Dapatkan Informasi Mengenai kesehatan Mata dan Informasi Lainnya

Info Untuk Anda

Semoga Informasi ini bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh seputar edukasi tentang kesehatan mata kita.

Category filter:Allkesehatan mataPengumumanProduct KnowledgeUncategorizedVideo Edukasi
No more posts
Desain-tanpa-judul-98.png
24/Jan/2023

penyakit retina adalah sakit mata yang menyerang retina dan menyebabkan penglihatan penderitanya tergangguPenyakit retina menimbulkan gangguan penglihatan, seperti pandangan kabur, pandangan bergaris, bahkan hingga kehilangan penglihatan.
Retina terletak di bagian belakang mata. Sebagai bagian dari sistem saraf pusat, retina terhubung dengan otak dan berperan menangkap cahaya dari luar yang kemudian akan diterjemahkan oleh otak. Hal inilah yang membuat seseorang dapat melihat.
Penyakit retina dapat diobati, yang jenis pengobatannya tergantung pada penyebabnya. Sebaliknya, jika tidak diobati, penyakit retina bisa menimbulkan gangguan penglihatan parah bahkan kebutaan.
Penyakit retina dapat diobati, yang jenis pengobatannya tergantung pada penyebabnya. Sebaliknya, jika tidak diobati, penyakit retina bisa menimbulkan gangguan penglihatan parah bahkan kebutaan.

Jenis dan Penyebab Penyakit Retina

Penyebab penyakit retina tergantung pada jenisnya. Beberapa jenis penyakit retina yang paling umum terjadi adalah:

1. Ablasi retina

Ablasi retina adalah penyakit akibat robekan pada retina sehingga retina terlepas dari posisi normalnya. Ablasi retina dapat terjadi akibat perubahan kondisi cairan pada bola mata atau munculnya jaringan parut di area retina, khususnya pada penderita diabetes.

2. Retinoblastoma

Retinoblastoma adalah penyakit retina yang disebabkan oleh tumbuhnya jaringan kanker pada retina. Jaringan kanker yang terbentuk dapat menyebar ke jaringan lain, seperti otak dan tulang belakang. Retinoblastoma merupakan penyakit retina yang cukup langka dan biasanya terjadi pada anak-anak.

3. Retinitis pigmentosa

Retinitis pigmentosa adalah penyakit genetik yang memengaruhi kemampuan retina dalam merespons cahaya. Penyakit ini menyebabkan penurunan kemampuan melihat seiring waktu, tetapi tidak akan buta sepenuhnya. Penyakit ini merupakan penyakit genetik sehingga dapat diwariskan dari orang tua ke anaknya.

4. Degenerasi makula

Degenerasi makula adalah penyakit retina yang disebabkan oleh kerusakan pada pusat retina. Penyakit ini dapat membuat pandangan menjadi kabur atau ada bagian yang tidak terjangkau penglihatan. Degenerasi makula dipicu oleh pertambahan usia dan berisiko dialami oleh orang yang memiliki keluarga dengan riwayat degenerasi makula.

5. Retinopati diabetik

Retinopati diabetik adalah penyakit retina yang muncul akibat komplikasi dari diabetes. Retinopati diabetik menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah retina sehingga membuat retina bengkak atau terdapat kapiler darah tidak nomal yang pecah. Kondisi ini menyebabkan padangan menjadi kabur atau terganggu.

6. Retinopathy of Prematurity (ROP)

Retinopathy of prematurity (ROP) adalah penyakit retina gangguan tumbuh kembang pada bayi yang terlahir prematur. ROP terjadi ketika perkembangan pembuluh darah di bola mata bayi tidak sempurna. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya pembuluh darah abnormal di bola matanya yang akan menyebabkan perdarahan pada retina.

7. Amaurosis fugax

Amaurosis fugax adalah hilangnya penglihatan pada salah satu atau kedua mata yang bersifat sementara. Kondisi ini disebabkan oleh sumbatan pada pembuluh darah retina, serta dapat menjadi tanda awal stroke.

Faktor risiko penyakit retina

Risiko terkena penyakit-penyakit retina di atas dapat meningkat karena sejumlah faktor, antara lain:
  • Berusia 40 tahun ke atas
  • Mengalami cedera pada mata
  • Memiliki keluarga dengan riwayat penyakit retina
  • Menderita penyakit kronis, seperti diabetes atau hipertensi

Gejala Penyakit Retina

Gejala penyakit retina yang muncul pada penderitanya bermacam-macam, tergantung penyebabnya. Namun, gejala yang umumnya muncul pada penderita penyakit retina adalah gangguan penglihatan berupa:
  • Pandangan kabur
  • Luas pandangan menjadi terbatas
  • Floaters
  • Kilatan-kilatan cahaya atau photopsia
  • Sensitif terhadap cahaya
  • Gangguan pada kemampuan membedakan warna
Gejala penyakit retina dapat berkembang secara perlahan seiring bertambahnya usia atau berkembang secara cepat. Gejala tersebut dapat terjadi pada salah satu atau kedua belah mata.

Diagnosis Penyakit Retina

Untuk mendiagnosis penyakit retina, dokter akan terlebih dahulu menanyakan gejala yang dialami, serta riwayat kesehatan pasien dan keluarganya.
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan mata secara menyeluruh, termasuk memeriksa ketajaman penglihatan dan gerakan bola mata. Dokter kemudian akan melakukan pemeriksaan oftalmoskopi, yaitu pemeriksaan retina dengan alat khusus.
Untuk memastikan jenis dan penyebab penyakit retina yang diderita, pasien akan diminta menjalani pemeriksaan penunjang, seperti:
  • USG mata, CT scandan MRI
    Ketiga pemeriksaan ini dapat memberi gambaran retina yang lebih jelas secara visual. Tujuannya untuk membantu menetapkan diagnosis dan menentukan pengobatan, termasuk memeriksa kemungkinan adanya cedera atau tumor pada mata.
  • Optical coherence tomography (OCT)
    Pemeriksaan ini dapat menampillkan gambaran retina yang digunakan untuk mendeteksi kelainan retina pada penyakit degenerasi makula.
  • Tes Amsler grid
    Tes ini dilakukan untuk menguji ketajaman penglihatan di tengah dengan menggunakan alat yang mengandung gambar bergaris untuk dilihat pasien. Pasien kemudian akan diminta mendeskripsikan kondisi garis yang dilihat.
  • Angiografi mata
    Angiografi mata dilakukan untuk melihat pembuluh darah retina. Pemeriksaan ini membantu dokter mengetahui bila ada sumbatan, kebocoran, atau kelainan pada pembuluh darah di mata.
  • Tes genetik
    Tes genetik bertujuan untuk mendiagnosis penyakit retina yang timbul akibat faktor keturunan. Dokter akan mengambil sampel DNA pasien dari jaringan tubuh tertentu, kemudian memeriksanya di laboratorium untuk melihat apakah penyakit retina pada pasien disebabkan oleh faktor genetik atau bukan.

