekaligus. Kondisi ini bisa muncul secara tiba-tiba atau berkembang perlahan dari waktu ke waktu. Tingkat keparahannya pun bervariasi tergantung pada lokasi dan penyebab yang mendasarinya.

 

Jenis-Jenis Uveitis Berdasarkan Lokasi Peradangan

Uveitis diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan bagian uvea yang terkena dampak:

  • Uveitis Anterior

Ini adalah bentuk paling umum dari uveitis, yang melibatkan iris dan/atau badan siliaris di bagian depan mata. Biasanya muncul secara mendadak dan bisa kambuh berulang kali. Gejalanya sering mencakup mata merah, nyeri, dan sensitivitas terhadap cahaya.

  • Uveitis Intermediet

Terjadi pada bagian tengah bola mata, terutama di sekitar vitreous dan badan siliaris. Salah satu tanda khasnya adalah munculnya floaters, yaitu bintik-bintik gelap yang tampak melayang di bidang pandang.

  • Uveitis Posterior

Menyerang bagian belakang mata, yaitu koroid dan retina. Jenis ini dapat berdampak besar terhadap ketajaman penglihatan dan kerap memerlukan penanganan intensif.

  • Panuveitis

Ini merupakan bentuk uveitis yang paling serius karena melibatkan seluruh bagian uvea. Panuveitis biasanya membutuhkan perawatan jangka panjang dan pengawasan ketat karena risiko komplikasinya sangat tinggi.

 

Gejala yang Harus Diwaspadai

Gejala uveitis bisa bervariasi tergantung jenis dan lokasi peradangannya. Namun, secara umum, seseorang yang mengalami uveitis dapat merasakan:

  • Mata merah
  • Rasa nyeri di mata
  • Penglihatan kabur
  • Sensitivitas tinggi terhadap cahaya (fotofobia)
  • Munculnya floaters atau bintik-bintik kecil melayang
  • Penurunan tajam penglihatan

Karena gejala-gejala ini juga bisa menyerupai gangguan mata lainnya, sangat penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter mata bila tanda-tanda tersebut muncul.

 

Apa Saja Penyebab Uveitis?

Uveitis bukanlah penyakit tunggal yang berdiri sendiri. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari infeksi hingga penyakit autoimun. Berikut beberapa penyebab umum yang dapat memicu uveitis:

  • Infeksi

Termasuk infeksi virus seperti herpes dan cytomegalovirus, infeksi bakteri seperti tuberkulosis dan sifilis, parasit seperti toksoplasmosis, maupun infeksi jamur.

  • Penyakit Autoimun dan Peradangan Sistemik

Sejumlah kondisi autoimun, seperti lupus, artritis idiopatik juvenil, penyakit Behçet, spondilitis ankilosa, dan penyakit Crohn, diketahui dapat memicu uveitis sebagai manifestasi dari peradangan sistemik.

  • Faktor Lain

Trauma atau cedera mata, efek samping dari obat-obatan tertentu, serta kasus tanpa penyebab yang jelas (idiopatik) juga dapat menjadi pemicu munculnya uveitis.

 

Bagaimana Uveitis Dideteksi?

Diagnosis uveitis memerlukan pemeriksaan mata yang cermat. Dokter mata biasanya akan melakukan evaluasi lengkap terhadap kondisi mata, termasuk:

  • Pemeriksaan dengan lampu celah (slit lamp) untuk melihat bagian dalam mata secara detail
  • Penilaian tajam penglihatan
  • Pengukuran tekanan bola mata
  • Pemeriksaan penunjang seperti tes darah atau analisis cairan mata jika dicurigai adanya infeksi atau penyakit sistemik
  • Pencitraan retina, seperti fundus foto atau OCT, untuk menilai kondisi jaringan bagian belakang mata

Penanganan Uveitis

Tujuan utama pengobatan uveitis adalah untuk meredakan peradangan, mengendalikan penyebab yang mendasari, dan mencegah kerusakan permanen pada mata. Langkah pengobatan bisa meliputi:

  • Obat-obatan

Kortikosteroid adalah obat utama untuk menekan peradangan. Obat ini bisa diberikan dalam bentuk tetes mata, obat oral, atau suntikan, tergantung tingkat keparahan. Imunosupresan juga bisa digunakan pada kasus berat yang melibatkan penyakit autoimun. Bila uveitis disebabkan oleh infeksi, maka antibiotik atau antivirus menjadi pilihan utama. Tetes mata untuk melebarkan pupil juga sering diresepkan guna mengurangi nyeri dan mencegah perlekatan antara iris dan lensa.

  • Tindakan Lain

Dalam kasus tertentu, terutama jika telah timbul komplikasi seperti glaukoma atau katarak, tindakan pembedahan mungkin diperlukan. Pemantauan berkala oleh dokter mata juga sangat penting untuk memastikan penyakit tidak kambuh atau berkembang lebih parah.

 

Risiko Komplikasi Jika Tidak Diobati

Tanpa pengobatan yang tepat, uveitis bisa menyebabkan sejumlah komplikasi serius, antara lain:

  • Katarak (keruhnya lensa mata)
  • Glaukoma (peningkatan tekanan dalam bola mata)
  • Edema makula (pembengkakan retina)
  • Pelepasan retina
  • Gangguan penglihatan permanen hingga kebutaan

 

Langkah Pencegahan dan Perawatan Jangka Panjang

Karena uveitis bisa disebabkan oleh berbagai faktor, pencegahannya pun tergantung pada kondisi dasar masing-masing individu. Namun, beberapa langkah penting yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko kekambuhan dan menjaga kesehatan mata antara lain:

  • Mengontrol penyakit sistemik seperti lupus atau Crohn’s
  • Rutin memeriksakan mata, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat uveitis atau penyakit autoimun
  • Menggunakan pelindung mata saat beraktivitas yang berisiko menimbulkan cedera
  • Tidak menghentikan pengobatan tanpa arahan dokter

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Waspadai-Ablasio-Retina-Gangguan-Serius-yang-Dapat-Sebabkan-Kehilangan-Penglihatan.png
17/Jun/2025

Retina adalah lapisan tipis yang terletak di bagian terdalam bola mata dan memiliki peranan sangat penting dalam proses penglihatan. Fungsinya adalah menerima cahaya dari luar, lalu mengubahnya menjadi sinyal saraf yang akan diteruskan ke otak. Melalui lapisan fotoreseptor, retina mengelola cahaya agar penglihatan kita menjadi jelas dan tajam, termasuk dalam hal warna serta intensitasnya. Ketika retina mengalami kerusakan, maka kemampuan melihat pun dapat terganggu secara signifikan.

Salah satu kondisi serius yang dapat terjadi pada retina adalah ablasio retina. Ini adalah gangguan ketika retina terlepas dari bagian belakang bola mata. Saat retina terlepas, pasokan oksigen dan nutrisi ke sel-sel saraf mata menjadi terganggu. Hal ini dapat berujung pada hilangnya penglihatan, baik sebagian maupun secara total, tergantung pada seberapa besar area retina yang terlepas.

Ablasio retina tergolong kondisi darurat medis. Jika mengalami perubahan penglihatan secara tiba-tiba, segera cari pertolongan medis. Penanganan yang lambat dapat meningkatkan risiko kehilangan penglihatan permanen. Gangguan ini dialami sekitar 0,3 persen populasi, dan lebih umum terjadi pada individu lansia berusia 60 hingga 70 tahun. Pria dilaporkan lebih sering mengalaminya dibandingkan wanita.

Yang membuat kondisi ini berbahaya adalah karena sering kali tidak menimbulkan rasa sakit, sehingga banyak penderita tidak menyadarinya sejak awal. Namun, ada beberapa gejala yang dapat menjadi peringatan, seperti pandangan menjadi buram, kehilangan sebagian bidang penglihatan, munculnya kilatan cahaya secara tiba-tiba, bagian penglihatan tampak seperti tertutup tirai, area gelap dalam pandangan, serta melihat banyak floaters atau bayangan seperti benang dan titik-titik hitam yang melayang-layang di depan mata.

Ablasio retina dapat terbagi menjadi tiga jenis. Pertama adalah ablasio retina regmatogen, yaitu kondisi yang disebabkan oleh robekan atau lubang pada retina. Melalui lubang ini, cairan vitreus dapat masuk ke belakang retina dan memisahkannya dari lapisan yang menyuplai nutrisi dan oksigen. Ini adalah tipe ablasio retina yang paling umum terjadi. Kedua adalah ablasio retina traksi, yang terjadi akibat jaringan pada permukaan retina berkontraksi dan menarik retina dari tempatnya. Kondisi ini sering dikaitkan dengan komplikasi diabetes. Ketiga adalah ablasio retina eksudatif, yang terjadi akibat penumpukan cairan di bawah retina yang menyebabkan pemisahan tanpa adanya robekan. Umumnya disebabkan oleh peradangan, infeksi, tumor, atau tekanan darah tinggi.

Beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami ablasio retina antara lain usia di atas 50 tahun, riwayat ablasio retina pada salah satu mata, memiliki keluarga dengan riwayat serupa, rabun jauh yang berat (lebih dari 6 dioptri), pernah menjalani operasi mata seperti operasi katarak, mengalami cedera mata berat, atau memiliki riwayat penyakit mata lainnya.

 

Pilihan pengobatan untuk ablasio retina sangat bergantung pada kondisi pasien. Jika ditemukan adanya robekan atau lubang namun retina belum sepenuhnya terlepas, dokter dapat melakukan tindakan laser fotokoagulasi. Laser akan membentuk jaringan parut di sekitar robekan agar retina tetap menempel pada tempatnya.

Jika retina sudah terlepas, maka diperlukan tindakan pembedahan. Beberapa metode operasi yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Pneumatic retinopexy, yaitu penyuntikan gelembung gas ke dalam bola mata agar menekan retina ke posisi semula. Umumnya digunakan jika area retina yang terlepas relatif kecil.
  2. Vitrektomi, yaitu pengangkatan cairan vitreus dan jaringan yang menarik retina. Setelah itu, gelembung gas atau silikon disuntikkan untuk menahan retina. Bila digunakan silikon, maka pasien perlu menjalani prosedur tambahan untuk mengangkatnya setelah 3 hingga 6 bulan.
  3. Scleral buckling, yaitu pemasangan ikat silikon di bagian luar putih mata (sklera) agar dinding mata menekan retina ke tempatnya. Jika pelepasan retina cukup luas, silikon dapat diletakkan secara permanen melingkari mata tanpa mengganggu penglihatan.

Meski tidak semua kasus ablasio retina bisa dicegah, terdapat langkah-langkah penting yang dapat membantu menurunkan risikonya. Pertama, segera lakukan pemeriksaan ke dokter mata jika muncul floaters, kilatan cahaya, atau perubahan lapang pandang. Kedua, lakukan pemeriksaan mata secara rutin setidaknya sekali dalam setahun. Bagi penderita diabetes, pemeriksaan perlu dilakukan lebih sering. Ketiga, jaga kadar gula darah dan tekanan darah agar pembuluh darah retina tetap sehat. Keempat, gunakan pelindung mata ketika berolahraga atau melakukan aktivitas yang berisiko terhadap mata.