Pengobatan Penyakit Retina

Pengobatan penyakit retina tergantung pada jenis dan penyebabnya. Pengobatan bertujuan untuk memperbaiki penglihatan pasien dan mencegah penyakit yang diderita bertambah buruk.
Pengobatan untuk penyakit retina umumnya dilakukan dengan tindakan khusus yang dilakukan oleh dokter spesialis mata. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan adalah:

1. Penyuntikan obat pada mata

Penyuntikan terutama ditujukan pada vitreus atau gel bening pada mata. Tindakan ini digunakan untuk mengatasi degenerasi makula, pembuluh darah mata yang pecah, atau retinopati diabetik.

2. Vitrektomi

Vitrektomi adalah operasi untuk mengganti gel pada bagian mata yang disebut vitreus dengan menyuntikkan gas, udara, atau cairan ke dalamnya. Tindakan ini dilakukan untuk mengobati ablasi retina atau infeksi pada mata.

3. Cryopexy

Cryopexy adalah pembekuan dinding luar mata untuk mengobati retina yang robek. Tujuannya adalah untuk memperlambat kerusakan akibat luka dan mengembalikan retina agar tetap berada di dinding bola mata.

4. Scatter laser photocoagulation (SLP)

SLP merupakan prosedur untuk menyusutkan pembuluh darah baru yang tidak normal atau pendarahan yang membahayakan mata. Tindakan ini biasanya digunakan untuk mengobati retinopati diabetik.

5. Pneumatic retinopexy

Pneumatic retinopexy adalah penyuntikan udara atau gas pada mata untuk mengatasi beberapa jenis pemisahan retina. Tindakan ini dapat dikombinasikan dengan cyropexy atau laser photocoagulation.

6. Scleral buckling

Scleral buckling adalah metode perbaikan permukaan mata guna mengatasi ablasi retina. Tindakan ini diakukan dengan menambahkan silikon di luar bagian putih mata (sklera).

7. Implantasi prostesis retina

Metode pengobatan ini dilakukan dengan memasang retina prostesis (tiruan) melalui operasi. Pemasangan retina tiruan dilakukan pada pasien yang sulit melihat atau menderita kebutaan akibat penyakit retina, terutama akibat retinitis pigmentosa.

8. Terapi laser

Terapi laser dilakukan untuk memperbaiki robekan atau lubang pada retina. Selain memperbaiki robekan retina, pemanasan dengan sinar laser pada bagian yang robek tersebut juga akan menyebabkan terbentuknya jaringan parut yang membuat retina menempel dengan jaringan penyangganya.

Komplikasi Penyakit Retina

Penyakit retina yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi berupa gangguan penglihatan yang bersifat permanen dan kebutaaan. Oleh karena itu, penting untuk memeriksakan gangguan pada mata sedini mungkin.

Pencegahan Penyakit Retina

Pencegahan penyakit retina adalah dengan melakukan pemeriksaan mata secara rutin dan berkala, sesuai dengan usia.
Anak-anak perlu menjalani pemeriksaan mata paling tidak satu kali saat masih balita, usia sekolah, dan remaja, untuk memeriksa perkembangan penglihatannya. Selain itu, pemeriksaan mata juga dianjurkan setiap 1–2 tahun sekali sejak usia 40 tahun.
Seseorang yang memiliki faktor risiko menderita penyakit mata juga dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan mata secara berkala, meskipun belum berusia 40 tahun. Faktor risiko yang dimaksud adalah menderita penyakit diabetes dan hipertensi, atau memiliki keluarga dengan riwayat penyakit mata.

Desain-tanpa-judul-78.png
28/Nov/2022

Mata kering merupakan keluhan yang cukup sering dijumpai, apalagi di era teknologi seperti sekarang ini.

Meski bukan hal yang berbahaya hingga mengancam fungsi penglihatan, mata kering tetap harus harus ditangani dengan baik.

Faktanya, mata kering yang dibiarkan terjadi berkelanjutan bisa menyebabkan indra penglihatan Anda terasa gatal, mengganjal, dan mudah lelah.

Apabila kondisi tersebut tidak segera diobati juga, kornea Anda berisiko terluka. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala berupa mata merah, terasa terbakar, buram, nyeri, dan pandangan silau.

cara mengobati mata kering sekaligus mencegahnya agar tak terjadi berulang:

1.KOMPRES HANGAT PADA KELOPAK MATA

Kompres hangat dapat dilakukan sekitar 4 kali dalam sehari dengan durasi 3 menit untuk membantu mengatasi mata kering.

Anda dapat menggunakan kapas kosmetik yang direndam dalam air hangat, kemudian diperas. Dengan posisi mata tertutup, tempelkan kapas yang masih terasa hangat ke bagian yang mengalami keluhan.

2.LEBIH SERING BERKEDIP

Ketika sedang terlalu fokus melakukan sesuatu, beberapa orang terkadang lupa untuk berkedip. Padahal, hal ini bisa meningkatkan risiko mata kering.

Agar tidak mengalaminya, pastikan untuk mengistirahatkan mata sejenak. Upayakan pula berkedip secara sadar guna membantu menjaga kelembapan permukaan bola mata.

3.AIR MATA BUATAN

Mengalami mata kering dan terasa mengganjal?  Anda boleh menggunakan air mata buatan (artificial tears) yang dapat dibeli bebas di apotek.

Pastikan untuk mematuhi aturan pakai agar manfaatnya lebih terasa. Secara umum, artificial tears dapat digunakan sekitar 4 kali dalam seharI.

4.SERING MENGINSTIRAHATKAN MATA

Mata bisa kelelahan apabila terlalu sering digunakan. Kondisi ini bisa memicu mata kering.

Agar tidak mengalami keluhan tersebut, Anda mesti mengistirahatkan mata setiap 20 menit sekali. Caranya bisa dengan memejamkan mata sejenak, atau melihat benda-benda yang jaraknya jauh.

5.SERING MELIHAT JAUH

Terlalu sering menatap dalam jarak dekat bisa membuat mata lelah dan kering.

Guna mengatasi kondisi tersebut, Anda perlu mengalihkan pandangan untuk melihat objek berjarak 6 meter atau lebih selama 20 detik.

6.KONSUMSI MAKANAN MENGANDUNG OMEGA-3

Tingkatkan konsumsi makanan yang tinggi omega 3, seperti seafood, kacang-kacangan, sayur, produk susu, dan telur.

Tidak hanya baik untuk kesehatan mata, mengonsumsi makanan-makanan tersebut dalam jumlah seimbang sangat baik untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan.

7.TERAPKAN ATURAN  3D

Bagi Anda yang harus menggunakan komputer atau laptop sepanjang hari, sangat penting untuk menerapkan kebiasaan 3D (distancedirection, dan duration).

Distance berarti Anda mesti memperhatikan jarak mata ke gawai agar tidak terlalu dekat atau terlalu jauh.

Direction berarti Anda mesti memperhatikan arah pandangan mata dengan gawai yang digunakan. Usahakan agar arahnya lurus dengan pandangan mata. Hindari penggunaan gawai dengan posisi berbaring.

Duration berarti Anda mesti memperhatikan waktu yang dihabiskan saat menggunakan gawai, yaitu tidak lebih dari 2 jam. Beristirahatlah sejenak dengan melihat objek berjarak jauh sebelum kembali menggunakan gawai.

8.HINDARI LINGKUNGAN BERASAP

Tidak hanya karena asap rokok, mata kering juga bisa terjadi akibat paparan polusi udara.

Oleh karena itu, agar mata tetap sehat, Anda mesti berupaya keluar dari area yang dipenuhi asap.

9.HINDARI PAPASAN AC SECARA LANGSUNG

Perhatikan posisi meja kerja Anda. Jika posisi meja kerja menghadap langsung ke arah AC, bisa jadi hal ini yang memicu keluhan mata kering.

Bila Anda mengalaminya, ubahlah posisi duduk Anda agar tidak langsung terpapar AC.

10.JAGA KELEMBAPAN RUANGAN

Berada di ruangan dengan kelembapan udara yang rendah bisa meningkatkan risiko mata kering. Apalagi, jika ruangan tersebut terpapar cahaya matahari secara langsung.

Oleh karena itu, pilihlah lingkungan bekerja dengan kelembapan udara yang cukup baik agar mata kering dapat dihindari.


Desain-tanpa-judul-71.png
24/Nov/2022

Buta warna adalah kondisi mata yang tidak mampu mata melihat warna secara normalPenderita penyakit ini sulit membedakan warna tertentu (buta warna parsial) atau bahkan seluruh warna (buta warna total).

Buta warna adalah penyakit yang umumnya didapat sejak lahir. Kondisi ini lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita.

Buta warna merupakan penyakit seumur hidup. Agar penderita dapat beradaptasi dengan kondisi ini, dokter akan memberikan penanganan sesuai dengan jenis buta warna yang diderita.

Penyebab Buta Warna

Mata memiliki sel-sel saraf khusus yang bereaksi terhadap warna dan cahaya. Selain mendeteksi terang dan gelap, sel ini juga berfungsi untuk mendeteksi tiga pigmen warna, yakni merah, hijau, dan biru. Selanjutnya, otak akan menentukan persepsi warna dari apa yang ditangkap oleh sel dalam mata tersebut.

Pada penderita buta warna, sel yang mendeteksi pigmen warna rusak atau tidak berfungsi. Akibatnya, mata tidak dapat mendeteksi warna-warna tertentu atau bahkan seluruh warna.

Penyebab buta warna terbagi menjadi tiga, yakni sebagai berikut:

1. Diturunkan

Pada sebagian besar kasus, buta warna diturunkan dari orang tua ke anak. Buta warna turunan umumnya memengaruhi kedua mata. Tingkat keparahan buta warna pada penyakit turunan bisa ringan, sedang, hingga berat, dengan derajat keparahan yang tidak akan berubah hingga akhir hidup penderitanya.

2. Didapatkan

Selain keturunan, faktor-faktor berikut dapat menyebabkan seseorang terkena buta warna di kemudian hari:

  • Penyakit tertentu yang bisa menurunkan kemampuan melihat warna, seperti anemia sel sabit, diabetes, degenerasi makula, penyakit Alzheimer,

    multiple sclerosis, glaukoma, penyakit Parkinson, leukemia, atau kecanduan alkohol

  • Efek samping obat, seperti digoxin, ethambutol, phenytoin, sildenafil, dan hydroxychloroquine

  • Paparan zat kimia, misalnya

    carbon disulfide yang digunakan dalam industri rayon, atau styrene yang dimanfaatkan dalam industri plastik dan karet

  • Cedera mata, misalnya akibat kecelakaan atau benturan

3. Penuaan

Usia juga dapat menjadi penyebab seseorang menderita buta warna. Seiring usia bertambah, kemampuan mata dalam menangkap cahaya dan warna akan menurun sehingga dapat menimbulkan kesulitan dalam membedakan warna. Kondisi ini akan lebih buruk pada seseorang yang menderita penyakit katarak.

Gejala dan Jenis Buta Warna

Buta warna ditandai dengan kesulitan membedakan warna tertentu (buta warna parsial), atau bahkan seluruh warna (buta warna total). Tanda-tanda seseorang menderita buta warna antara lain:

  • Sulit mengikuti pelajaran di sekolah yang berhubungan dengan warna

  • Sulit membedakan warna lampu lalu lintas

  • Sulit membedakan warna obat

  • Sulit membedakan warna buah yang mentah dengan yang sudah matang, atau menentukan tingkat kematangan makanan yang sedang dimasak

Gejala buta warna pada tiap pasien dapat berbeda, tergantung sel pigmen yang rusak atau tidak berfungsi. Gejala ini terbagi menjadi tiga tipe, yakni merah-hijau, biru-kuning, dan total. Berikut ini adalah penjelasannya:

Buta warna merah-hijau

Beberapa gejala yang dapat dialami oleh penderita buta warna merah-hijau, yaitu:

  • Kuning dan hijau terlihat kemerahan

  • Oranye, merah, dan kuning terlihat seperti kehijauan

  • Merah terlihat seperti abu-abu gelap

  • Merah terlihat kuning kecokelatan, dan hijau terlihat seperti warna krem

Buta warna biru-kuning

Jenis ini juga termasuk buta warna parsial. Penderita kondisi ini mengalami gejala berupa:

  • Biru terlihat kehijauan

  • Sulit membedakan merah muda dengan kuning dan merah

  • Kuning terlihat seperti abu-abu atau ungu terang

Buta warna total

Berbeda dengan kedua tipe di atas, seseorang yang menderita buta warna total kesulitan membedakan semua warna. Bahkan, sekitar 10% dari penderita buta warna total hanya dapat melihat warna putih, abu-abu, dan hitam.

Diagnosis Buta Warna                    

Dokter akan melakukan pemeriksaan buta warna untuk mendiagnosis kondisi tersebut pada pasien. Beberapa jenis tes buta warna yang dapat dilakukan oleh dokter adalah:

Tes Ishihara

Tes Ishihara adalah yang paling sering digunakan. Dalam prosesnya, dokter akan meminta pasien untuk mengenali angka atau huruf yang tertera secara samar pada gambar berupa titik-titik berwarna.

Tes penyusunan warna

Dalam tes penyusunan warna, pasien harus menyusun warna yang berbeda sesuai dengan gradasi tingkat kepekatan warna.

Selain dua tes di atas, dokter dapat melakukan pemeriksaan tambahan untuk mencari tahu penyebab lain buta warna.

Pengobatan Buta Warna

Belum ada metode pengobatan yang dapat mengembalikan kemampuan pasien melihat warna sepenuhnya. Namun, pasien bisa melatih diri agar terbiasa dengan buta warna yang dideritanya.