Menjaga kesehatan mata tidak boleh diabaikan. Gangguan penglihatan yang tampak sepele bisa saja menjadi gejala awal dari kondisi serius. Pemeriksaan rutin minimal sekali setahun sangat dianjurkan agar penglihatan tetap optimal sepanjang waktu.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Mengenal-Jenis-dan-Penyebab-Buta-Warna-Parsial-secara-Mendalam.png
16/Jun/2025

Buta warna adalah kondisi gangguan penglihatan warna yang secara umum terbagi menjadi dua jenis, yaitu buta warna parsial dan buta warna total. Pada kondisi buta warna parsial, seseorang mengalami kesulitan dalam membedakan warna-warna tertentu saja. Sementara pada kasus buta warna total atau penglihatan monokromatik, semua warna tampak seperti hitam dan putih saja, karena ketidakmampuan total dalam mengenali spektrum warna.

 

Penyebab Buta Warna Parsial

Beberapa faktor dapat menyebabkan seseorang mengalami buta warna parsial. Berikut penjelasannya:

Faktor Genetik

Buta warna parsial paling sering terjadi karena faktor keturunan. Kelainan ini muncul ketika terjadi gangguan pada fotopigmen, yaitu zat yang berperan dalam mendeteksi warna melalui sel-sel kerucut di retina. Jika seseorang memiliki riwayat keluarga dengan kelainan ini, maka risiko mengalami buta warna parsial akan lebih tinggi.

 

Cedera pada Mata atau Otak

Kerusakan pada retina akibat trauma atau cedera fisik dapat menyebabkan gangguan dalam mengenali warna. Selain itu, cedera pada otak, terutama di bagian yang mengatur persepsi warna, juga bisa memicu kondisi ini.

 

Penyakit Degeneratif dan Neurologis

Beberapa penyakit dapat memengaruhi saraf di retina atau otak dan berujung pada gangguan penglihatan warna. Penyakit-penyakit seperti glaukoma, degenerasi makula, Parkinson, Alzheimer, stroke, dan diabetes dapat menyebabkan kerusakan pada sistem penglihatan warna dan mengakibatkan buta warna parsial.

 

Efek Samping Obat-obatan

Konsumsi obat-obatan tertentu juga bisa berdampak pada kemampuan membedakan warna. Beberapa obat seperti klorpromazin, tioridazin, etambutol, dan hydroxychloroquine diketahui dapat menimbulkan gangguan penglihatan warna sebagai efek samping. Namun, dalam banyak kasus, gangguan ini bersifat sementara dan akan membaik setelah obat dihentikan.

Penuaan

Seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan visual akan mengalami penurunan secara alami. Risiko buta warna parsial meningkat pada kelompok usia lanjut, terutama jika mereka mengalami kondisi seperti katarak atau degenerasi makula yang mengganggu fungsi retina.

 

Jenis-Jenis Buta Warna Parsial

Buta warna parsial diklasifikasikan berdasarkan jenis warna yang sulit dibedakan. Dua kategori utamanya adalah buta warna merah-hijau dan biru-kuning.

 

 Buta Warna Merah-Hijau

Jenis ini merupakan yang paling umum, disebabkan oleh tidak berfungsinya atau hilangnya sel kerucut merah atau hijau pada retina. Buta warna merah-hijau terdiri dari beberapa subtipe:

 

  • Deuteranopia

Tidak adanya sel kerucut hijau menyebabkan warna merah tampak kekuningan kecokelatan dan warna hijau terlihat seperti krem.

  • Protanopia

Kehilangan sel kerucut merah membuat warna merah tampak abu-abu atau gelap, sedangkan warna jingga dan hijau terlihat kekuningan. Warna ungu dan biru juga menjadi sulit dibedakan.

  • Protanomali

Fungsi sel kerucut merah terganggu, sehingga warna seperti merah, jingga, dan kuning tampak lebih gelap dan menyerupai hijau. Kondisi ini cenderung ringan dan tidak banyak mengganggu aktivitas.

  • Deuteranomali

Adanya gangguan pada sel kerucut hijau menyebabkan warna hijau dan kuning tampak kemerahan, serta menyulitkan pembedaan warna ungu dan biru. Ini merupakan bentuk paling ringan dari buta warna merah-hijau.

 

Buta Warna Biru-Kuning

Jenis ini lebih jarang ditemukan dan disebabkan oleh kelainan pada sel kerucut biru (tritan):

  • Tritanomali

Gangguan pada fungsi fotopigmen biru membuat warna biru terlihat lebih kehijauan, dan sulit membedakan warna kuning dengan merah.

  • Tritanopia

Tidak adanya sel kerucut biru menyebabkan warna biru tampak kehijauan dan warna kuning berubah menjadi ungu atau abu-abu muda. Kasus ini sangat jarang terjadi.

 

Penanganan dan Prognosis

Buta warna parsial yang bersifat genetik bersifat permanen dan tidak dapat disembuhkan, karena belum tersedia teknologi medis untuk mengganti sel pigmen warna di retina. Meski demikian, kondisi ini umumnya tidak mengganggu kesehatan secara keseluruhan dan tidak memerlukan penanganan medis khusus selama tidak menghambat aktivitas sehari-hari. Sebagian besar penderita dapat tetap beraktivitas dengan normal, hanya dengan sedikit penyesuaian pada lingkungan atau kegiatan yang melibatkan pengenalan warna.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Kenali-dan-Atasi-Mata-Kering-Gangguan-yang-Kerap-Terabaikan-Namun-Mengganggu-Keseharian.png
14/Jun/2025

Air mata bukan sekadar ungkapan emosi. Lebih dari itu, air mata memiliki fungsi penting dalam menjaga kesehatan mata. Komposisinya terdiri dari air, garam, minyak, lendir, dan protein, yang semuanya bekerja sama untuk melumasi serta menjaga permukaan mata tetap halus dan bersih. Selain itu, air mata juga melindungi mata dari benda asing, unsur yang mengganggu, serta mikroorganisme penyebab infeksi.

Pada kondisi normal, air mata akan menyebar ke seluruh permukaan mata setiap kali seseorang berkedip. Namun, jika terjadi gangguan dalam produksi atau komposisi air mata, pelumasan mata menjadi tidak optimal. Kondisi inilah yang dikenal sebagai sindrom mata kering atau keratoconjunctivitis sicca.

Walaupun bisa menyerang siapa saja, mata kering lebih sering dialami oleh wanita dan orang lanjut usia.

 

Penyebab Gangguan Produksi dan Penguapan Air Mata

Mata kering umumnya terjadi karena penurunan produksi air mata atau meningkatnya penguapan air mata. Penurunan produksi bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti pertambahan usia, gangguan autoimun seperti sindrom Sjogren atau lupus, diabetes, gangguan hormon tiroid, kekurangan vitamin A, serta efek samping dari obat-obatan tertentu seperti antihistamin, dekongestan, antidepresan, dan obat untuk tekanan darah tinggi. Selain itu, kerusakan kelenjar air mata akibat terapi radiasi atau prosedur laser juga dapat memperburuk kondisi ini.

Di sisi lain, peningkatan penguapan air mata bisa terjadi ketika salah satu komponen air mata, terutama lapisan minyak, tidak terbentuk secara optimal. Akibatnya, air mata menguap lebih cepat dan permukaan mata menjadi kering. Faktor penyebabnya meliputi gangguan pada kelopak mata seperti entropion atau ektropion, blefaritis, penggunaan layar digital terlalu lama, paparan udara kering, polusi, dan alergi.

 

Faktor Risiko Mata Kering

Beberapa kondisi meningkatkan risiko seseorang mengalami mata kering, antara lain:

  • Usia di atas 50 tahun
  • Jenis kelamin perempuan, terutama karena pengaruh hormonal
  • Kehamilan, penggunaan kontrasepsi oral, atau menopause
  • Penyakit autoimun seperti lupus atau rheumatoid arthritis
  • Defisiensi vitamin A
  • Penggunaan lensa kontak dalam jangka panjang
  • Pernah menjalani operasi refraktif pada mata

 

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Mata kering dapat menimbulkan berbagai gejala yang bisa memengaruhi satu atau kedua mata. Beberapa gejala umum yang muncul antara lain:

  • Mata memerah
  • Sensasi terbakar atau panas
  • Terasa ada pasir atau benda asing di mata
  • Mata tampak berair akibat iritasi
  • Sensitivitas terhadap cahaya
  • Penglihatan kabur yang membaik setelah berkedip
  • Lendir di sekitar mata, terutama saat bangun tidur
  • Mata cepat lelah

Gejala tersebut biasanya memburuk ketika seseorang terlalu lama membaca, menatap layar, atau berada di lingkungan dengan udara kering.

 

Waktu yang Tepat untuk Konsultasi

Penting untuk segera mencari bantuan medis apabila gejala mata kering berlangsung lama dan tidak membaik, terutama bila disertai mata merah, nyeri, gatal, atau perubahan bentuk kelopak mata. Gangguan penglihatan juga menjadi tanda serius yang tidak boleh diabaikan.

Langkah Diagnosis

Proses diagnosis dimulai dari pemeriksaan gejala dan riwayat kesehatan pasien, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik pada mata. Beberapa tes tambahan yang bisa dilakukan untuk memastikan diagnosis antara lain:

  • Tes Schirmer: Mengukur produksi air mata dengan menempelkan kertas penyerap khusus pada kelopak mata bagian bawah.
  • Tes pewarna epitel: Menilai kerusakan kornea menggunakan zat pewarna seperti fluorescein atau lissamine green.
  • Tear break-up time: Mengetahui seberapa cepat permukaan mata mengering setelah ditetesi zat fluorescein.
  • Tes osmolaritas air mata: Mengukur keseimbangan kandungan air dan zat lain dalam air mata.

Tes darah mungkin juga diperlukan bila dokter mencurigai penyebab mata kering berkaitan dengan kondisi sistemik seperti penyakit autoimun.

 

Penanganan dan Perawatan

Penanganan mata kering bertujuan untuk mengurangi gejala serta mengatasi penyebab yang mendasarinya. Untuk kasus ringan, perawatan mandiri bisa menjadi langkah awal yang efektif.

Beberapa cara merawat mata kering di rumah meliputi:

  • Melindungi mata dari paparan angin, debu, asap, atau udara kering
  • Menggunakan kacamata pelindung saat berada di luar ruangan
  • Mengatur kelembapan udara di dalam ruangan dengan alat pelembab
  • Menghindari penggunaan riasan mata yang dapat memperparah iritasi
  • Menghindari kebiasaan merokok
  • Mengatur waktu istirahat saat bekerja di depan layar
  • Membersihkan kelopak mata dengan kain hangat secara teratur
  • Mengurangi penggunaan lensa kontak jika memungkinkan
  • Mengonsumsi makanan kaya asam lemak omega-3 seperti ikan tuna, salmon, atau sarden
  • Menambah asupan vitamin A, baik dari makanan maupun suplemen
  • Menggunakan obat tetes mata yang mengandung hypromellose untuk menggantikan fungsi air mata secara sementara

Dengan pemahaman dan penanganan yang tepat, mata kering bukanlah kondisi yang harus dikhawatirkan secara berlebihan. Namun, pengabaian terhadap gejalanya bisa berdampak pada kenyamanan hingga kualitas penglihatan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mata harus menjadi bagian penting dari perawatan diri secara keseluruhan.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Menjaga-Kesehatan-Mata-Balita-di-Era-Digital-2.png
13/Jun/2025

Di era digital saat ini, aktivitas anak-anak semakin banyak melibatkan penggunaan gadget. Mulai dari kegiatan belajar, hiburan, hingga bersosialisasi dilakukan melalui layar. Situasi ini membuat balita terpapar layar digital lebih sering dari sebelumnya, sehingga orang tua perlu memahami dampaknya terhadap kesehatan mata anak.