Bagi orang tua, penting untuk mengenali gejala dan tanda-tanda buta warna pada anak. Tujuannya adalah agar orang tua bisa membantu anak beradaptasi dengan kondisinya sehingga aktivitas belajar atau kesehariannya dapat berjalan normal.

Segala kesulitan yang dialami pasien buta warna dapat dikurangi dengan beberapa upaya, seperti:

  • Berlatih mengingat segala aktivitas yang berkaitan dengan warna, misalnya dengan mengingat posisi warna pada rambu lampu lalu lintas

  • Menggunakan pencahayaan atau lampu yang terang di rumah dan kantor agar membantu memperjelas warna yang ada

  • Menggunakan teknologi pendukung yang tersedia, seperti aplikasi khusus yang dapat mendeteksi dan memberi tahu warna pada suatu objek

  • Menggunakan lensa kontak atau kacamata khusus yang dapat membantu pasien dalam mendeteksi warna tertentu sekaligus mengurangi intensitas cahaya yang dapat mengganggu penglihatan pasien

  • Meminta bantuan kerabat atau keluarga saat mengalami situasi sulit yang berhubungan dengan warna, misalnya ketika mencocokkan warna pakaian atau melihat apakah daging yang dimasak telah matang

Jika buta warna yang dialami pasien merupakan dampak dari penyakit tertentu atau efek samping obat, dokter akan mengatasi penyakit tersebut atau meresepkan obat lain.


Desain-tanpa-judul-70.png
23/Nov/2022

Mata malas adalah gangguan penglihatan pada salah satu mata karena otak dan mata tidak terhubung dengan baik. Akibatnya, daya penglihatan pada salah satu mata akan menurun sedangkan mata lainnya dapat melihat dengan jelas.

Mata malas atau amblyopia terjadi pada anak-anak. Kondisi ini menyebabkan kualitas atau fokus penglihatan yang dihasilkan oleh kedua mata berbeda. Akibatnya, otak hanya akan menerjemahkan sinyal penglihatan dari mata yang baik dan mengabaikan penglihatan dari mata yang mengalami gangguan (mata malas).

Mata malas umumnya terjadi sejak lahir hingga usia 7 tahun. Pada beberapa kasus yang jarang terjadi, penyakit ini dapat menyerang kedua belah mata.

Penyebab Mata Malas

Mata malas terjadi ketika koneksi saraf dari salah satu mata ke otak tidak terbentuk sempurna pada masa kanak-kanak. Akibatnya, mata yang kemampuan penglihatannya buruk akan mengirimkan sinyal visual yang kabur atau keliru ke otak. Seiring waktu, kinerja kedua mata menjadi tidak sinkron dan otak akan mengabaikan sinyal dari mata yang buruk.

Mata malas pada anak dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, yaitu:

1. Mata juling (strabismus)

Mata juling adalah kondisi ketika posisi kedua mata tidak sejajar dan melihat ke arah yang berbeda. Pada kondisi ini, salah satu mata melihat ke depan dan mata yang lain melihat ke atas, bawah, atau samping. Akibatnya, penderita tidak dapat memusatkan pandangan pada satu titik dan sering mengalami penglihatan ganda.

2. Gangguan refraksi

Kondisi ini terjadi akibat adanya perbedaan refraksi pada kedua mata. Akibatnya, mata yang penglihatannya lebih jelas akan lebih dominan digunakan untuk melihat. Contoh gangguan refraksi adalah rabun jauh, rabun dekat, dan astigmatisme.

3. Katarak pada anak

Katarak menyebabkan terjadinya pengapuran pada lensa mata sehingga membuat penglihatan menjadi buram. Jika hanya terjadi pada salah satu mata, kondisi ini bisa memicu terjadinya mata malas pada anak.

4. Gangguan lain di mata

Luka pada kornea atau lapisan transparan di bagian depan mata dapat menyebabkan gangguan penglihatan dan memicu mata malas. Di samping itu, mata malas juga bisa dipicu oleh ptosis atau kelopak mata terkulai.

Faktor risiko mata malas

Selain kondisi-kondisi di atas, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya mata malas, yaitu:

  • Kelahiran prematur

  • Lahir dengan berat badan di bawah normal

  • Faktor keturunan, terutama jika ada riwayat mata malas dalam keluarga

  • Gangguan perkembangan anak

Gejala Mata Malas

Anak-anak mungkin jarang menyadari bila mereka menderita gangguan penglihatan sehingga mata malas sulit dideteksi. Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya mewaspadai gejala dan tanda berikut ini:

  • Mata terlihat tidak bekerja secara bersamaan

  • Salah satu mata sering bergerak ke arah dalam atau luar

  • Anak sulit memperkirakan jarak

  • Anak sering memicingkan mata atau menutup salah satu mata ketika melihat

  • Anak sering memiringkan kepala agar dapat melihat dengan lebih jelas

  • Hasil tes penglihatan yang buruk

Diagnosis Mata Malas

Untuk mendeteksi mata malas pada anak, orang tua dapat melakukan tes secara mandiri di rumah. Pemeriksaan dilakukan dengan menutup salah satu mata anak secara bergiliran dan meminta anak untuk melihat suatu objek.

Umumnya, anak akan mengeluh jika yang ditutupi adalah mata yang baik dan tidak akan mengeluh jika yang ditutupi adalah mata yang malas. Akan tetapi, untuk lebih memastikan diagnosis, orang tua disarankan untuk memeriksakan anak ke dokter.

Pada sebagian besar kasus, dokter bisa mendeteksi mata malas melalui pemeriksaan mata lengkap. Ketika pemeriksaan berlangsung, dokter akan memberikan tetes mata untuk memperlebar pupil dan memeriksa bagian belakang mata.

Metode pemeriksaan untuk mendiagnosis mata malas sesuai dengan usia anak dan tahap perkembangannya. Pada bayi dan balita, dokter akan mendeteksi katarak dengan menggunakan alat pembesar. Dokter juga akan memeriksa kemampuan bayi dan balita dalam melirik dan melihat benda bergerak.

Sementara, pada anak usia 3 tahun ke atas, dokter akan meminta anak melihat gambar atau huruf menggunakan masing-masing mata secara bergantian sambil menutup mata yang lain.

Pengobatan Mata Malas

Umumnya, peluang mata malas untuk sembuh cukup tinggi bila dideteksi dan diatasi sedini mungkin. Sebaliknya, penanganan yang baru diberikan setelah anak berusia di atas 6 tahun memiliki tingkat kesembuhan lebih rendah.

Penanganan mata malas bertujuan untuk mengatasi penyebabnya dan mengajarkan anak untuk membiasakan diri melihat dengan mata yang terkena penyakit ini. Metode pengobatannya akan dilakukan sesuai dengan tingkat keparahan kondisi dan efeknya pada penglihatan anak.

Beberapa metode penanganan mata malas yang akan disarankan oleh dokter adalah:

1. Kacamata

Pemakaian kacamata dapat memperbaiki mata malas yang disebabkan oleh kelainan refraksi, seperti rabun dekat, rabun jauh, dan astigmatisme.

2. Penutup mata

Penanganan mata malas dengan penutup mata paling efektif bagi pasien balita. Terapi ini dilakukan dengan memakaikan alat penutup mata ke mata yang normal. Tujuannya adalah untuk memperbaiki penglihatan pada mata yang malas.

Penutup mata umumnya dipakai selama 2–6 jam per hari. Pada beberapa kasus, terapi ini dapat dikombinasikan dengan penggunaan kacamata.

3. Obat tetes mata khusus

Metode ini menggunakan obat tetes mata khusus yang dapat mengaburkan pandangan pada mata yang normal. Hal ini akan mendorong anak-anak untuk menggunakan mata malas mereka. Namun, obat tetes mata seperti ini dapat memicu efek samping berupa peningkatan sensitivitas terhadap cahaya atau iritasi mata.

4. Operasi

Prosedur ini dianjurkan untuk mengatasi mata malas yang disebabkan oleh katarak atau mata juling. Operasi umumnya dilakukan dengan didahului pemberian bius total. Setelah menjalani operasi, anak harus menjalani pemulihan di rumah sakit.

Pada sebagian besar kasus, mata malas yang ditangani dengan tepat akan sembuh dalam beberapa minggu atau bulan. Namun, pengobatan umumnya perlu dilakukan selama 6 bulan hingga 2 tahun, terutama jika pasien mengalami kekambuhan.

Komplikasi Mata Malas

Jika tidak ditangani, mata malas bisa menyebabkan gangguan pada otot bola mata sehingga perlu dioperasi. Komplikasi lain yang dapat terjadi akibat mata malas adalah kebutaan pada mata yang malas.

Pencegahan Mata Malas

Untuk mencegah mata malas, bawa anak ke dokter untuk menjalani pemeriksaan mata. Pemeriksaan dapat dilakukan secara rutin pada saat anak berusia 6 bulan, 3 tahun, dan pada usia sekolah.

Tujuan pemeriksaan mata adalah untuk memastikan perkembangan penglihatan anak dan mendeteksi sedini mungkin bila anak mengalami gangguan penglihatan. Jika pada saat pemeriksaan dokter mencurigai anak menderita mata malas, penanganan dapat segera dilakukan.


Desain-tanpa-judul-69.png
23/Nov/2022

Surfer’s eye atau pterygium adalah penyakit mata yang ditandai dengan tumbuhnya selaput pada bagian putih bola mata yang bisa mencapai kornea. Kondisi ini dapat terjadi pada salah satu mata saja atau kedua mata sekaligus.

Pterygium atau pterigium dapat diawali dengan munculnya pinguecula yang merupakan noda kekuningan di bagian putih mata. Pinguecula timbul akibat penggumpalan protein, lemak, atau kalsium di dalam mata.

Pterigium bukan sel kanker dan jarang menyebabkan komplikasi berbahaya. Namun, jika terus tumbuh dan menyebar sampai menutupi kornea atau bahkan pupil mata, pterigium dapat mengganggu penglihatan penderitanya.

Penyebab Pterygium

Penyebab pterigium belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini lebih banyak terjadi pada mereka yang sering melakukan aktivitas di luar ruangan. Paparan sinar matahari yang berlebihan menjadi faktor yang paling berisiko menyebabkan pterigium.

Selain itu, mata yang kering diduga bisa menjadi faktor pemicu. Pasir, debu, asap, serta angin juga diduga bisa meningkatkan risiko pterigium. Pterigium juga dapat bermula dari munculnya pinguecula pada mata, terutama yang tumbuh hingga mencapai kornea mata.

Gejala Pterygium

Gejala pterigium ditandai dengan tumbuhnya selaput pada bagian putih (sklera) permukaan bola mata. Selaput ini biasanya tidak menimbulkan keluhan lain, tetapi tetap dapat disertai dengan gejala lain yang mengganggu, antara lain:

  • Mata merah

  • Rasa gatal atau perih di area selaput

  • Sensasi seperti ada yang mengganjal di mata jika selaput pterigium sudah terlalu tebal atau lebar

Pterigium juga dapat menyebabkan penglihatan terganggu saat pertumbuhan sudah mencapai bagian kornea mata, seperti membuat pandangan menjadi samar atau ganda.

Kapan harus ke dokter

Pemeriksaan sebaiknya segera dilakukan saat gejala muncul untuk mencegah pterigium tumbuh makin tebal dan lebar. Jika Anda pernah menderita pterigium, munculnya kembali gejala juga harus diwaspadai.

Pterigium dapat berawal dari pinguecula. Oleh sebab itu, jika muncul gejala pinguecula, lakukan pemeriksaan ke dokter untuk mencegah terjadinya kondisi ini. Gejala tersebut meliputi:

  • Bercak kekuningan di bagian putih mata

  • Mata merah

  • Mata terasa kering, perih, dan gatal

  • Seperti ada pasir pada mata

Diagnosis Pterygium

Pterigium bisa dideteksi oleh dokter melalui gejala utamanya, yaitu tumbuhnya selaput tipis di permukaan bola mata.

Meksi begitu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan yang lebih saksama dengan prosedur slit lamp. Prosedur ini dilakukan menggunakan alat khusus seperti kaca pembesar bercahaya, untuk memeriksa kondisi mata.

Jika dibutuhkan, dokter akan melakukan pemeriksaan yang lebih detail, untuk mengukur kemampuan penglihatan dan memeriksa perubahan lengkungan pada kornea pasien. Pengambilan foto mata pasien juga mungkin dilakukan untuk melihat pertumbuhan pterigium.

Pengobatan Pterygium

Pterigium biasanya tidak membutuhkan penanganan bila tidak menimbulkan keluhan selain munculnya selaput.

Untuk mata merah dan iritasi akibat pterigium, pengobatan cukup dilakukan dengan obat tetes atau salep mata yang mengandung kortikosteroid, atau pelumas untuk meredakan peradangan.

Operasi pterigium dapat dilakukan jika pterigium sudah tidak dapat ditangani dengan obat tetes atau salep mata, atau bila kemampuan penglihatan menjadi menurun. Operasi juga dapat dilakukan untuk alasan estetika atau kecantikan.

Komplikasi Pterygium

Meski jarang terjadi, pterigium dapat tumbuh hingga mencapai kornea dan menyebabkan komplikasi berupa luka pada kornea. Kondisi ini dapat mengakibatkan hilangnya penglihatan jika tidak ditangani.

Selain kondisi pterigium itu sendiri, operasi untuk menangani pterigium juga mungkin menyebabkan beberapa komplikasi berikut:

  • Astigmatisme

  • Pterigium kambuh setelah operasi

  • Mata kering

  • Iritasi

Diskusikan lebih lanjut dengan dokter mengenai manfaat dan risiko operasi pterigium.

Pencegahan Pterygium

Pterigium dapat dicegah dengan memakai kacamata hitam atau topi saat beraktivitas di luar ruangan. Upaya tersebut bertujuan untuk menghindari paparan sinar matahari, asap, atau debu yang dapat memicu pterigium.