Paparan layar dalam waktu lama dapat menimbulkan kelelahan mata pada balita. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa berdampak pada perkembangan penglihatan mereka. Oleh karena itu, penting mengenali tanda-tanda kelelahan mata pada anak sejak dini, seperti:

  • Mata terasa nyeri, pedih, atau gatal
  • Mata tampak merah.
  • Mata sering berair.
  • Anak terlihat sering mengusap mata.
  • Keluhan sakit kepala.

 

Kelelahan mata biasanya terjadi akibat terlalu lama menatap layar, membaca dalam kondisi pencahayaan yang kurang baik, atau terkena paparan cahaya yang terlalu terang. Bila tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan mata yang lebih serius.Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk merawat kesehatan mata pada anak:

  1. Mengatur Waktu Penggunaan Gadget

Penting untuk membatasi durasi penggunaan gadget setiap harinya. Anak sebaiknya lebih banyak diajak bermain secara langsung, menggunakan alat dan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar rumah. Aktivitas fisik dan permainan kreatif tanpa layar akan membantu mata anak beristirahat.

  1. Menjaga Jarak Pandang

Saat menggunakan gadget, jarak pandang antara mata dan layar harus diperhatikan. Hindari membiarkan anak menatap layar dalam jarak dekat secara terus menerus, karena hal ini membuat mata lebih cepat lelah dan kehilangan fokus. Jarak ideal antara mata anak dan layar adalah 30 hingga 40 cm. Pastikan posisi gadget tidak sejajar langsung dengan mata agar mata tidak cepat lelah.

  1. Menerapkan Aturan 20-20-20

Untuk mencegah kelelahan mata, terapkan aturan 20-20-20. Setelah 20 menit menggunakan gadget, ajak anak untuk mengalihkan pandangan selama 20 detik ke objek yang berjarak setidaknya 6 meter. Jika berada di ruangan kecil, ajak anak keluar sejenak agar matanya bisa melihat objek-objek yang jauh dan beragam. Aktivitas ini membantu mengurangi tekanan pada mata akibat menatap layar terus-menerus. Aturan ini akan lebih efektif jika dikombinasikan dengan bermain di luar ruangan. Paparan cahaya alami dan pemandangan yang luas sangat baik bagi kesehatan mata anak.

  1. Menyesuaikan Pencahayaan

Pencahayaan gadget sebaiknya tidak terlalu terang. Layar yang terlalu terang membuat mata cepat lelah. Selain itu, penting untuk menghindari penggunaan gadget di ruangan yang redup, karena kontras cahaya yang tinggi antara layar dan lingkungan sekitar akan membuat mata tidak nyaman. Gunakan fitur perlindungan mata atau mode malam pada gadget agar cahaya layar lebih ramah bagi penglihatan anak.

  1. Memberikan Asupan Vitamin dan Mineral

Kesehatan mata anak juga dipengaruhi oleh asupan nutrisi. Vitamin A, C, dan E sangat penting untuk menjaga kesehatan mata dan mencegah kerusakan pada retina. Vitamin dan mineral ini bisa didapatkan dari buah dan sayuran seperti wortel, bayam, brokoli, stroberi, dan kentang. Konsumsi ikan seperti salmon juga sangat dianjurkan karena kaya akan omega-3 yang baik untuk mata.

  1. Melakukan Pemeriksaan Mata Secara Berkala

Pemeriksaan mata sebaiknya dilakukan secara rutin, minimal dua tahun sekali. Hal ini penting untuk memastikan perkembangan mata anak berjalan dengan normal dan tidak ada gangguan penglihatan yang terlewatkan.

Merawat kesehatan mata balita sangat penting, apalagi di zaman sekarang di mana anak-anak sudah terbiasa dengan layar sejak usia dini. Peran orang tua sangat krusial dalam membimbing penggunaan perangkat digital secara bijak, sekaligus memastikan anak tetap aktif bergerak, mengonsumsi nutrisi yang cukup, dan memberi waktu istirahat yang memadai bagi mata mereka. Kondisi mata yang sehat akan mendukung proses tumbuh kembang anak secara optimal.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Waspadai-Beragam-Gangguan-Penglihatan-yang-Sering-Dialami-Lansia.jpg
12/Jun/2025

Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia mengalami berbagai perubahan, termasuk penurunan fungsi organ-organ vital. Salah satu dampak nyata dari proses penuaan adalah terganggunya fungsi penglihatan. Gangguan penglihatan pada lanjut usia menjadi masalah kesehatan yang umum, dan dampaknya bisa sangat memengaruhi kualitas hidup sehari-hari.

 

Lansia yang mengalami gangguan penglihatan kerap kesulitan menjalani aktivitas rutin. Bahkan, dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat meningkatkan risiko jatuh hingga menyebabkan cedera serius. Tak jarang pula, keterbatasan dalam melihat memicu timbulnya perasaan sedih mendalam hingga depresi. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengenali dan memahami berbagai jenis gangguan penglihatan yang kerap menyerang di usia senja.

 

Jenis-Jenis Gangguan Penglihatan pada Lansia

  1. Katarak

Katarak terjadi saat lensa mata menjadi keruh. Kondisi ini membuat penderitanya melihat dunia seolah tertutup asap atau kabut tipis. Warna tampak lebih pucat, muncul lingkaran cahaya saat menatap sumber cahaya, dan kesulitan melihat dalam pencahayaan redup. Selain itu, cahaya terasa menyilaukan dan penglihatan ganda juga bisa terjadi. Katarak dapat sangat mengganggu, terutama ketika melakukan aktivitas yang membutuhkan fokus visual.