Untuk mencegah mata kering, jagalah kelembapan mata dengan menggunakan obat tetes air mata buatan. Penggunaan pelumas mata juga dapat mencegah kambuhnya pterigium.

Selain itu, pemeriksaan mata perlu dilakukan secara rutin ke dokter mata. Hal ini bertujuan untuk mencegah atau mendeteksi lebih dini bila ada penyakit atau gangguan pada mata. Pemeriksaan mata disarankan 1–4 tahun sekali pada  anak-anak atau orang yang berusia 40 tahun ke atas.


22/Nov/2022

MATA JULING

 

Mata juling adalah kondisi ketika posisi kedua mata tidak sejajar dan melihat ke arah yang berbeda. Meski paling sering terjadi pada bayi dan anak-anak, kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja dari semua kelompok usia. Mata juling juga dapat terjadi pada satu atau kedua mata.

Mata juling dalam istilah medis dikenal dengan istilah strabismus. Kondisi ini terjadi akibat adanya gangguan koordinasi pada otot penggerak bola mata. Gangguan tersebut dapat membuat satu mata melihat ke arah depan, sedangkan satu mata lainnya melihat ke atas, bawah, atau samping.

Posisi mata yang tidak sejajar menyebabkan kedua mata tidak mampu fokus ketika melihat objek yang sama. Jika tidak ditangani, mata yang juling dapat menimbulkan sejumlah komplikasi, salah satunya adalah kebutaan.

Jenis mata juling

Berdasarkan pergeseran arah mata, strabismus atau mata juling dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

  • Esotropia, yaitu mata juling yang bergeser ke arah dalam

  • Eksotropia, yaitu mata juling yang bergeser ke arah luar

  • Hipertropia, yaitu mata juling yang bergeser ke atas

  • Hipotropia, yaitu mata juling yang bergeser ke bawah

Penyebab Mata Juling

Mata juling terjadi akibat adanya gangguan pada otot penggerak bola mata. Belum diketahui secara pasti apa penyebab gangguan tersebut. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko tejadinya mata juling pada anak, antara lain:

  • Menderita rabun jauh (mata minus) atau rabun dekat (mata plus)

  • Menderita

    astigmatisme

  • Menderita lumpuh otak (cerebral palsy

  • Mengalami infeksi, seperti campak

  • Memiliki keluarga yang menderita mata juling

  • Menderita kelainan genetik, seperti sindrom Down

  • Menderita

    diabetes

  • Menderita kanker mata

    retinoblastoma

  • Dilahirkan secara prematur

Berbeda dengan anak-anak, faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya mata juling saat dewasa adalah:

  • Botulisme

  • Cedera pada mata atau kepala

  • Stroke atau tumor otak

  • Mata malas (ambliopia)

  • Sindrom Guillain-Barre

  • Diabetes

  • Penyakit Graves

Gejala Mata Juling

Berikut ini adalah gejala-gejala yang dapat dialami oleh penderita mata juling:

  • Mata terlihat tidak sejajar

  • Penglihatan ganda

  • Kemampuan untuk memperkirakan jarak sebuah objek menurun

  • Kedua mata tidak bergerak secara bersamaan

  • Kepala dimiringkan saat melihat sesuatu

  • Sering berkedip atau menyipitkan mata

  • Mata terasa lelah

  • Sakit kepala


Desain-tanpa-judul-68.png
21/Nov/2022

PENGERTIAN GLAUKOMA

Glaukoma merupakan kerusakan pada saraf mata yang menyebabkan gangguan pada penglihatan. Dalam kasus terparah, kondisi ini dapat menyebabkan kebutaan. Umumnya, kondisi ini disebabkan oleh tingginya tekanan pada bola mata. Akibatnya, cairan di mata akan meningkat. Peningkatan tekanan bola mata, yang disebut tekanan intraokular, dapat merusak saraf optik yang mentransmisikan gambar ke otak. Seiring berjalannya waktu, kondisi ini akan semakin parah jika tidak segera mendapat penanganan.

Berdasarkan gangguan yang terjadi pada sistem drainase mata, glaukoma terbagi menjadi beberapa jenis, antara lain:

  • Glaukoma sudut tertutup. Kondisi ini terjadi secara tiba-tiba dan merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan segera. Pada jenis ini, sistem drainase pada mata tertutup sepenuhnya.

  • Glaukoma sudut terbuka. Pada kondisi ini, sistem drainase mata hanya terhambat sebagian karena trabecular meshwork sedang mengalami gangguan. Trabecular meshwork merupakan organ berbentuk jaring yang terletak di sistem drainase pada mata.

GEJALA PENYAKIT GLAUKOMA

Gejala yang timbul tergantung dari jenis glaukoma yang dialami, yaitu:

  • Glaukoma sudut tertutup. Gejala yang muncul biasanya berupa sakit kepala berat, nyeri mata, mual, muntah, penglihatan kabur, adanya lingkaran di sekitar mata ketika sedang melihat cahaya, dan mata merah.

  • Glaukoma sudut terbuka. Kondisi ini awalnya tidak menimbulkan gejala. Namun, biasanya keluhan yang muncul dapat berupa penglihatan yang mengerucut ke depan seperti terowongan. Kamu juga mungkin akan melihat titik kehitaman yang melayang mengikuti gerakan bola mata.

PENYEBAB PENYAKIT GLAUKOMA

Penyebab yang timbul tergantung dari jenis glaukoma yang dialami, yaitu:

  • Glaukoma sudut tertutup. Glaukoma sudut tertutup bisa disebut juga dengan glaukoma sudut sempit atau glaukoma akut. Kondisi ini dapat terjadi karena drainase yang buruk. Selain itu, kondisi ini diakibatkan oleh sudut antara iris dan kornea yang terlalu sempit, serta secara fisik dihalangi oleh iris.

  • Glaukoma sudut terbuka. Glaukoma sudut terbuka bisa disebut juga dengan wide-angle glaucoma, ini merupakan glaukoma yang sering dialami. Dalam kondisi ini, struktur mata tampak normal, tetapi cairan dalam mata tidak mengalir dengan baik melalui saluran mata (saluran trabecular meshwork).

CARA PENGOBATAN GLAUKOMA

Beberapa langkah di bawah ini dapat kamu ambil sebagai langkah pengobatan glaukoma, yaitu:

  • Obat tetes mata untuk pengidap glaukoma. Penggunaan obat tetes mata baik dilakukan untuk mengurangi pembentukan cairan pada mata karena adanya penekanan. Namun, penggunaan obat tetes mata ini mempunyai efek samping kemerahan pada mata, alergi, iritasi mata, dan penglihatan kabur.

  • Operasi. Operasi ini dapat ditempuh ketika kasus-kasus yang terjadi sudah tidak lagi dapat disembuhkan dengan obat-obatan. Operasi yang dilakukan biasanya berlangsung selama 45-75 menit.