  1. Presbiopi

Presbiopi adalah penurunan kemampuan melihat objek jarak dekat, yang merupakan kondisi alami seiring bertambahnya usia. Penyebabnya adalah menurunnya elastisitas lensa dan melemahnya otot-otot bola mata. Gejala umum dari presbiopi meliputi kesulitan membaca dalam jarak dekat, mata cepat lelah atau pegal, serta sakit kepala setelah melakukan aktivitas visual dalam waktu lama.

  1. Mata Kering

Kondisi ini muncul ketika produksi air mata tidak cukup untuk menjaga kelembapan mata. Lansia dengan mata kering bisa merasakan mata perih, merah, dan terasa seperti terbakar. Terkadang, mata malah berair sebagai reaksi terhadap iritasi. Sensasi seperti ada pasir di dalam mata dan meningkatnya sensitivitas terhadap cahaya juga umum dirasakan.

  1. Radang dan Infeksi

Penuaan menyebabkan sistem kekebalan tubuh melemah dan memengaruhi fungsi saluran pembuangan air mata serta jaringan mata. Akibatnya, lansia menjadi lebih rentan terhadap infeksi, seperti konjungtivitis, keratitis, dan endoftalmitis. Infeksi ini sering menimbulkan rasa nyeri, mata merah, sensitivitas terhadap cahaya, dan gangguan penglihatan yang signifikan.

  1. Glaukoma

Glaukoma merupakan kondisi serius yang terjadi akibat sumbatan pada aliran cairan dalam bola mata. Akumulasi cairan ini meningkatkan tekanan bola mata yang kemudian merusak serabut saraf penglihatan. Salah satu gejala khas glaukoma adalah penyempitan lapang pandang, seperti melihat dari balik lubang kunci. Sayangnya, pada tahap awal, glaukoma sering kali tidak menunjukkan gejala yang nyata sehingga sulit terdeteksi tanpa pemeriksaan mata rutin.

  1. Retinopati

Retinopati adalah kerusakan pada retina yang sering kali menyerang lansia dengan riwayat hipertensi atau diabetes yang tidak terkontrol. Kondisi ini ditandai oleh penglihatan kabur, munculnya bayangan melayang (floaters), area hitam dalam penglihatan, kesulitan membedakan warna, serta gangguan penglihatan di malam hari. Deteksi dini menjadi sangat penting, terutama bagi penderita diabetes. Pemeriksaan mata menyeluruh sebaiknya dilakukan setiap dua tahun sekali, atau setahun sekali jika sudah ada gejala awal retinopati.

 

Upaya Pencegahan dan Penanganan

Menjaga kesehatan mata di usia senja bukanlah hal yang mustahil. Pemeriksaan mata secara berkala sangat dianjurkan, terutama bagi lansia dengan kondisi kesehatan tertentu. Selain itu, menerapkan pola hidup sehat juga menjadi kunci penting dalam menjaga fungsi penglihatan tetap optimal. Konsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, menjaga kebersihan diri, serta tidur yang cukup dapat membantu memperlambat atau mencegah munculnya gangguan penglihatan.

Bila terdapat gejala atau keluhan yang mengarah pada masalah penglihatan, jangan tunda untuk segera memeriksakan diri. Penanganan yang cepat dan tepat akan sangat membantu mempertahankan kualitas hidup dan kemandirian di usia lanjut.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Merawat-Mata-Merawat-Kehidupan-Panduan-Lengkap-Menjaga-Kesehatan-Penglihatan-Anda.jpg
11/Jun/2025

Mata merupakan salah satu anugerah paling berharga yang diberikan kepada manusia. Peran vitalnya dalam kehidupan sehari-hari tidak tergantikan, karena sebagian besar informasi yang kita terima berasal dari indera penglihatan. Dengan mata yang sehat, segala aktivitas mulai dari membaca buku, menonton film, mengendarai kendaraan, hingga menyelesaikan pekerjaan  dapat dilakukan dengan nyaman dan lancar. Lebih dari itu, mata yang sehat memungkinkan seseorang menjalani hidup secara mandiri dan produktif.

Kesehatan mata bukan hanya tentang kenyamanan, melainkan juga berkaitan langsung dengan kualitas hidup. Dalam era modern seperti sekarang, ketika hampir setiap pekerjaan bergantung pada kemampuan melihat baik di sektor formal maupun informal maka menjaga kesehatan mata menjadi semakin penting. Risiko gangguan penglihatan dapat dialami siapa saja, terutama di lingkungan kerja yang tidak selalu ideal bagi mata.

Pentingnya deteksi dini tidak bisa disepelekan. Pemeriksaan mata secara berkala di fasilitas kesehatan dapat membantu menemukan gangguan sejak awal. Bahkan gangguan yang tampak ringan sekalipun perlu diperhatikan. Selain itu, penggunaan alat pelindung diri saat bekerja di lingkungan berisiko tinggi adalah langkah pencegahan yang sangat bijak.

 

Apa Saja Penyebab Gangguan Penglihatan?

Gangguan penglihatan bisa disebabkan oleh berbagai kondisi, yang sebagian besar sebenarnya dapat dideteksi dan diatasi jika ditangani sejak dini. Berikut adalah beberapa penyebab yang umum terjadi:

  • Kelainan refraksi seperti rabun jauh (miopi), rabun dekat (hipermetropi), astigmatisme, dan presbiopi
  • Katarak, yaitu kekeruhan pada lensa mata yang mengganggu penglihatan
  • Glaukoma, kondisi meningkatnya tekanan dalam bola mata yang bisa merusak saraf optik
  • Degenerasi makula yang biasanya terjadi karena proses penuaan
  • Retinopati diabetik, yaitu kerusakan pembuluh darah di retina akibat diabetes
  • Penyakit autoimun seperti lupus atau sindrom Sjögren
  • Infeksi pada mata seperti konjungtivitis atau infeksi kornea
  • Cedera fisik pada mata akibat kecelakaan atau benturan
  • Faktor genetik atau keturunan
  • Paparan lingkungan seperti asap, debu, atau cahaya ekstrem

 

Tanda-Tanda Umum Gangguan Penglihatan

Gangguan pada mata bisa dikenali lewat berbagai gejala yang berbeda, tergantung pada penyebabnya. Berikut beberapa tanda umum yang patut diwaspadai:

  • Penglihatan buram atau kabur, sehingga objek atau tulisan tampak tidak jelas
  • Nyeri atau rasa sakit di area mata
  • Kemerahan pada mata yang bisa menunjukkan iritasi atau peradangan
  • Sensasi gatal, perih, atau ketidaknyamanan
  • Mata kering yang terasa seperti ada pasir di dalamnya
  • Kehilangan penglihatan di sisi luar atau periferal
  • Penglihatan ganda, di mana satu objek terlihat menjadi dua
  • Penurunan penglihatan yang terjadi secara mendadak

Jika mengalami salah satu atau beberapa gejala di atas, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan mata untuk mengetahui penyebab pastinya dan mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Mata

Sering kali, rutinitas harian yang tampak sepele justru menjadi penyebab utama menurunnya kemampuan melihat. Mulai dari kebiasaan menatap layar terlalu lama hingga membaca dalam pencahayaan yang kurang. Agar mata tetap sehat dan tajam dalam jangka panjang, berikut beberapa langkah perawatan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Lindungi dari paparan sinar matahari

Gunakan kacamata hitam yang mampu menyaring sinar ultraviolet (UV) saat berada di luar ruangan pada siang hari.

  1. Bijak dalam menggunakan layar digital

Terapkan prinsip 20-20-20 saat bekerja di depan komputer: setiap 20 menit, alihkan pandangan ke objek sejauh 6 meter selama 20 detik.

  1. Berikan waktu istirahat pada mata

Hindari menatap layar terus-menerus. Berhentilah sejenak untuk merelaksasi mata secara berkala.

  1. Konsumsi makanan bergizi

Asupan yang kaya vitamin A, C, dan E, zinc, serta omega-3 sangat baik untuk kesehatan mata. Wortel, bayam, ikan berlemak seperti salmon, serta kacang-kacangan adalah pilihan yang disarankan.

  1. Cukup tidur setiap malam

Tidur yang berkualitas membantu mata beristirahat dan menghindari ketegangan.

  1. Lindungi dari cedera

Gunakan kacamata pelindung saat bekerja dengan alat tajam atau saat berolahraga yang berisiko mengenai mata.

  1. Jaga kelembaban mata

Gunakan pelembap ruangan atau tetes mata jika berada di lingkungan yang terlalu kering untuk menghindari mata kering.

  1. Gunakan kacamata saat diperlukan

Jika merasa lelah saat menggunakan lensa kontak, sebaiknya beralih ke kacamata untuk mengurangi iritasi.

Menjaga kesehatan mata adalah langkah bijak dan investasi jangka panjang untuk menjalani kehidupan dengan kualitas yang optimal. Dengan memahami penyebab, mengenali gejala sejak awal, dan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang sederhana, kita dapat memastikan bahwa penglihatan tetap tajam dan sehat seiring waktu. Apabila ada keluhan atau gangguan yang terasa tidak wajar pada mata, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke tenaga medis profesional. Karena ketika mata terawat, kehidupan pun lebih cerah dan jelas.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia


Mengenal-Kalazion-Benjolan-di-Kelopak-Mata-yang-Sering-Disangka-Jerawat.jpg
10/Jun/2025

Kalazion merupakan kondisi berupa benjolan atau pembengkakan yang umumnya muncul di kelopak mata bagian atas. Meskipun terlihat seperti jerawat atau kista biasa, benjolan ini terbentuk akibat penumpukan minyak dari kelenjar meibom yang mengalami penyumbatan. Proses pembentukannya berlangsung secara perlahan dan seringkali disertai rasa nyeri yang hanya muncul sementara di awal kemunculannya.

Kondisi ini paling banyak dialami oleh orang dewasa berusia antara 30 hingga 50 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan semua kelompok usia dapat mengalaminya, meskipun kasus pada anak-anak tergolong langka.

 

Mengapa Kalazion Bisa Terjadi?

Akar dari munculnya kalazion adalah peradangan pada kelenjar meibom di kelopak mata. Kelenjar ini sebenarnya berfungsi penting, yakni memproduksi pelumas untuk menjaga kelembapan dan perlindungan mata. Ketika saluran kelenjar tersumbat akibat peradangan, minyak akan mengental dan akhirnya membentuk benjolan.

 

Siapa yang Lebih Rentan Terkena Kalazion?

Walau bisa terjadi pada siapa saja, beberapa kondisi tertentu bisa meningkatkan risikonya, seperti:

  • Peradangan kronis pada kelopak mata (blepharitis)
  • Gangguan kulit seperti dermatitis seboroik dan rosacea
  • Penyakit metabolik kronis seperti diabetes
  • Riwayat pernah mengalami kalazion sebelumnya

 

Fakta Menarik Tentang Kalazion

  1. Kalazion tidak mengenal usia, meski lebih sering muncul pada orang dewasa.
  2. Banyak orang mengira kalazion adalah jerawat biasa di kelopak mata.
  3. Benjolan kecil bisa sembuh dengan sendirinya tanpa bantuan medis.
  4. Perawatan kebersihan kelopak mata berperan penting dalam mencegah kemunculannya.