  • Laser. Ada dua jenis laser yang dapat dilakukan sebagai langkah pengobatan glaukoma, yaitu trabekuloplasti dan iridotomi. Trabekuloplasti merupakan tindakan yang biasa dilakukan untuk orang yang mengidap glaukoma sudut terbuka. Sedangkan iridotomi merupakan tindakan yang dilakukan untuk pengidap glaukoma sudut tertutup.


Desain-tanpa-judul-71.png
18/Nov/2022

Buta warna adalah kondisi mata yang tidak mampu mata melihat warna secara normalPenderita penyakit ini sulit membedakan warna tertentu (buta warna parsial) atau bahkan seluruh warna (buta warna total).

Buta warna adalah penyakit yang umumnya didapat sejak lahir. Kondisi ini lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita.

Buta warna merupakan penyakit seumur hidup. Agar penderita dapat beradaptasi dengan kondisi ini, dokter akan memberikan penanganan sesuai dengan jenis buta warna yang diderita.

Penyebab Buta Warna

Mata memiliki sel-sel saraf khusus yang bereaksi terhadap warna dan cahaya. Selain mendeteksi terang dan gelap, sel ini juga berfungsi untuk mendeteksi tiga pigmen warna, yakni merah, hijau, dan biru. Selanjutnya, otak akan menentukan persepsi warna dari apa yang ditangkap oleh sel dalam mata tersebut.

Pada penderita buta warna, sel yang mendeteksi pigmen warna rusak atau tidak berfungsi. Akibatnya, mata tidak dapat mendeteksi warna-warna tertentu atau bahkan seluruh warna.

Penyebab buta warna terbagi menjadi tiga, yakni sebagai berikut:

1. Diturunkan

Pada sebagian besar kasus, buta warna diturunkan dari orang tua ke anak. Buta warna turunan umumnya memengaruhi kedua mata. Tingkat keparahan buta warna pada penyakit turunan bisa ringan, sedang, hingga berat, dengan derajat keparahan yang tidak akan berubah hingga akhir hidup penderitanya.

2. Didapatkan

Selain keturunan, faktor-faktor berikut dapat menyebabkan seseorang terkena buta warna di kemudian hari:

  • Penyakit tertentu yang bisa menurunkan kemampuan melihat warna, seperti anemia sel sabit, diabetes, degenerasi makula, penyakit Alzheimer,

    multiple sclerosis, glaukoma, penyakit Parkinson, leukemia, atau kecanduan alkohol

  • Efek samping obat, seperti digoxin, ethambutol, phenytoin, sildenafil, dan hydroxychloroquine

  • Paparan zat kimia, misalnya

    carbon disulfide yang digunakan dalam industri rayon, atau styrene yang dimanfaatkan dalam industri plastik dan karet

  • Cedera mata, misalnya akibat kecelakaan atau benturan

3. Penuaan

Usia juga dapat menjadi penyebab seseorang menderita buta warna. Seiring usia bertambah, kemampuan mata dalam menangkap cahaya dan warna akan menurun sehingga dapat menimbulkan kesulitan dalam membedakan warna. Kondisi ini akan lebih buruk pada seseorang yang menderita penyakit katarak.

Gejala dan Jenis Buta Warna

Buta warna ditandai dengan kesulitan membedakan warna tertentu (buta warna parsial), atau bahkan seluruh warna (buta warna total). Tanda-tanda seseorang menderita buta warna antara lain:

  • Sulit mengikuti pelajaran di sekolah yang berhubungan dengan warna

  • Sulit membedakan warna lampu lalu lintas

  • Sulit membedakan warna obat

  • Sulit membedakan warna buah yang mentah dengan yang sudah matang, atau menentukan tingkat kematangan makanan yang sedang dimasak

Gejala buta warna pada tiap pasien dapat berbeda, tergantung sel pigmen yang rusak atau tidak berfungsi. Gejala ini terbagi menjadi tiga tipe, yakni merah-hijau, biru-kuning, dan total. Berikut ini adalah penjelasannya:

Buta warna merah-hijau

Beberapa gejala yang dapat dialami oleh penderita buta warna merah-hijau, yaitu:

  • Kuning dan hijau terlihat kemerahan

  • Oranye, merah, dan kuning terlihat seperti kehijauan

  • Merah terlihat seperti abu-abu gelap

  • Merah terlihat kuning kecokelatan, dan hijau terlihat seperti warna krem

Buta warna biru-kuning

Jenis ini juga termasuk buta warna parsial. Penderita kondisi ini mengalami gejala berupa:

  • Biru terlihat kehijauan

  • Sulit membedakan merah muda dengan kuning dan merah

  • Kuning terlihat seperti abu-abu atau ungu terang

Buta warna total

Berbeda dengan kedua tipe di atas, seseorang yang menderita buta warna total kesulitan membedakan semua warna. Bahkan, sekitar 10% dari penderita buta warna total hanya dapat melihat warna putih, abu-abu, dan hitam.

Diagnosis Buta Warna                    

Dokter akan melakukan pemeriksaan buta warna untuk mendiagnosis kondisi tersebut pada pasien. Beberapa jenis tes buta warna yang dapat dilakukan oleh dokter adalah:

Tes Ishihara

Tes Ishihara adalah yang paling sering digunakan. Dalam prosesnya, dokter akan meminta pasien untuk mengenali angka atau huruf yang tertera secara samar pada gambar berupa titik-titik berwarna.

Tes penyusunan warna

Dalam tes penyusunan warna, pasien harus menyusun warna yang berbeda sesuai dengan gradasi tingkat kepekatan warna.

Selain dua tes di atas, dokter dapat melakukan pemeriksaan tambahan untuk mencari tahu penyebab lain buta warna.

Pengobatan Buta Warna

Belum ada metode pengobatan yang dapat mengembalikan kemampuan pasien melihat warna sepenuhnya. Namun, pasien bisa melatih diri agar terbiasa dengan buta warna yang dideritanya.

Bagi orang tua, penting untuk mengenali gejala dan tanda-tanda buta warna pada anak. Tujuannya adalah agar orang tua bisa membantu anak beradaptasi dengan kondisinya sehingga aktivitas belajar atau kesehariannya dapat berjalan normal.

Segala kesulitan yang dialami pasien buta warna dapat dikurangi dengan beberapa upaya, seperti:

  • Berlatih mengingat segala aktivitas yang berkaitan dengan warna, misalnya dengan mengingat posisi warna pada rambu lampu lalu lintas

  • Menggunakan pencahayaan atau lampu yang terang di rumah dan kantor agar membantu memperjelas warna yang ada

  • Menggunakan teknologi pendukung yang tersedia, seperti aplikasi khusus yang dapat mendeteksi dan memberi tahu warna pada suatu objek

  • Menggunakan lensa kontak atau kacamata khusus yang dapat membantu pasien dalam mendeteksi warna tertentu sekaligus mengurangi intensitas cahaya yang dapat mengganggu penglihatan pasien

  • Meminta bantuan kerabat atau keluarga saat mengalami situasi sulit yang berhubungan dengan warna, misalnya ketika mencocokkan warna pakaian atau melihat apakah daging yang dimasak telah matang

Jika buta warna yang dialami pasien merupakan dampak dari penyakit tertentu atau efek samping obat, dokter akan mengatasi penyakit tersebut atau meresepkan obat lain.


Desain-tanpa-judul-47.png
01/Nov/2022

Cara Mengatasi Iritasi Mata
Iritasi mata dapat cepat pulih bila Anda memahami cara untuk mengatasinya. Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi iritasi mata:

1. Cari tahu jenis iritasi yang dialami

Gejala iritasi mata akibat konjungtivitis kurang lebih sama, yaitu mata merah, berair, dan gatal. Akan tetapi, penyebab pasti konjungtivitis bisa berbeda tergantung jenis dan faktor pemicunya.
Konjungtivitis dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti alergi, iritasi terhadap zat kimia, atau infeksi virus dan bakteri. Konjungtivitis yang disebabkan oleh virus biasanya akan pulih dengan sendirinya dalam 1–2 minggu.
Namun, jika disebabkan oleh bakteri, penanganan dengan pemberian antibiotik perlu dilakukan, baik dalam bentuk salep, obat minum, atau obat tetes mata. Kondisi ini terkadang juga disertai dengan keluarnya lendir atau kotoran berupa nanah dari sudut mata yang terinfeksi.
Berbeda dengan konjungtivitis yang disebabkan oleh bakteri, konjungtivitis alergi kerap terjadi pada kedua mata. Gejala yang umum terjadi berupa mata gatal, berair, dan bengkak. Pemberian obat tetes mata umumnya bisa meringankan gejala tersebut.

2. Bersihkan cairan yang keluar dari mata secara rutin

Cuci tangan sebelum membersihkan mata dan gunakan lap atau tisu yang berbeda untuk masing-masing mata. Segera cuci tangan kembali dan buang tisu setelah selesai digunakan. Tindakan ini penting dilakukan untuk mencegah penularan ke orang lain.

3. Gunakan kompres untuk meredakan iritasi

Rendam kain lembut di dalam air hangat atau dingin, lalu peras dan tekan secara perlahan pada mata yang terinfeksi. Segera ganti lap sebelum beralih ke mata yang lain untuk menjaga mata dari risiko penularan.

4. Gunakan obat tetes mata

Berbagai obat tetes mata kini telah dijual bebas di apotek. Meski demikian, penggunaannya tidak boleh sembarangan dan harus disesuaikan dengan penyebab terjadinya iritasi mata. Misalnya, iritasi mata yang disebabkan oleh bakteri dapat diredakan dengan tetes mata antibiotik.
Sementara itu, jika iritasi mata disebabkan oleh alergi, Anda bisa mengatasinya dengan obat tetes mata kortikosteroid atau antihistamin. Salep antibiotik juga dapat digunakan sebagai alternatif obat tetes mata.
Selain salep, Anda juga bisa menggunakan air mata buatan atau artificial tears untuk mengatasi keluhan iritasi mata seperti mata gatal dan kering. Namun, penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter.
Oleh karena itu, ada baiknya bila Anda berkonsultasi lebih dulu dengan dokter sebelum menggunakan obat tetes mata. Pastikan juga Anda sudah mengetahui cara penggunaannya yang tepat agar manfaat yang diperoleh dapat maksimal.
Cara Mencegah Penularan Iritasi Mata
Iritasi mata akibat virus dan bakteri dapat menular dengan cepat. Penderita yang sudah sembuh bahkan dapat terinfeksi kembali bila virus atau bakteri menyebar ke anggota keluarga yang tinggal serumah.
Oleh karena itu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penularannya, seperti:Perbanyak istirahat dan jauhi berbagai aktivitas.
.Hindari pusat keramaian.
1.Hindari menyentuh mata secara langsung.
2.Hindari penggunaan kosmetik dan lensa kontak untuk sementara waktu.
3.Hindari berbagi pakai peralatan pribadi, seperti bantal dan handuk, dengan orang lain.

Desain-tanpa-judul-29.png
27/Oct/2022

6 CARA AMPUH UNTUK MENGATASI MATA BENGKAK

 

Ketahui bahwa mengatasi mata bengkak tidak bisa instan. Meski cara-cara di bawah ini dinilai ampuh, mata tetap butuh waktu untuk kembali ke kondisi semula. Berikut cara-cara yang bisa kamu coba untuk atasi mata bengkak:

1. Cukupi kebutuhan cairan

Mata bengkak nyatanya juga bisa disebabkan dehidrasi. Oleh sebab itu, pastikan kamu memenuhi kebutuhan cairan dengan minum air putih setidaknya 8 gelas sehari. Jika kamu sering lupa, kamu bisa membuat pengingat di handphone kamu atau gunakan botol berukuran besar untuk dihabiskan dalam sehari.

2. Kompres air dingin

Meletakkan waslap dingin di kelopak mata selama sekitar 10 menit juga bisa meredakan mata bengkak. Suhu dingin dapat membantu mengalirkan kelebihan cairan dari bawah mata. Siapkan batu es yang dibalut dengan waslap untuk mengompres mata. Hindari meletakkan batu es langsung ke kulit yang bisa merusak kulit.

3. Kantung teh

Kompres kantong teh hijau juga bisa membantu mengatasi mata bengkak. Teh mengandung antioksidan dan kafein yang dapat mengurangi peradangan dan menyempitkan pembuluh darah.

4. Krim mata

Ada banyak krim mata yang dijual di pasaran untuk meredakan bengkak. Beberapa bahan yang perlu dicari dalam krim mata termasuk chamomile, mentimun, dan arnica. Bahan-bahan tersebut mengandung sifat yang dapat mengurangi peradangan dan mengencangkan kulit.

5. Basuh mata dengan lembut

Setelah kompres, gunakan kapas atau waslap untuk membersihkan kelopak mata dengan lembut menggunakan sabun bayi. Pastikan untuk membilas area mata sampai sabun benar-benar hilang. Kamu juga dapat menggunakan larutan garam untuk membilas area mata jika ada kotoran atau kerak di sekitar mata.

6. Tetes mata

Kamu juga bisa memakai tetes mata dijual bebas agar mata tetap lembab dan nyaman. Tetes antihistamin dapat membantu mengatasi alergi dan dapat membantu jika kelopak mata bengkak karena alergen.



Our Vision


No person with a blinding condition, eye disease, or visual impairment should be without hope, understanding, and treatment.


Contact Us


Hubungi Kami

(031) 8495502, (031) 8433050
082143717979 ( WA only)


Kunjungi Kami

Jalan Raya Jemursari No. 108,
Surabaya, Indonesia


Email Kami

admin@surabayaeyeclinic.id



Lokasi Kami



Media Sosial


Instagram


facebook


Twitter


Youtube




CopyRight, 2024 | Managed by Markbro




WeCreativez WhatsApp Support
Tim CS Kami Siap Membantu Anda. Silahkan Tanya Kami!