 

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Kalazion memiliki gejala khas berupa benjolan di kelopak mata bagian atas. Di awal, benjolan bisa terasa nyeri, tapi keluhan ini cenderung hilang seiring waktu. Gejala lain yang dapat menyertai antara lain:

  • Pembengkakan ringan pada kelopak mata
  • Sensasi tidak nyaman seperti ada yang mengganjal
  • Kulit kelopak tampak kemerahan
  • Mata berair dan mudah teriritasi
  • Penglihatan bisa sedikit buram jika benjolan menekan bola mata

 

Bagaimana Kalazion Didiagnosis?

Diagnosis kalazion biasanya dilakukan melalui pemeriksaan langsung oleh dokter. Umumnya tidak diperlukan tes lanjutan yang rumit. Prosedur pemeriksaan bisa mencakup:

  • Menanyakan riwayat kesehatan dan penyakit mata sebelumnya
  • Pemeriksaan fisik mata, termasuk kondisi kelopak, bulu mata, dan kulit sekitarnya
  • Pengamatan detail menggunakan pembesaran dan cahaya untuk melihat dasar bulu mata serta saluran minyak

 

Penanganan Awal dan Perawatan Mandiri

Langkah pertama yang sering disarankan untuk mengatasi kalazion adalah dengan melakukan perawatan rumahan yang sederhana. Beberapa tindakan yang bisa dilakukan meliputi:

  • Mengompres kelopak mata menggunakan handuk hangat selama 10 menit, 3-4 kali sehari. Ini membantu melunakkan minyak yang menyumbat saluran kelenjar.
  • Melakukan pijatan lembut pada kelopak mata setelah kompres.
  • Membersihkan area kelopak dengan sampo bayi yang aman untuk mata.
  • Menjaga tangan tetap bersih dan menghindari menyentuh atau memencet benjolan.

 

Pengobatan Medis Jika Tidak Kunjung Sembuh

Bila kalazion tidak menunjukkan tanda-tanda membaik dalam satu bulan, penanganan medis mungkin diperlukan. Metode yang umum dilakukan adalah:

  • Penggunaan obat tetes atau salep antibiotik jika disertai infeksi
  • Tetes mata dengan kandungan steroid untuk mengurangi peradangan
  • Suntikan kortikosteroid langsung ke dalam benjolan
  • Tindakan bedah minor untuk mengangkat benjolan secara permanen jika perawatan lain tidak efektif

 

Kemungkinan Komplikasi

Meskipun tidak berbahaya, kalazion yang tidak dirawat dengan baik bisa menimbulkan komplikasi seperti:

  • Infeksi sekunder atau abses
  • Peradangan kronis yang berulang
  • Gangguan penglihatan akibat tekanan pada bola mata
  • Terbentuknya jaringan parut
  • Muncul kembali di tempat yang sama atau berbeda
  • Blepharitis berulang

 

Cara Efektif Mencegah Kalazion

Pencegahan kalazion sangat bergantung pada kebersihan dan kebiasaan sehari-hari. Beberapa langkah pencegahan yang disarankan antara lain:

  • Mencuci tangan secara rutin, terutama sebelum menyentuh area wajah atau mata
  • Merawat lensa kontak dengan benar, termasuk mencuci tangan sebelum memakainya dan membersihkannya dengan larutan khusus
  • Membersihkan wajah setiap hari, terutama setelah memakai riasan
  • Mengganti produk make-up secara berkala dan tidak menggunakan kosmetik milik orang lain
  • Membersihkan alat make-up setelah digunakan dan menghapus riasan sebelum tidur hingga bersih sempurna

 

Kapan Sebaiknya Menghubungi Dokter?

Jika kalazion tidak menunjukkan perbaikan setelah beberapa minggu perawatan rumahan, penting untuk segera menemui dokter spesialis mata. Terutama jika benjolan semakin membesar, menyebabkan nyeri berkepanjangan, atau mengganggu penglihatan. Penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi lebih lanjut dan memastikan kondisi bukan gejala dari gangguan lain yang lebih serius. Kalazion mungkin tampak sepele, namun bisa menimbulkan ketidaknyamanan yang cukup signifikan. Mengetahui gejala awal, memahami penyebabnya, dan melakukan perawatan mandiri yang tepat bisa membantu menghindari intervensi medis. Namun, bila kondisi memburuk atau sering kambuh, jangan ragu untuk memeriksakannya lebih lanjut demi mencegah komplikasi jangka panjang. Kesehatan mata tak hanya bergantung pada penglihatan, tapi juga pada perhatian terhadap perubahan kecil yang mungkin muncul pada area sekitarnya.

 

Jika Anda merasakan gangguan mata yang berkelanjutan, segera kunjungi Surabaya Eye Clinic untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat bagi mata Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di:

(031) 8495502
(031) 8433050
082143717979 (WA only)

Atau Anda bisa kunjungi Surabaya Eye Clinic di Jalan Raya Jemursari No. 108, Surabaya, Indonesia




Our Vision


No person with a blinding condition, eye disease, or visual impairment should be without hope, understanding, and treatment.


Contact Us


Hubungi Kami

(031) 8495502, (031) 8433050
082143717979 ( WA only)


Kunjungi Kami

Jalan Raya Jemursari No. 108,
Surabaya, Indonesia


Email Kami

admin@surabayaeyeclinic.id



Lokasi Kami



Media Sosial


Instagram


facebook


Twitter


Youtube




CopyRight, 2024 | Managed by Markbro | PT Klinik Mata Surabaya




WeCreativez WhatsApp Support
Tim CS Kami Siap Membantu Anda. Silahkan Tanya Kami!